Sementara Kanada dan Meksiko baik-baik saja memperlakukan para tamunya, Amerika Serikat sebaliknya. Seorang wartawan sampai harus bertanya kepada FIFA, dan petinggi olahraga sepakbola itu pun tak bisa berbuat banyak. AS memang merepotkan tak hanya politik.
WWW.JERNIH.CO – Menjelang peluit pertama dibunyikan pada Juni 2026, euforia turnamen ini justru dibayangi oleh ketegangan diplomatik dan birokrasi imigrasi Amerika Serikat yang super ketat.
Kebijakan sepihak dari Washington DC kini menjadi persoalan serius yang merumitkan jalannya kompetisi, memicu protes keras dari FIFA, federasi sepak bola, hingga komunitas jurnalis internasional.
Amerika Serikat sukses mengubah festival olahraga global ini menjadi urusan birokrasi yang penuh drama dan intimidasi.
Birokrasi Visa yang Diskriminatif dan Kaku
Masalah paling mendasar berakar dari kebijakan imigrasi domestik AS. Di bawah kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump yang diperluas per Januari 2026, AS meningkatkan pembatasan visa (travel ban) dari 19 menjadi 39 negara. Dampaknya langsung memukul aktor-aktor penting di lapangan.
Salah satu tamparan keras bagi integritas olahraga menimpa Omar Abdulkadir Artan, wasit elit asal Somalia sekaligus pemenang penghargaan Wasit Pria Terbaik Afrika 2025 versi CAF. Meski mengantongi paspor diplomatik dan dukungan visa resmi, ia ditolak masuk dan langsung dideportasi di Bandara Internasional Miami karena alasan “pemeriksaan latar belakang” (vetting concerns). FIFA bahkan tidak berdaya melawan kedaulatan hukum tuan rumah.
Akibat sentimen politik bilateral, 14 staf pendukung dan ofisial Timnas Iran ditolak masuk ke AS. Akibatnya, timnas mereka terpaksa bermarkas di Tijuana, Meksiko, dan harus bolak-balik menyeberang perbatasan hanya untuk melakoni laga fase grup.
Negara seperti Senegal harus memainkan laga grup terakhir mereka di Toronto, Kanada. Karena visa AS mereka hanya berlaku untuk satu kali masuk (single-entry), para pemain terancam harus mengajukan ulang visa AS di tengah-tengah turnamen jika lolos ke babak gugur yang digelar di wilayah Amerika Serikat.
AS juga menerapkan aturan jaminan finansial sebesar 5.000 USD hingga 15.000 USD bagi pelancong dari negara tertentu demi memastikan mereka tidak melebihi izin tinggal (overstay). Kebijakan ini sangat memberatkan suporter dan jurnalis ekonomi lemah.
Diinterogasi, Digeledah, dan Diendus K9
Bagi tim-tim yang berhasil mengantongi visa, urusan belum selesai. Kebijakan pengamanan perbatasan AS memperlakukan para atlet profesional dan delegasi resmi selayaknya imigran gelap.
Bintang Timnas Irak, Aymen Hussein, sempat ditahan dan diinterogasi selama 7 jam di Bandara O’Hare Chicago setibanya di AS. Nasib lebih tragis dialami fotografer resmi mereka, Talal Salah, yang dideportasi pulang setelah ponselnya digeledah secara paksa selama 10 jam.

Tak sampai di situ, rombongan Timnas Uzbekistan dan Senegal mengeluhkan perlakuan berlebihan saat tiba di stadion untuk laga uji coba. Para pemain dipaksa melepas sepatu, melewati detektor logam berlapis, dan barang bawaan mereka harus diendus oleh anjing pelacak (K9).
Bukan cuma negara konflik, fans dari negara maju pun kena getahnya. Sistem Electronic System for Travel Authorization (ESTA) milik AS membatalkan izin liburan suporter secara sepihak.
Ratusan fans dari Skotlandia dan beberapa negara Eropa yang sudah memegang tiket pertandingan mendapati status ESTA mereka berubah menjadi “Travel Not Authorised” hanya beberapa hari sebelum terbang.
Teror Senjata hingga Ancaman Alam
Selain masalah manusia dan dokumennya, situasi internal di dalam negeri AS ikut memperkeruh atmosfer turnamen.
Aspek keselamatan dipertanyakan setelah terjadi insiden penembakan massal di Kansas City pada awal Juni 2026 yang melukai sembilan orang. Insiden ini terjadi hanya terpaut beberapa kilometer dari pusat latihan Timnas Inggris, yang langsung memicu protes federasi terkait kapabilitas AS dalam mengamankan area sekitar wilayah latihan tim luar negeri.
AS menerapkan regulasi keselamatan domestik yang sangat kaku mengenai badai petir. Jika petir terdeteksi dalam radius 8 mil (sekitar 12,8 km) dari stadion, pertandingan wajib dihentikan seketika, pemain masuk ke ruang ganti, dan penonton dievakuasi.
Beberapa laga uji coba sempat tertunda hingga lebih dari 2 jam karena aturan ini, memicu kekhawatiran bahwa jadwal fase grup Piala Dunia akan berantakan akibat penundaan yang tidak bisa diprediksi.
Ulah alam yang tidak diantisipasi dengan baik oleh panitia lokal juga mengacaukan konsentrasi. Timnas Swiss melayangkan keluhan resmi setelah menemukan empat ekor ular derik (rattlesnake) berbisa jenis Crotalus helleri berkeliaran di dekat lapangan latihan mereka di San Diego.
Tim pelatih Swiss terpaksa menandai peta area berbahaya dengan garis pembatas agar para pemain tidak tergigit saat mengambil bola.(*)