Site icon Jernih.co

Langgar Gencatan Senjata: Israel Bombardir Pemukiman Gaza Usai Perintah Evakuasi, Puluhan Warga Terluka

Pasukan Israel membom sebuah rumah di Gaza setelah mengeluarkan perintah evakuasi (Foto: Getty)

JERNIH – Harapan warga Palestina untuk menikmati ketenangan di bawah payung gencatan senjata masih sulit terwujud. Pada Jumat malam (8/5/2026), jet tempur Israel membombardir sebuah rumah di kamp pengungsi al-Shati, Gaza, yang melukai sedikitnya enam orang. Insiden ini menandai babak baru pelanggaran gencatan senjata yang telah disepakati sejak Oktober lalu.

Yang membuat peristiwa ini mencolok adalah kembalinya pola “perintah evakuasi” oleh militer Israel sebelum serangan dilakukan—sebuah taktik yang pertama kali digunakan kembali sejak gencatan senjata Oktober 2025 dimulai.

Serangan tersebut menargetkan rumah keluarga al-Adham. Saksi mata di lapangan melaporkan bahwa pesawat perang Israel melepaskan tiga rudal. Dua rudal meledak menghancurkan bangunan hingga rata dengan tanah, sementara satu rudal lainnya dilaporkan gagal meledak.

“Perintah evakuasi mendadak memicu kepanikan luar biasa di antara warga sipil. Mereka berlarian di tengah kegelapan, hanya beberapa saat sebelum ledakan terjadi,” lapor koresponden The New Arab. Para korban luka, yang terkena serpihan peluru kendali, kini tengah dirawat di Kompleks Medis al-Shifa.

Meskipun secara formal disebut masa gencatan senjata, data dari Kementerian Kesehatan Gaza menunjukkan kenyataan yang jauh lebih kelam. Sejak gencatan senjata Oktober dimulai hingga Mei 2026 tercatat 846 warga Palestina tewas akibat serangan sporadis, 2.418 orang terluka serta 769 jenazah baru saja berhasil dievakuasi dari bawah reruntuhan bangunan.

Eskalasi serangan udara Israel dilaporkan meningkat tajam sejak pecahnya perang gabungan AS-Israel melawan Iran pada 28 Februari lalu. Hal ini membuat negosiasi tahap lanjut antara Israel dan Hamas mengalami kebuntuan total.

Situasi di Tepi Barat (West Bank) tidak kalah mengerikan. PBB melaporkan bahwa sekitar 40.000 warga Palestina telah terusir dari rumah mereka sejak awal 2025.

Pada Jumat yang sama, terjadi serangkaian serangan brutal oleh pemukim ilegal Israel. Di Selatan Hebron, seorang ayah dan anaknya diserang dengan “benda tajam” hingga mengalami luka serius di bagian kepala. Sementara di Selatan Nablus pemukim membakar sebuah rumah warga. Di Abu Falah (Ramallah) sekelompok pemukim menyerbu desa dan membakar kendaraan serta mencoretkan slogan rasis di dinding rumah warga.

Organisasi HAM B’Tselem menyatakan bahwa militer Israel cenderung membiarkan kekerasan pemukim ini sebagai kebijakan tidak resmi untuk mengintimidasi warga Palestina agar meninggalkan tanah mereka.

Exit mobile version