JERNIH – Denominasi Kristen Presbiterian terbesar di Amerika Serikat, Presbyterian Church (USA) atau PCUSA, mengambil langkah politik yang sangat berani. Melalui sidang umum lembaganya, mereka secara resmi memungut suara untuk mengakui aksi militer Israel di Gaza sebagai sebuah bentuk genosida.
Tidak sekadar mengecam lewat kata-kata, gereja yang memiliki basis jemaat sangat besar dan tersebar di seluruh penjuru AS ini juga memutuskan untuk menjatuhkan embargo senjata, melakukan boikot terhadap produk-produk Israel, serta menarik seluruh dana investasi (divestment) dari perusahaan-perusahaan teknologi dan militer kakap yang menyokong perang tersebut.
Keputusan bersejarah ini diambil lewat pemungutan suara yang berakhir dengan kemenangan mutlak. Resolusi untuk mengidentifikasi perang di Gaza sebagai genosida, mendesak Kongres AS agar menghentikan pasokan senjata ke Israel, serta mengajak jemaat memboikot produk pro-perang, disahkan dengan hasil akhir 454 setuju berbanding 15 menolak.
“Hasil pemungutan suara yang luar biasa besar minggu ini menjadi sinyal adanya pergeseran masif pada opini publik masyarakat Amerika terkait Palestina,” ujar Bob Ross, anggota Komite Pengarah Jaringan Keadilan Palestina (Palestine Justice Network/PJN) di dalam internal Gereja Presbiterian.
Ross menambahkan bahwa jemaat Presbiterian di AS memiliki latar belakang politik dan geografis yang sangat beragam. Oleh karena itu, ketika Sidang Umum mampu berbicara dengan satu suara yang kompak melawan genosida, hal ini menjadi pesan yang sangat kuat bagi pergerakan kemerdekaan Palestina.
Selain itu, sidang ini juga melahirkan kesepakatan bulat (447-21) untuk mendukung dokumen Kairos Palestine II yang dirilis oleh komunitas Kristen di Palestina pada November 2025 lalu, yang menyerukan peningkatan gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS) secara internasional.
Depak Palantir dan GE Aerospace
Langkah konkret yang paling disorot dari keputusan PCUSA ini adalah penarikan dana investasi secara penuh dari dua raksasa korporasi Amerika, yaitu Palantir Technologies dan GE Aerospace.
Kedua perusahaan ini didepak karena dinilai terlibat langsung dalam pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di berbagai belahan dunia, termasuk Palestina, Yaman, Arab Saudi, Mesir, India, hingga di dalam negeri AS sendiri.
GE Aerospace kedapatan memproduksi mesin-mesin untuk jet tempur dan helikopter yang digunakan oleh militer Israel untuk membombardir jalur Gaza. Mesin buatan mereka juga digunakan oleh Angkatan Udara Kerajaan Arab Saudi dalam perang di Yaman.
Sementara Palantir Technologies disorot karena membantu militer Israel mengoperasikan sistem data untuk menentukan target serangan di Gaza. Di dalam negeri AS, Palantir juga dikecam karena bekerja sama dengan badan imigrasi US Immigration and Customs Enforcement (ICE) untuk memburu dan mendeportasi para migran.
“Gereja Presbiterian minggu ini dengan berani memilih untuk berdiri bersama saudara-saudara kita di Palestina dan menarik dana dari dua perusahaan yang secara kasar memfasilitasi genosida di Gaza serta menolak mengubah perilaku mereka,” tegas Pendeta Ron Shive, salah satu moderator di PJN.
Aksi boikot dan divestasi ekonomi ini dinilai sebagai taktik jangka panjang yang ampuh. Menurut Bob Ross, jika langkah serupa diambil oleh banyak institusi besar dunia secara masif, tekanan ekonomi tersebut perlahan akan melemahkan posisi Israel hingga mereka tidak punya pilihan lain selain menghentikan pendudukan, apartheid, dan genosida.
Bagi dunia internasional, PCUSA memang dikenal sebagai pionir dalam gerakan kemanusiaan dari dalam rahim Amerika Serikat. Mereka tercatat sebagai institusi besar pertama di dunia yang berani menarik investasinya dari perusahaan-perusahaan yang mengeruk keuntungan dari pendudukan tanah Palestina.
Sebelumnya, PCUSA sudah mendepak perusahaan global seperti HP, Motorola, dan Caterpillar pada tahun 2014, menarik diri dari obligasi Israel pada tahun 2024, serta secara resmi menyatakan Israel sebagai negara apartheid pada tahun 2022 lalu.
