Site icon Jernih.co

Iran Tolak Dialog di Islamabad Akibat Kapal Kargonya ‘Dibajak’ AS, Trump Kembali Tebar Ancaman

Dplomasi maraton yang sedang diupayakan Pakistan terbentur oleh gaya hardball Donald Trump dan ketegasan Teheran yang merasa dikhianati oleh blokade laut.

JERNIH – Harapan untuk mengakhiri perang besar di Teluk kembali menemui jalan buntu. Kurang dari 48 jam sebelum masa gencatan senjata berakhir pada Rabu mendatang, Iran memberikan sinyal kuat bahwa mereka tidak akan mengirim negosiator ke Islamabad, Pakistan, untuk putaran kedua pembicaraan dengan Amerika Serikat.

Langkah mundur ini dipicu oleh eskalasi militer yang terjadi dalam 24 jam terakhir, termasuk penyitaan kapal kargo Iran oleh Angkatan Laut AS dan ancaman bom dari Presiden Donald Trump.

Juru bicara Kementerian Luar Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa Washington telah melanggar kesepakatan gencatan senjata sejak awal. Iran menyoroti blokade laut AS di Selat Hormuz yang dimulai sejak 13 April, serta penangkapan kapal kontainer Iran, Touska, di Teluk Oman pada Senin dini hari.

Presiden Trump melalui Truth Social mengonfirmasi bahwa kapal perusak USS Spruance telah melubangi ruang mesin kapal tersebut karena menolak berhenti. Iran secara resmi melabeli tindakan ini sebagai aksi “perompakan” dan kriminalitas internasional.

Gaya diplomasi “pedang di tangan kiri, pena di tangan kanan” ala Trump kembali terlihat. Meski ia mengumumkan pengiriman delegasi tingkat tinggi (termasuk Special Envoy Steve Witkoff dan menantunya, Jared Kushner) ke Islamabad, ia menyertainya dengan ancaman penghancuran infrastruktur Iran.

“Kami menawarkan kesepakatan yang sangat adil. Jika mereka tidak mengambilnya, Amerika Serikat akan menghancurkan setiap pembangkit listrik dan setiap jembatan di Iran,” tulis Trump. Ia menutup pesannya dengan kalimat tegas: “NO MORE MR. NICE GUY!”

Di Islamabad, persiapan keamanan dilakukan secara masif. Hotel Marriott dan Serena telah dikosongkan dari tamu biasa, sementara akses menuju “Red Zone” (distrik diplomatik) ditutup total dengan kawat berduri dan ribuan personel polisi tambahan.

PM Pakistan, Shehbaz Sharif, dikabarkan telah menelepon Presiden Iran Masoud Pezeshkian selama 45 menit untuk meyakinkannya tetap mengirim tim ke meja perundingan. Target utama Pakistan adalah melahirkan Nota Kesepahaman (MoU) untuk memperpanjang gencatan senjata hingga 60 hari ke depan demi menghindari perang total.

Meski secara publik menolak, beberapa pengamat menilai Iran sedang menjalankan strategi “dua jalur”. Di level publik, mereka bersikap keras untuk menjaga harga diri domestik, namun di level bawah tanah, ada indikasi tim delegasi yang dipimpin Mohammad Bagher Ghalibaf mungkin tetap berangkat pada hari Selasa untuk menguji fleksibilitas AS.

Exit mobile version