JERNIH – Eskalasi militer antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas hingga ke titik nadir. Teheran melayangkan ancaman balasan (retaliation) yang sangat spesifik kepada negara-negara tetangganya di kawasan Teluk yakni memadamkan total arus listrik (blackout) di seluruh region apabila AS atau Israel nekat memobilisasi serangan udara ke fasilitas infrastruktur sipil dan pembangkit listrik Iran.
Dua pejabat tinggi kawasan mengonfirmasi kepada AFP bahwa ancaman tersebut dikirimkan melalui saluran perantara resmi, lengkap dengan daftar panjang target vital yang siap dihantam rudal Iran secara presisi.
Ancaman keras Teheran ini mencuat tepat setelah Presiden AS Donald Trump mewacanakan opsi serangan militer skala besar yang ia sebut sebagai “serangan terbesar sejak Perang Dunia II”. Media AS melaporkan bahwa sasaran utama dari rencana operasi tersebut adalah jaringan energi dan infrastruktur vital Iran.
Namun, Trump mendadak membatalkan rencana eksekusi militer tersebut pada akhir pekan lalu. Ia bergeming setelah menerima desakan diplomatik dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), serta Qatar, yang khawatir kawasan mereka terseret dalam kehancuran ekonomi dan energi.
“Iran mengancam akan membikin gelap gulita kawasan Teluk, negara demi negara, jika Trump berani menyentuh pembangkit listrik mereka,” ungkap seorang pejabat Teluk kepada AFP.
Ancaman Iran tidak sekadar propaganda retorika biasa, melainkan menyasar titik paling rentan bagi keberlangsungan hidup masyarakat di jazirah Arab yang didominasi wilayah gurun.
Meskipun kesepakatan gencatan senjata dan nota kesepahaman (MoU) sempat dicapai pada April dan Juni 2026, stabilitas keamanan di Teluk kembali runtuh memasuki bulan Juli.
Rentetan aksi saling tembak kembali melonjak drastis, dengan serangan rudal Iran yang menyasar aset-aset militer AS serta fasilitas sipil seperti bandara, pelabuhan, dan kilang minyak di kawasan Teluk—terutama di Kuwait dan Bahrain.
Pasca-pembatalan serangan udara oleh Trump, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) dilaporkan melangsungkan komunikasi telepon tingkat tinggi dengan presiden AS tersebut untuk mengunci celah diplomasi dan mencegah krisis energi global yang meluas.
