Dari krisis Suez 1957 hingga dentuman meriam di perbatasan Lebanon baru-baru ini, Indonesia tak pernah absen mengirimkan putra-putri terbaiknya sebagai perisai kemanusiaan.
WWW.JERNIH.CO – Sejak fajar kemerdekaannya, bangsa ini telah menegaskan komitmennya untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial, sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945.
Komitmen ini dimanifestasikan secara konkret melalui pengiriman Pasukan Garuda atau Garuda Contingent ke berbagai wilayah konflik di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Keterlibatan ini bukan hanya soal diplomasi militer, melainkan bukti konsistensi Indonesia sebagai negara yang cinta damai namun tetap siap menjaga stabilitas internasional.
Langkah pertama Indonesia di panggung perdamaian dunia dimulai pada 8 Januari 1957 ketika pemerintah mengirimkan Kontingen Garuda I (KONGA I) yang terdiri dari 559 personel ke Mesir. Pengiriman ini merupakan respons atas krisis Terusan Suez, di mana pasukan internasional dibutuhkan untuk memantau gencatan senjata melalui misi UNEF (United Nations Emergency Force).
Keberhasilan misi pertama ini menjadi batu pijakan bagi kepercayaan PBB terhadap profesionalisme prajurit TNI, yang kemudian membuka pintu bagi ratusan misi selanjutnya di berbagai belahan bumi, mulai dari Kongo pada dekade 1960-an hingga konflik berdarah di Kamboja pada era 1990-an.
Memasuki era milenium hingga tahun 2026 ini, kontribusi Indonesia semakin masif dengan menempati posisi 10 besar negara kontributor pasukan perdamaian terbanyak di dunia. Prajurit terbaik TNI dan Polri kini tersebar di berbagai misi berisiko tinggi, seperti UNIFIL di Lebanon yang merupakan misi terbesar Indonesia, hingga MINUSMA di Mali yang penuh ancaman asimetris.
Kehadiran mereka di wilayah-wilayah seperti Republik Afrika Tengah dan Republik Demokratik Kongo membuktikan bahwa Indonesia memiliki peran sentral dalam upaya perlindungan warga sipil dan penanganan pemberontakan bersenjata di level internasional.
Namun, menjaga perdamaian bukanlah tugas tanpa risiko, karena ada harga mahal yang harus dibayar berupa nyawa para prajurit. Medan tugas yang ekstrem, wabah penyakit endemik, kecelakaan transportasi, hingga serangan langsung dari faksi bertikai menjadi tantangan nyata di lapangan.
Berdasarkan data akumulatif dari PMPP TNI dan catatan resmi PBB, tercatat sedikitnya lebih dari 40 prajurit Indonesia yang telah gugur dalam menjalankan tugas mulia ini. Salah satu kehilangan yang mendalam adalah gugurnya Mayor (Anumerta) Rama Wahyudi di Kongo pada tahun 2020 akibat serangan pemberontak, yang mengingatkan kita bahwa setiap medali Dag Hammarskjöld yang diterima adalah simbol pengorbanan tertinggi demi kemanusiaan.
Keterlibatan berkelanjutan ini membawa dampak ganda, baik bagi profesionalisme prajurit maupun citra bangsa di mata dunia. Pasukan Garuda dikenal unik karena pendekatan humanis atau Civil-Military Coordination (CIMIC) yang mengedepankan kearifan lokal, sehingga kehadiran mereka lebih mudah diterima oleh masyarakat setempat.
Dengan terus meningkatkan jumlah Peacekeepers perempuan yang efektif dalam merangkul korban konflik wanita dan anak-anak, Indonesia terus membuktikan bahwa perdamaian adalah tanggung jawab bersama yang layak diperjuangkan, melampaui batas wilayah dan jarak ribuan kilometer dari tanah air.(*)
BACA JUGA:Satu Prajurit TNI yang Tergabung UNIFIL Tewas Kena Bom Israel
