Site icon Jernih.co

Krisis Air Gaza: 19 Pekerja Air Bersih Gugur dan Blokade Pasokan Mengancam Jutaan Nyawa

Foto: Getty

JERNIH – Krisis air di Jalur Gaza mencapai titik nadir yang mengerikan. Laporan terbaru dari The Guardian yang dirilis Senin (27/4/2026) mengungkapkan bahwa sedikitnya 19 pekerja fasilitas air Palestina telah tewas akibat serangan pasukan Israel sejak awal perang, memutus harapan jutaan warga untuk mendapatkan akses sanitasi yang layak.

Insiden terbaru terjadi pada pertengahan April, di mana serangan terhadap sumur al-Zein di Gaza Utara menewaskan seorang insinyur dan melukai empat lainnya. Selain jatuhnya korban jiwa, fasilitas yang melayani ribuan warga tersebut mengalami kerusakan struktur yang parah.

Hanya berselang beberapa hari sebelum insiden al-Zein, pasukan Israel dilaporkan menembak mati dua sopir kontrak UNICEF di titik pengumpulan air utama Gaza Utara. UNICEF memperingatkan bahwa pembunuhan ini mengancam jaringan kemanusiaan yang selama ini menyokong kebutuhan air bersih bagi ratusan ribu orang di seluruh wilayah tersebut.

Sejak pecahnya perang, pasokan air di Gaza merosot drastis hingga di bawah ambang batas minimal kelangsungan hidup manusia. Berikut adalah perbandingan data konsumsi air di Gaza saat ini:

KategoriVolume per Orang/HariStandar Minimum PBB
Air Minum7 Liter6 Liter (Darurat)
Kebutuhan Domestik16 Liter50 – 100 Liter (Standar)

Kondisi ini memaksa warga seperti Omar Saada, seorang ayah di Khan Younis, untuk mengantre berjam-jam demi mendapatkan jatah dari satu truk air yang harus melayani lebih dari 50 keluarga. Akibatnya, anak-anak mulai terserang infeksi kulit karena jarang mandi, serta masalah pencernaan akibat mengonsumsi air yang tidak higienis.

Manajer Urusan Kemanusiaan Darurat Médecins Sans Frontières (MSF), Laureline Lasserre, menegaskan bahwa kondisi ini adalah produk dari kebijakan yang disengaja. “Tanpa air bersih, tanpa sabun, dan kondisi hunian yang sesak; inilah akar penyebab dari sebagian besar penyakit yang kami tangani setiap hari,” ujarnya.

MSF mendokumentasikan dampak kesehatan yang mengerikan. Misalnya infeksi pada wanita terjadi saat masa menstruasi dan pasca-melahirkan karena tidak adanya air untuk membasuh diri. Juga terhadap kesehatan bayi, di mana bayi berulang kali jatuh sakit karena susu formula dicampur dengan air yang terkontaminasi. Kurangnya akses air mulai memicu gangguan kesehatan mental yang serius, termasuk ide bunuh diri.

Situasi ini diperparah dengan pembatasan impor sabun dan deterjen oleh Israel, yang menyebabkan harga kebutuhan sanitasi melonjak dua kali lipat hanya dalam satu bulan.

Penghancuran pabrik desalinasi, stasiun pompa, dan pipa air diperburuk dengan blokade bahan bakar serta suku cadang. Para insinyur yang tersisa terpaksa melakukan kanibalisasi komponen dari fasilitas yang hancur untuk menjaga satu unit agar tetap berfungsi.

Kondisi sanitasi juga berada di ambang kolaps. Sebanyak 1,1 juta pengungsi hidup tanpa jaringan pembuangan limbah yang berfungsi. Dari 100 truk yang dibutuhkan untuk menangani limbah septic tank, hanya 15 unit yang tersisa.

Dengan musim panas yang semakin dekat dan larangan masuknya peralatan baru, otoritas kesehatan memperingatkan bahwa Gaza sedang menuju bencana kesehatan masyarakat yang jauh lebih besar jika blokade tidak segera dihentikan.

Exit mobile version