JERNIH– Di tengah klaim keberlanjutan negosiasi damai, militer Israel kembali melancarkan serangan udara yang menghancurkan gudang pasokan obat-obatan di Kompleks Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa, Sabtu (1/8/2026. Aksi ini dinilai sebagai upaya terstruktur untuk meruntuhkan sisa-sisa sistem kesehatan di Jalur Gaza yang sudah berada di titik nadir.
Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza mengutuk keras pemboman tersebut. Hantaman rudal membakar dan meratakan dua dari empat gudang obat utama, sementara dua gudang lainnya rusak berat. Klinik rawat jalan yang berada tepat di sebelah fasilitas penyimpanan tersebut turut hancur berkeping-keping.
Ledakan dahsyat tersebut meninggalkan kawah dalam di tanah dan memusnahkan sebagian besar stok obat-obatan serta bahan medis habis pakai (medical consumables) yang sangat dibutuhkan bagi pasien kritis dan korban luka tembak.
Tak hanya menghancurkan fasilitas medis, gempuran ini merusak tenda-tenda darurat milik keluarga pengungsi di sekitar area rumah sakit. Puluhan keluarga yang panik terpaksa mengemas sisa barang berharga mereka dan kembali melarikan diri mencari perlindungan.
“Ini bukan lagi sekadar pemblokiran masuknya obat-obatan atau penolakan izin berobat bagi ribuan pasien ke luar negeri. Ini adalah serangan langsung (direct assault) untuk menghabisi apa yang tersisa dari infrastruktur kesehatan Gaza,” tegas Kementerian Kesehatan Palestina dalam pernyataan resminya.
Pemerintah Palestina mendesak komunitas internasional, lembaga-lembaga PBB, dan organisasi hak asasi manusia untuk segera turun tangan memberikan perlindungan nyata bagi fasilitas serta tenaga medis di seluruh Gaza.
Penghancuran gudang obat ini terjadi hanya beberapa jam setelah kelompok perlawanan Palestina, Hamas, menyatakan telah beritikad baik merespons proposal para mediator untuk memfinalisasi tahap kedua dari kesepakatan gencatan senjata Gaza.
Namun di lapangan, realitasnya bertolak belakang. Sejak klaim “gencatan senjata” dideklarasikan pada 11 Oktober lalu, kekerasan tak pernah benar-benar berhenti.
Kemenkes Gaza mencatat sejak dimulainya periode gencatan senjata (11 Oktober), sebanyak 1.222 warga Palestina gugur dengan 4.053 orang luka-luka dan 804 jenazah baru berhasil dievakuasi dari reruntuhan. Sejak perang genosida dilancarkan pada 7 Oktober 2023, akumulasi korban jiwa di Gaza kini resmi menembus 73.349 orang gugur dan 174.162 orang luka-luka.
Sejak Sabtu pagi, serangan taktis menggunakan pesawat nirawak (drone) Israel terus memburu warga sipil di berbagai titik. Koresponden melaporkan tiga warga Palestina gugur dalam serangan terpisah di Kota Gaza dan Deir al-Balah.
Satu warga tewas dan satu lainnya dalam kondisi kritis akibat hantaman drone di pintu masuk Deir al-Balah—keduanya langsung dilarikan ke RS Syuhada Al-Aqsa yang baru saja dihantam bom. Serangan drone serupa juga menghantam wilayah Al-Mawasi di utara Khan Younis serta kawasan Jalan Tiga di lingkungan Sheikh Radwan, barat laut Kota Gaza, yang melukai puluhan warga sipil lainnya.
