Site icon Jernih.co

Gaza akan Gelar Pemilu Pertama dalam Lebih dari 20 Tahun di Tengah Serangan Israel

Kawasan Deir al-Balah Gaza (Foto: Getty)

JERNIH – Pemilihan umum pertama di Gaza dalam lebih dari dua dekade akan berlangsung di Deir al-Balah di tengah serangan Israel yang terus berlanjut. Serangan pesawat tak berawak terbaru menewaskan lima warga Palestina, termasuk tiga anak-anak, meskipun gencatan senjata telah tercapai Oktober tahun lalu.

Pemungutan suara di pusat kota Gaza dijadwalkan digelar pada hari Sabtu (25/4/2026), bersamaan dengan pemilihan kota di seluruh Tepi Barat yang diduduki. Dipandang secara luas oleh warga Palestina sebagai simbol persatuan nasional dalam menghadapi proposal kontroversial AS  untuk Gaza yang diyakini banyak orang akan memperdalam pemisahannya dari Tepi Barat, pemungutan suara ini akan menandai pemilihan umum pertama di Gaza sejak tahun 2006.

Ini juga akan menjadi pemilihan lokal pertama yang diadakan di wilayah tersebut dalam 22 tahun. Pemilihan ini merupakan bagian dari pemungutan suara kotamadya yang lebih luas mencakup 420 badan pemerintahan lokal di Tepi Barat yang diduduki.

Empat peserta, semuanya terdaftar sebagai independen, bersaing dalam pemilihan Deir al-Balah yakni Perdamaian dan Pembangunan, Deir al-Balah Menyatukan Kita, Masa Depan Deir al-Balah, dan Kebangkitan Deir al-Balah. Setiap peserta mencakup 15 kandidat, dengan setidaknya empat perempuan.

Pada tahun 2006, Hamas memenangkan pemilihan legislatif Otoritas Palestina dan kemudian mengambil alih kendali Gaza setelah konflik sipil singkat dengan gerakan Fatah pimpinan Presiden Mahmoud Abbas, yang tetap dominan di Tepi Barat.

Dari 2005 hingga 2023, Hamas menunjuk anggota untuk dewan lokal dan kotamadya di seluruh Gaza alih-alih mengadakan pemilihan. Dekrit yang dikeluarkan Abbas menetapkan Deir al-Balah sebagai satu-satunya lokasi pemungutan suara di Gaza, dengan alasan kerusakan relatif lebih ringan dibandingkan dengan daerah-daerah lain yang hancur di wilayah tersebut dan infrastruktur yang tersisa lebih banyak.

Meskipun Deir al-Balah juga mengalami kehancuran besar selama perang Israel, wilayah ini tidak secara langsung dikuasai pasukan darat Israel seperti wilayah lainnya. Israel sebelumnya mengklasifikasikannya sebagai “zona aman”, meskipun pasukan Israel menghancurkan kantor pusat pemerintah kota pada akhir tahun 2024 dan menewaskan walikota saat itu, Diab al-Jarou, dan beberapa pegawai saat mereka menjalankan tugas sipil.

Pemungutan suara akan berlangsung di 12 pusat pemungutan suara terdiri dari 11 TPS, termasuk area terbuka yang dilengkapi tenda, karena banyak sekolah terus berfungsi sebagai tempat penampungan bagi warga mengungsi. Tempat pemungutan suara akan dibuka mulai pukul 7 pagi hingga 5 sore waktu setempat.

Fareed Taamallah, juru bicara Komisi Pemilihan Pusat Palestina, mengatakan sekitar 70.000 warga Palestina berhak memilih di Deir al-Balah. Angka tersebut tidak termasuk banyak pengungsi yang saat ini berlindung di kota itu, karena hanya penduduk asli yang terdaftar yang dapat memberikan suara.

Komisi tersebut telah mengakreditasi ratusan pengamat dari badan-badan lokal dan internasional, serta puluhan jurnalis dan sekitar 675 staf pemilu untuk mengawasi proses pemungutan suara.

Para pejabat mengatakan pemungutan suara ini dimaksudkan tidak hanya untuk memulihkan pemerintahan lokal dan meningkatkan layanan, tetapi juga untuk membantu mengamankan pendanaan internasional dan menunjukkan bahwa lembaga-lembaga demokrasi tetap mungkin ada meskipun terjadi perang.

Beberapa analis Palestina mengatakan bahwa langkah ini juga merupakan upaya Otoritas Palestina untuk menegaskan kembali pengaruhnya di Gaza, melawan Hamas, dan mengirim pesan kepada komunitas internasional bahwa Gaza tetap terikat secara politik dengan Tepi Barat di bawah satu kerangka kerja Palestina. Komisi tersebut mengatakan bahwa jika pemilu di Deir al-Balah berhasil, hal itu dapat membuka jalan bagi pemilihan serupa di tempat lain di Gaza.

Terlepas dari gencatan senjata, lebih dari 72.000 warga Palestina telah tewas dan 172.000 terluka sejak perang dimulai pada 7 Oktober 2023, sementara sekitar 90 persen infrastruktur sipil telah hancur. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sejak gencatan senjata yang rapuh pada Oktober lalu, 786 warga Palestina telah tewas dan 2.217 terluka.

Exit mobile version