Site icon Jernih.co

Isak Tangis Warnai Pemakaman Massal 50 Jenazah Korban Reruntuhan Gaza di Tengah Pelanggaran Gencatan Senjata

Foto: AP

JERNIH — Duyun-duyun warga berkumpul di Kota Gaza untuk melangsungkan prosesi pemakaman massal bagi 50 warga Palestina yang jasadnya baru berhasil dievakuasi dari balik puing-puing bangunan. Para korban membusuk dan tertimbun selama berbulan-bulan akibat serangan udara Israel sejak awal agresi pada Oktober 2023 lalu.

Wartawan Al Jazeera, Ghazi al-Aloul, melaporkan bahwa tim pencari dan penyelamat (Civil Defence) mengekstraksi jasad para korban dari beberapa lingkungan terdampak parah, seperti Tal al-Hawa, Zeitoun, Sabra, Sheikh Radwan, dan Shati. Di antara korban tewas terdapat barisan keluarga besar, termasuk keluarga al-Sawafiri, al-Batniji, dan Gharbiya.

Pemakaman massal pada Kamis ini menambah deretan penderitaan warga Gaza, setelah sebelumnya pada 4 Agustus lalu, ribuan warga juga menguburkan 112 jasad dari keluarga Abu Sharia dan al-Hasayna yang dievakuasi dari reruntuhan di wilayah Sabra.

Gaza Civil Defence memperkirakan masih ada sekitar 8.000 warga Palestina yang hilang dan diyakini tertimbun di bawah reruntuhan gedung yang hancur—di mana sekitar 90 persen infrastruktur Gaza kini telah porak-poranda.

Proses evakuasi berjalan amat lambat akibat minimnya peralatan medis dan alat berat. “Tim pencari di Gaza bekerja dalam kondisi yang sangat sulit dan hanya memiliki satu unit ekskavator untuk seluruh wilayah operasional,” papar Ghazi al-Aloul.

Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, Munir al-Bursh, mendesak komunitas internasional untuk menekan dibukanya perbatasan agar alat berat, perlengkapan evakuasi, serta pasokan kedokteran forensik dapat masuk ke Gaza demi mengidentifikasi ribuan jasad korban yang tersisa.

Gencatan Senjata Semu: 1.266 Warga Tewas Pasca-Perjanjian

Prosesi pemakaman massal ini berlangsung di tengah sengkarut pelanggaran “gencatan senjata” yang disepakati sejak Oktober lalu. Sejak perjanjian tersebut ditandatangani, serangan militer Israel tercatat masih membunuh sedikitnya 1.266 warga Palestina dan melukai 4.200 orang lainnya.

Secara kumulatif, perang genosida yang berlangsung lebih dari dua tahun ini telah menelan korban jiwa hingga 73.400 orang dan melukai lebih dari 174.300 warga Palestina—mayoritas di antaranya adalah anak-anak dan perempuan.

Di tengah dukacita di lapangan, dinamika politik bergerak di Doha, Qatar. Pemimpin biro politik Hamas, Khalil al-Hayya, menggelar pertemuan dengan Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani.

Kementerian Luar Negeri Qatar mengonfirmasi bahwa PM Sheikh Mohammed mengapresiasi penegasan komitmen Hamas terhadap usulan kesepakatan 15 poin yang disokong AS, termasuk poin pelucutan senjata (disarmament) sebagai bagian dari rencana penghentian perang secara menyeluruh.

Namun, skema perdamaian tersebut bertepuk sebelah tangan. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara terbuka menolak proposal yang sebelumnya diumumkan Presiden AS Donald Trump tersebut—yang di antaranya menuntut penarikan penuh pasukan Israel dan penghentian total pertempuran di Gaza.

Exit mobile version