Site icon Jernih.co

Kaum Muda India Serang Modi dengan Meme dan Humor Satir di Media Sosial

Foto: AFP

JERNIH – Aksi demonstrasi yang digelar ribuan anak muda di India kini tak hanya berlangsung di jalanan. Gelombang protes juga membanjiri media sosial melalui meme, video parodi, hingga humor satir yang menyasar langsung Perdana Menteri Narendra Modi dan pemerintahannya.

Bagi para demonstran, media sosial menjadi arena baru untuk memperluas tekanan terhadap pemerintah. Berbagai konten kreatif digunakan untuk mengejek kebijakan pemerintah, menyindir pemberitaan televisi yang dinilai berpihak kepada penguasa, sekaligus mengubah bentrokan dengan aparat menjadi konten viral.

Ironisnya, strategi tersebut memanfaatkan platform yang selama ini menjadi salah satu kekuatan politik Modi. Selama bertahun-tahun, Modi dikenal sukses membangun citra politiknya melalui media sosial. Kini, saluran yang sama justru dipakai generasi muda untuk menantang narasi pemerintah.

Kampanye digital itu turut memperluas jangkauan demonstrasi yang awalnya menuntut akuntabilitas pemerintah dan reformasi pendidikan. Tekanan terhadap pemerintah pun semakin meningkat seiring meluasnya dukungan terhadap gerakan anak muda tersebut.

Gerakan yang dikenal sebagai “Cockroach Movement” banyak mengandalkan humor sebagai strategi komunikasi. Video bentrokan antara demonstran dan polisi diubah menjadi konten komedi. Dalam salah satu video viral, para demonstran bercanda bahwa mereka tetap berusaha mempertahankan Strava streak—catatan aktivitas olahraga di aplikasi Strava—meski harus berlari menghindari pukulan tongkat polisi.

Video lain memperlihatkan aksi demonstran melompati barikade polisi yang diedit menyerupai permainan ponsel Subway Surfers.

Sejumlah perempuan juga mengadopsi gaya para influencer dengan mengunggah video “Get Ready With Me” sebelum mengikuti aksi demonstrasi atau memperlihatkan perlengkapan demonstrasi seperti helm, kacamata pelindung, dan alat pelindung rakitan melalui unggahan “fit check”.

Di sisi lain, muncul pula video parodi yang mengejek pembawa acara televisi pro-pemerintah yang kerap menyebut para demonstran sebagai “anti-nasional” atau “konspirator yang didanai pihak asing”.

Sejumlah demonstran yang diwawancarai The Associated Press meminta identitas mereka dirahasiakan karena khawatir mendapat tindakan balasan dari pemerintah.

Seorang demonstran perempuan berusia 25 tahun mengatakan meme bukan sekadar hiburan, melainkan cara generasinya menghadapi tekanan. “Kalau kuota internet kami habis saja sudah tidak tahan. Jadi kami jelas tidak akan diam menghadapi situasi seperti ini,” ujarnya, merujuk pada tindakan keras polisi terhadap demonstran di ibu kota awal pekan ini.

Berawal dari skandal ujian

Gelombang demonstrasi meletus sekitar sebulan lalu setelah muncul serangkaian skandal kebocoran soal ujian, termasuk ujian masuk program kedokteran nasional.

Kalangan muda menilai skandal tersebut telah merusak masa depan mereka sekaligus mengikis kepercayaan terhadap sistem pendidikan India. Mereka menyalahkan Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan yang mengundurkan diri pada Sabtu lalu.

Namun, seiring waktu, tuntutan demonstrasi berkembang menjadi kritik yang lebih luas mengenai akuntabilitas pemerintah dan menyebar ke berbagai kota di India.

Perluasan gerakan itu banyak didorong oleh kelompok satir Cockroach Janta Party (CJP) yang muncul sekitar dua bulan lalu. Melalui meme, humor, dan satire, kelompok tersebut berhasil mengubah protes yang semula berfokus pada isu pendidikan menjadi gerakan anak muda yang lebih luas.

Di lokasi utama demonstrasi di New Delhi, pengaruh budaya internet tampak jelas. Sebagian demonstran mengenakan kostum Spider-Man dan Batman sambil membawa poster bernada jenaka.

Salah satu poster bergambar Menteri Pendidikan bertuliskan, “Kapan AI menggantikan pekerjaannya?” Sementara poster lain membawa slogan, “Setiap lelucon adalah revolusi kecil.”

Seorang mahasiswa berusia 23 tahun mengatakan cara tersebut mencerminkan karakter generasinya. “Kami bosan mendengar pidato. Kami adalah generasi yang menyukai ringkasan. Kami terbiasa menerima informasi dalam waktu singkat, sehingga menggunakan cara yang sama untuk menyampaikan pesan,” katanya.

Modi ikut menjadi sasaran

Bagi Narendra Modi, yang kini memasuki tahun ke-13 masa pemerintahannya, gelombang protes tersebut menghadirkan tantangan yang tidak biasa.

Selama ini citra Modi dibangun sebagai pemimpin yang tegas dan kuat. Namun respons yang terlalu keras berisiko menjauhkan pemilih muda, kelompok yang memiliki pengaruh besar mengingat hampir separuh penduduk India berusia di bawah 25 tahun.

Yang paling mencolok, demonstrasi kali ini mematahkan tabu lama: Modi sendiri kini menjadi sasaran lelucon. Jika pada aksi-aksi sebelumnya kritik lebih banyak diarahkan kepada kebijakan pemerintah, kini ekspresi, jeda bicara, hingga gestur Modi diubah menjadi berbagai video parodi yang viral di media sosial.

Pada Kamis malam, Modi mengunggah video bergaya swafoto dan berjanji akan menindak tegas pelaku kebocoran soal ujian. Namun video tersebut segera dibanjiri berbagai versi parodi yang mengaitkan pidatonya dengan janji-janji pemerintah yang dinilai belum terpenuhi.

Salah satu video yang paling banyak dibagikan mempertahankan pembukaan pidato Modi yang menyapa demonstran sebagai “teman-teman”, sebelum dipotong ke adegan tiga perempuan muda yang menatap kamera dan menjawab singkat, “Tidak, kami bukan teman Anda.”

Seorang mahasiswa berusia 21 tahun mengatakan media sosial menjadi cara paling efektif untuk menantang Modi. “Kami hanya menjawabnya dengan bahasa yang selama ini ia gunakan,” ujarnya.

Exit mobile version