Sentimen publik dan pemimpin di Asia Tenggara terhadap Presiden Donald Trump dilaporkan berbalik arah 180 derajat. Jika awalnya kembalinya Trump ke Gedung Putih pada 2024 disambut optimis, kini tindakan militernya di Selat Hormuz justru dipandang sebagai ancaman langsung bagi perut rakyat di Asia Tenggara.
JERNIH – Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN yang akan digelar di Cebu, Filipina, Kamis hingga Jumat ini, diprediksi akan berlangsung panas. Laporan dari Foreign Policy menyebutkan bahwa negara-negara Asia Tenggara mulai kehilangan kesabaran terhadap Amerika Serikat, yang kebijakan militernya terhadap Iran dianggap sebagai pemicu utama krisis bahan bakar dan ekonomi di kawasan.
Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr., menyatakan bahwa pertemuan ini akan difokuskan secara mendalam pada tekanan energi dan ekonomi yang kian menjepit negara-negara anggota ASEAN.
Sentimen publik dan pemimpin di Asia Tenggara terhadap Presiden Donald Trump dilaporkan berbalik arah 180 derajat. Jika awalnya kembalinya Trump ke Gedung Putih pada 2024 disambut optimis, kini tindakan militernya di Selat Hormuz justru dipandang sebagai ancaman langsung bagi perut rakyat di Asia Tenggara.
Negara-negara ASEAN sangat bergantung pada pasokan energi dari Teluk. Serangan AS ke Iran yang memicu gangguan di Hormuz—jalur bagi seperempat ekspor minyak dan gas dunia—telah memicu volatilitas harga yang tidak terkendali.
Dalam pernyataan bersama, Dewan Komunitas Ekonomi ASEAN menyatakan kekhawatiran mendalam. Lebih dari 80% minyak dan LNG yang melewati Hormuz ditujukan untuk Asia. Gangguan ini telah meningkatkan biaya logistik, asuransi, dan pengiriman secara tajam.
“Kenaikan biaya energi dan transportasi ini berdampak pada sistem pangan, termasuk kenaikan harga pupuk. Biaya hidup meningkat di seluruh wilayah, di mana rumah tangga berpenghasilan rendah dan usaha kecil menjadi yang paling terdampak,” bunyi pernyataan resmi para menteri ekonomi ASEAN.
Menteri Luar Negeri Thailand, Maris Sangiampongsa, secara blak-blakan menyatakan bahwa perang ini “seharusnya tidak pernah terjadi.” Ia juga mengkritik AS karena tidak memberikan bantuan apa pun kepada Thailand untuk mengelola konsekuensi ekonomi akibat kebijakan Washington.
Kekecewaan ini diperparah dengan kebijakan tarif AS yang diperkenalkan pada 2025. Akibatnya, tokoh-tokoh berpengaruh di kawasan kini dilaporkan lebih cenderung melirik Tiongkok dibandingkan Amerika Serikat sebagai mitra strategis yang lebih stabil.
Menghadapi ketidakpastian ini, ASEAN mulai merancang langkah mandiri. Beberapa poin kesepakatan awal meliputi:
- Penimbunan Minyak Regional: Usulan untuk mempelajari cadangan minyak bersama anggota ASEAN.
- Menjaga Jalur Perdagangan: Komitmen untuk tetap membuka perbatasan darat, pelabuhan, dan bandara guna memastikan aliran barang esensial.
- Hapus Hambatan Dagang: Menghindari hambatan perdagangan yang tidak perlu, terutama pada input pangan dan energi selama masa krisis.
