Site icon Jernih.co

Israel Beri Peringatan ‘Terakhir’ bagi Warga Kota Gaza untuk Mengungsi

Warga Palestina yang terusir dari Gaza utara (Foto: Reuters)

Trump mengatakan kepada wartawan bahwa Hamas memiliki sekitar tiga atau empat hari untuk menerima rencana 20 poinnya mengenai Gaza. Ia memperingatkan bahwa gerakan Islam tersebut akan “membayar di neraka” jika menolak.

JERNIH – Menteri pertahanan Israel mengeluarkan peringatan terakhir bagi penduduk Kota Gaza mengungsi ke selatan, saat Hamas mempertimbangkan rencana Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang hampir dua tahun di wilayah Palestina.

Saksi mata melaporkan pemboman hebat di pusat kota terbesar Gaza, pada hari Rabu (1/10/2025). Sementara Israel Katz memperingatkan militer tengah memperketat pengepungan di kota itu.

“Ini adalah kesempatan terakhir bagi penduduk Gaza yang ingin pindah ke selatan dan meninggalkan operasi Hamas yang terisolasi di Kota Gaza,” tulis Katz di X, menambahkan bahwa mereka yang tetap tinggal akan “ianggap teroris dan pendukung teroris.

Katz mengatakan militer telah merebut koridor Netzarim di Jalur Gaza tengah hingga ke pantai barat, sebuah tindakan yang menurutnya memutus jalur utara Gaza dari selatan. Ia menambahkan siapa pun yang meninggalkan Kota Gaza menuju selatan harus melewati pos pemeriksaan militer Israel.

Pengumuman itu muncul beberapa jam setelah militer mengatakan pihaknya menutup rute terakhir yang tersisa bagi penduduk Gaza selatan untuk mengakses wilayah utara.

Di lapangan di Kota Gaza, Rabah Al-Halabi yang berusia 60 tahun, yang tinggal di tenda di lingkungan Rumah Sakit Al-Shifa, menggambarkan ledakan yang tak henti-hentinya. “Saya tidak akan pergi karena situasi di Kota Gaza tidak berbeda dengan situasi di Jalur Gaza selatan,” katanya kepada AFP melalui telepon.

“Semua wilayah berbahaya, pengeboman terjadi di mana-mana, dan pengungsian merupakan hal yang mengerikan dan memalukan,” ujarnya. “Kita menunggu kematian, atau mungkin kelegaan dari Tuhan dan datangnya gencatan senjata.”

Fadel Al-Jadba, 26, mengatakan dia tidak akan meninggalkan Kota Gaza. Ia mengatakan tank-tank berada di lingkungan Tal Al-Hawa dan ia “tidak akan terkejut jika mereka maju ke Al-Rimal,” tempat ia berlindung. “Kami menginginkan gencatan senjata dengan cara apa pun karena kami frustrasi, kelelahan, dan tidak menemukan seorang pun di dunia ini yang mendukung kami.”

Kondisi Warga Gaza Mengerikan

Komite Internasional Palang Merah pada hari Rabu mengatakan bahwa operasi militer yang semakin intensif di Kota Gaza memaksanya untuk menghentikan sementara kegiatannya dan memperingatkan bahwa puluhan ribu orang menghadapi kondisi kemanusiaan mengerikan.

Peristiwa ini terjadi beberapa hari setelah lembaga amal medis Doctors Without Borders (MSF) mengatakan pihaknya terpaksa menghentikan pekerjaannya di sana karena serangan Israel. Badan-badan PBB dan beberapa organisasi bantuan masih beroperasi di Kota Gaza.

Sementara itu, Hamas mempertimbangkan rencana perdamaian yang diajukan Trump dan didukung oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang menyerukan gencatan senjata, pembebasan sandera dalam waktu 72 jam, perlucutan senjata Hamas dan penarikan pasukan Israel secara bertahap dari Gaza.

Seorang sumber Palestina yang dekat dengan para pemimpin Hamas mengatakan kepada AFP bahwa belum ada keputusan akhir yang telah dibuat dan bahwa gerakan tersebut kemungkinan akan membutuhkan waktu dua hingga tiga hari. “Hamas ingin mengubah beberapa poin, seperti klausul pelucutan senjata dan pengusiran Hamas,” kata sumber tersebut.

Mereka menambahkan bahwa Hamas telah memberi tahu para mediator tentang perlunya memberikan jaminan internasional bagi penarikan penuh Israel dari Jalur Gaza dan jaminan bahwa Israel tidak akan melanggar gencatan senjata melalui pembunuhan di dalam atau di luar Gaza.

Badan pertahanan sipil Gaza — pasukan penyelamat yang beroperasi di bawah otoritas Hamas — melaporkan bahwa serangan Israel menewaskan sedikitnya 13 orang di Kota Gaza pada hari Rabu.

Pembatasan media di Gaza dan kesulitan mengakses sebagian besar wilayah tersebut membuat AFP tidak dapat memverifikasi secara independen jumlah korban dan rincian yang diberikan oleh pertahanan sipil dan militer Israel.

Dua Pendapat di Hamas

Trump mengatakan kepada wartawan pada hari Selasa bahwa Hamas memiliki sekitar tiga atau empat hari untuk menerima rencana 20 poinnya mengenai Gaza. Ia memperingatkan bahwa gerakan Islam tersebut akan “membayar di neraka” jika menolak.

Seorang sumber yang mengetahui negosiasi yang berlangsung di ibu kota Qatar, Doha, mengatakan kepada AFP bahwa ada dua pendapat di dalam Hamas. “Yang pertama mendukung persetujuan tanpa syarat, karena prioritasnya adalah gencatan senjata berdasarkan jaminan Trump, dengan mediator memastikan Israel melaksanakan rencana tersebut,” kata sumber tersebut.

“Pihak kedua memiliki keberatan serius terkait klausul-klausul kunci, yang menolak perlucutan senjata dan pengusiran warga Palestina mana pun dari Gaza. Mereka mendukung persetujuan bersyarat dengan klarifikasi yang mencerminkan tuntutan Hamas dan faksi-faksi perlawanan,” tambah sumber tersebut.

Serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 mengakibatkan kematian 1.219 orang, sebagian besar warga sipil, menurut penghitungan AFP dari angka resmi Israel. Serangan balasan Israel telah menewaskan sedikitnya 66.148 warga Palestina, menurut angka kementerian kesehatan Palestina yang dipercaya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Angka-angka ini tidak menyebutkan jumlah pejuang yang tewas, tetapi menunjukkan bahwa lebih dari separuh korban tewas adalah wanita dan anak-anak.

Exit mobile version