JERNIH — Harapan warga Palestina di Jalur Gaza untuk mendapatkan kedamaian lewat kesepakatan gencatan senjata kembali buyar. Angkatan Udara Israel melancarkan serangan udara baru di wilayah Al-Mawasi, Khan Younis, yang menghanguskan sedikitnya 200 tenda pengungsian dan membuat ribuan warga sipil kembali kehilangan tempat bernaung.
Padahal, wilayah Al-Mawasi selama ini diklaim sebagai zona aman tempat berkumpulnya jutaan warga yang telah mengungsi berkali-kali sejak perang pecah pada Oktober 2023.
Serangan brutal ini terjadi pada Senin (29/6/2026) malam waktu setempat. Para saksi mata mengungkapkan bahwa militer Israel hanya memberikan waktu kurang dari 10 menit bagi para pengungsi untuk mengosongkan area sebelum jet tempur mulai menjatuhkan bom di lahan pertanian sekitar perkemahan.
“Kami sedang duduk di dalam tenda untuk makan malam ketika perintah evakuasi itu tiba. Kami sangat terkejut karena ini adalah lahan pertanian yang hanya dihuni oleh para pengungsi,” ujar Abu Mohammed al-Aqqad, seorang pengungsi yang sebelumnya kabur dari Rafah. “Kami langsung berlari. Setelah kami menjauh sekitar 200 meter, bom-bom itu mulai berjatuhan.”
Saat fajar menyingsing, pemandangan pilu terlihat di kamp tersebut. Kompleks pengungsian telah berubah menjadi hamparan abu, rangka besi tenda yang menghitam, serta barang-barang rumah tangga yang hangus. Para penyintas tampak mengais puing-puing, mencoba mencari dokumen identitas, pakaian, atau sisa makanan yang mungkin masih bisa diselamatkan.
Juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Bassal, mengonfirmasi bahwa serangan rudal Israel memicu kebakaran hebat yang dengan cepat melumat habis lebih dari 200 tenda. Faktor-faktor di lapangan memperparah situasi seperti tenda darurat yang dibangun secara mandiri oleh warga hanya terbuat dari kain, lembaran plastik, dan bahan lain yang sangat mudah terbakar.
Petugas pemadam kebakaran juga menghadapi kesulitan luar biasa untuk menjinakkan api karena serangan Israel yang terus berlangsung di sekitar lokasi serta minimnya armada dan peralatan penyelamatan akibat blokade. Ratusan keluarga kini terpaksa telantar tanpa perlindungan di tengah keterbatasan pasokan tenda baru dan bantuan kemanusiaan global yang dihambat masuk oleh Israel.
Tragedi Ibu dan Bayi 1 Tahun Tewas
Kebrutalan serangan tidak berhenti di situ. Di titik lain di Kota Khan Younis, sebuah pesawat tanpa awak (drone) militer Israel menembakkan rudal ke arah kerumunan tenda darurat.
Serangan presisi tersebut menewaskan seorang ibu muda bernama Diana Mohammed Salem Abu Daraz (23 tahun) dan anak perempuannya yang masih bayi, Suwar Thaer Abu Daraz (1 tahun). Selain korban tewas, tim medis lokal melaporkan sejumlah warga Palestina lainnya mengalami luka-luka akibat serpihan ledakan.
Sembari serangan udara berlangsung, artileri darat Israel dilaporkan terus membombardir wilayah barat laut Rafah, sementara pasukan infanteri melepaskan tembakan di timur Khan Younis serta merubuhkan sejumlah bangunan tempat tinggal di timur laut kota.
Ironisnya, eskalasi serangan ini terjadi tepat ketika perwakilan diplomatik tengah berupaya merajut gencatan senjata permanen. Pada hari Selasa, delegasi Hamas yang dipimpin oleh pejabat senior wilayah Tepi Barat, Zaher Jabarin, mendarat di Kairo untuk memenuhi undangan para mediator dari Mesir.
Taher al-Nunu, penasihat media untuk kepala biro politik Hamas, menyatakan bahwa pertemuan tersebut berfokus pada upaya menghentikan pembunuhan harian oleh Israel serta memastikan masuknya bantuan kemanusiaan dan material rekonstruksi untuk rumah sakit serta infrastruktur yang hancur.
Hamas mengklaim tetap berkomitmen penuh pada implementasi fase kedua perjanjian, yang mencakup penarikan mundur total seluruh pasukan Israel dari Jalur Gaza. Namun, di lapangan, militer Israel terus memperluas operasi tempurnya, mengabaikan seruan internasional, dan menambah daftar panjang korban jiwa yang menurut Kementerian Kesehatan Gaza kini telah menembus 73.000 korban tewas sejak awal konflik.
