“Bahkan orang mati pun tidak luput dari siksaan mereka.” Kalimat pedih itu keluar dari bibir Fatima Abdullah, seorang ibu di Gaza yang kini terjebak dalam ketidakpastian yang menyiksa.
JERNIH – Pekan ini, militer Israel melancarkan operasi besar-besaran di pemakaman al-Batsh, lingkungan Tuffah, Gaza Timur. Tujuannya satu. mencari dan membawa pulang jenazah Ran Gvili, seorang petugas polisi Israel yang menjadi tawanan terakhir di Gaza. Namun, harga yang harus dibayar adalah kehancuran ratusan makam warga Palestina yang kini luluh lantak.
Dalam operasi kilat tersebut, alat berat dan buldozer militer Israel mengeruk sedikitnya 250 makam, baik makam lama maupun baru. Citra satelit dan kesaksian warga menunjukkan pemandangan yang mengerikan: batu nisan hancur, kerangka manusia berserakan, dan kantong-kantong jenazah yang dilempar begitu saja ke tumpukan tanah.
Fatima, yang suaminya, Mohammad al-Shaarawi, dimakamkan di sana setelah tewas akibat serangan drone pada 2024, merasa dunianya runtuh. “Kami semua gemetar. Saya membayangkan mesin-mesin itu mendekati makam suami saya. Mayat-mayat berserakan, tulang belulang dibuang seolah-olah mereka bukan apa-apa,” tutur Fatima mengutip Al Jazeera.
Luka yang Terus Digali Kembali
Bagi keluarga di Gaza, makam adalah satu-satunya tempat mereka bisa “bertemu” dengan orang tercinta yang direnggut perang. Madeline Shuqayleh merasakan kepedihan yang sama. Adiknya, Maram, dan keponakannya yang baru berusia empat bulan, Yumna, dimakamkan di al-Batsh.
“Bayangkan mengetahui adikmu terbunuh dan dimakamkan tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal. Sekarang, mereka seolah membunuhnya untuk kedua kalinya,” isak Madeline. Hingga kini, ia tidak tahu apakah jenazah adik dan keponakannya masih ada di sana atau telah terangkut alat berat.
Penghancuran makam al-Batsh bukanlah insiden pertama. Euro-Med Human Rights Monitor mencatat rekam jejak kelam penghancuran makam di Gaza. Tercatat 21 dari 60 pemakaman di Gaza telah rusak parah atau hancur total.
Pengrusakan termasuk makam bersejarah korban Perang Dunia I dan II yang berisi tentara Inggris dan Persemakmuran pun turut terkena dampak pemboman. Belum lagi penemuan makam massal di RS al-Shifa dan RS Nasser dengan jenazah yang terikat dan telanjang memicu kekhawatiran dunia internasional atas pelanggaran berat hukum kemanusiaan.
Kisah pilu juga datang dari Rola Abu Seedo. Ayahnya meninggal karena sakit di tengah kelaparan dan ketiadaan obat-obatan akibat blokade. Ia dimakamkan secara darurat di area RS al-Shifa. Namun, setelah serangan militer Israel di area tersebut, buldozer meratakan seluruh gundukan tanah di sana.
“Kerabat kami kembali untuk mencari makamnya, tapi tidak ada lagi tanda yang tersisa. Ayahku tidak punya makam hari ini,” ujar Rola. Ketidakpastian apakah jenazah ayahnya tercampur, hilang, atau dibawa pergi militer Israel menjadi beban psikologis yang tak berujung.
Hamas mengecam keras aksi tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan “tidak etis dan ilegal” yang mencerminkan kegagalan sistem internasional dalam meminta pertanggungjawaban atas kejahatan perang.
Di Gaza, kejahatan terhadap kemanusiaan seringkali tidak berhenti setelah kematian. Hak untuk beristirahat dalam damai pun dari para pejuang dan warga Gaza dirampas oleh buldozer perang demi nafsu dan keserakahan kaum zionis Israel.
