Pakar menyebutkan bahwa kelompok supremasi Hindu kini membangun narasi bahwa Muslim dan Kristen adalah “ancaman ganda” atau “kekuatan asing” yang ingin menghancurkan budaya Hindu.
JERNIH – Selama lebih dari satu dekade di bawah pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi, kekerasan terhadap komunitas Muslim di India telah menjadi perhatian internasional. Namun, data terbaru menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Komunitas Kristen kini mulai merasakan hantaman keras dari gerakan mayoritarianisme Hindu (Hindutva) ini.
Laporan terbaru dari India Hate Lab, sebuah proyek dari Center for the Study of Organized Hate (CSOH) yang berbasis di Washington, DC, mengungkapkan bahwa ujaran kebencian dan kekerasan agama di India melonjak drastis sepanjang tahun 2025.
Ketegangan memuncak tepat pada malam Natal 2025. Kelompok garis keras Hindu yang berafiliasi dengan Partai Bharatiya Janata (BJP)—partai penguasa pimpinan Modi—menyerukan penutupan kota Raipur di India Tengah. Mereka menuduh adanya “konversi agama paksa” oleh umat Kristen, sebuah klaim yang sering dilontarkan meski minim bukti.
Di hari yang sama, kelompok pria bersenjatakan tongkat kayu menyerbu sebuah pusat perbelanjaan di Raipur, merusak dekorasi Natal, dan membubarkan perayaan. Meskipun polisi mengidentifikasi puluhan penyerang, hanya enam orang yang ditangkap, dan mereka segera dibebaskan dengan jaminan.
Tragisnya, saat bebas, para pelaku justru disambut dengan kalungan bunga dan pawai kemenangan yang viral di media sosial. Pada pagi hari Natal, Modi mengunjungi sebuah gereja Katolik di New Delhi untuk merayakan kesempatan tersebut, tetapi tidak mengutuk kekerasan tersebut.
Insiden ini bukanlah satu-satunya. Menurut laporan terbaru, ujaran kebencian dan kekerasan berbasis agama di India meningkat, dengan minoritas Kristen yang kecil di negara itu muncul sebagai target yang semakin terlihat, bersama dengan umat Muslim, dalam iklim retorika mayoritas Hindu yang semakin intensif.
Lonjakan Drastis dalam Dua Tahun
Berdasarkan penelitian CSOH, India mencatat total 1.318 peristiwa ujaran kebencian sepanjang tahun 2025. Ini berarti rata-rata terjadi lebih dari tiga peristiwa setiap harinya. Secara keseluruhan, ujaran kebencian meningkat sebesar 97% sejak 2023. Komunitas muslim tetap menjadi target utama. Dari 1.318 acara, sebanyak 1.289 acara (sekitar 97,8%) mengandung referensi kebencian atau kekerasan terhadap Muslim.
Sementara terhadap komunitas Kristen, mengalami kenaikan target yang tajam. Ujaran kebencian terhadap umat Kristen naik dari 115 kejadian (2024) menjadi 162 kejadian (2025), sebuah lonjakan sebesar 41%. Komposisi demografi agama di India saat ini yakni komunitas Hindu mencapai 80% dari populasi, kelompok Muslim 14,2% dan Kristen 2,3%.
Pakar menyebutkan bahwa kelompok supremasi Hindu kini membangun narasi bahwa Muslim dan Kristen adalah “ancaman ganda” atau “kekuatan asing” yang ingin menghancurkan budaya Hindu.
Raqib Naik dari CSOH menjelaskan munculnya teori konspirasi untuk memicu kemarahan massa. Misalnya tuduhan bahwa pria Muslim merayu wanita Hindu untuk dikonversi ke Islam. Ada juga klaim bahwa Muslim mencoba menguasai tanah milik warga Hindu. Sementara terkait umat Kristen, muncul narasi yang menuduh setiap kegiatan amal, pendidikan, atau layanan kesehatan gereja sebagai alat tipu muslihat untuk mengkristenkan warga Hindu.
Akar Ideologis: Perang Permanen terhadap “Musuh Internal”
Kebencian ini bukanlah fenomena baru, melainkan buah dari ideologi RSS (Rashtriya Swayamsevak Sangh), organisasi induk dari partai BJP. Didirikan pada 1925, RSS meyakini India harus menjadi “Bangsa Hindu” murni, yang bertentangan dengan nilai sekularisme dalam konstitusi India.
Tokoh ideolog masa lalu seperti MS Golwalkar—yang secara terbuka dihormati oleh PM Modi—menyebut Muslim dan Kristen sebagai “musuh internal” yang tidak diinginkan dan menyerukan “perang permanen” terhadap mereka.
Laporan tersebut menemukan kaitan yang sangat kuat dengan politik praktis. Sebanyak 88% dari acara ujaran kebencian terjadi di negara bagian yang diperintah oleh BJP atau sekutunya. Bahkan, lima dari sepuluh aktor utama penyebar ujaran kebencian adalah pejabat resmi, termasuk Menteri Dalam Negeri Amit Shah dan Menteri Utama Uttarakhand, Pushkar Singh Dhami, yang menempati urutan teratas dengan 71 insiden ujaran kebencian.
“Para pengikut Hindutva merasa semakin berani karena kembalinya partai (BJP) ke kekuasaan,” ujar Ram Puniyani, Presiden CSSS. Ia memperingatkan bahwa situasi ini sangat berbahaya karena ujaran kebencian yang masif cepat atau lambat akan meletus menjadi kekerasan fisik massal.
