JERNIH — Situasi kemanusiaan di Jalur Gaza dilaporkan kian merosot tajam akibat agresi militer Israel yang terus berlanjut tanpa henti. Ironisnya, pertumpahan darah dan krisis kemanusiaan ini terjadi di tengah kesepakatan gencatan senjata yang seharusnya melindungi warga sipil. Kelangkaan pasokan kebutuhan pokok kini semakin mencekik, sementara layanan kesehatan esensial berada di ambang kehancuran total.
Laporan terbaru dari koresponden Al Mayadeen di Gaza mengonfirmasi bahwa tiga warga Palestina, termasuk seorang anak-anak, tewas dalam serangan udara Israel yang menghantam Jalan al-Baraka di wilayah Deir al-Balah, Gaza Tengah.
Dalam pembaruan data statistik hariannya, Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan situasi memilukan yang terjadi dalam 24 jam terakhir. Korban baru terdapat empat warga Palestina dinyatakan tewas dan 8 lainnya luka-luka akibat agresi Israel di sejumlah titik. Banyak korban dilaporkan masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan atau tergeletak di tengah jalan. Tim penyelamat dan ambulans sama sekali tidak bisa menjangkau mereka karena blokade dan ancaman serangan susulan.
Sejak kesepakatan “gencatan senjata” resmi berlaku pada 11 Oktober lalu, klaim perdamaian tersebut nyatanya hanya menjadi pepesan kosong. Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 1.045 warga Palestina tewas dan 3.380 lainnya luka-luka hanya dalam periode gencatan senjata ini, di samping temuan 786 jenazah korban yang baru berhasil dievakuasi.
Secara akumulatif, sejak genosida pecah pada 7 Oktober 2023, angka kematian di Gaza telah menyentuh angka yang mengerikan: 73.058 orang tewas dan 173.488 orang terluka.
Raport Merah Pelanggaran Gencatan Senjata
Kantor Media Pemerintah di Gaza merilis data resmi mengenai kebrutalan sistematis yang dilakukan militer Israel selama periode gencatan senjata. Selama 260 hari sejak kesepakatan damai ditandatangani, Israel tercatat telah melakukan 3.465 kali pelanggaran gencatan senjata. Tidak hanya melakukan penyerangan, otoritas Israel juga menahan 113 warga Palestina dalam kurun waktu tersebut.
Macetnya pasokan bantuan kemanusiaan dan pembatasan ruang gerak warga sipil juga terlihat jelas dari angka realisasi berikut:
| Sektor Pelayanan | Target / Rencana Awal | Realisasi Lapangan | Persentase |
| Truk Bantuan Kemanusiaan | 156.000 Truk | 55.539 Truk | ~36% |
| Lintasan Penumpang (Gerbang Rafah) | 21.800 Orang | 8.016 Orang | ~36% |
Melihat minimnya realisasi tersebut, Kantor Media Pemerintah Gaza menuduh Israel secara sengaja dan sistematis menyabotase poin-poin perjanjian. Mereka mendesak para negara mediator dan penjamin internasional untuk segera turun tangan memaksa Israel mematuhi komitmen kesepakatan.
Kondisi di dalam rumah sakit di Gaza kini berada pada titik paling kritis. Otoritas kesehatan setempat mengeluarkan peringatan darurat bahwa sekitar 50 persen mesin dialisis (cuci darah) di seluruh Gaza telah berhenti beroperasi total.
Hancurnya fasilitas ini disebabkan oleh kelangkaan akut muatan suku cadang dan pasokan medis dasar akibat blokade bantuan yang ketat. Kondisi ini langsung memicu kekhawatiran besar atas keselamatan nyawa ribuan pasien gagal ginjal di Gaza yang kini terancam mengalami kematian massal jika bantuan tidak segera tiba.
