Sepertinya Israel sedang “berjudi” dengan waktu. Mereka ingin menghancurkan sebanyak mungkin aset Hizbullah sebelum tekanan internasional benar-benar memaksa mereka berhenti.
JERNIH – Hanya beberapa jam setelah dunia menyambut kabar gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, Lebanon justru dihantam gelombang serangan udara paling mematikan. Setidaknya 254 orang dilaporkan tewas dan 1.165 lainnya luka-luka dalam apa yang disebut militer Israel sebagai “serangan terkoordinasi terbesar” sejak operasi militer baru dimulai 2 Maret lalu.
Pemerintah Lebanon menuding Israel sengaja menyasar kawasan komersial dan pemukiman padat penduduk di pusat kota Beirut tanpa peringatan, memicu kekacauan massal di ibu kota.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa serangan mendadak ini menargetkan ratusan anggota dan infrastruktur komando Hizbullah di seluruh Lebanon. Ia mengeklaim ini adalah pukulan terkonsentrasi terbesar yang pernah dialami Hizbullah sejak “Operasi Beepers” (bom pager) pada tahun 2024.
Meski militer Israel mengeklaim telah berupaya meminimalisir korban sipil, kenyataan di lapangan menunjukkan hal berbeda. “Banyak lokasi yang dihantam adalah tempat yang tidak disangka-sangka oleh siapa pun. Ini menyebabkan kepanikan dan kekacauan. Anak-anak menangis, orang-orang berteriak sambil berlari menuju rumah sakit,” lapor koresponden Al Jazeera, Malcolm Webb, dari Beirut.
Agresi brutal ini mulai menggoyang fondasi kesepakatan damai AS-Iran. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa melanjutkan negosiasi dengan AS kini menjadi “tidak masuk akal” setelah adanya berbagai pelanggaran terhadap proposal 10 poin mereka.
“Ketidakpercayaan historis kami terhadap Amerika Serikat berasal dari pelanggaran komitmen yang berulang kali—pola yang sayangnya terulang kembali. Dasar negosiasi telah dilanggar secara terbuka bahkan sebelum perundingan dimulai,” tegas Ghalibaf melalui platform X.
Iran menyoroti tiga pelanggaran utama oleh blok AS-Israel:
- Serangan masif ke Lebanon (yang menurut mediator Pakistan masuk dalam kesepakatan).
- Masuknya drone ke wilayah udara Iran.
- Penolakan terhadap hak pengayaan uranium Iran.
Menteri Kesehatan Lebanon, Rakan Nassereddine, menyebut situasi ini sebagai “eskalasi berbahaya” dan mendesak organisasi internasional untuk segera membantu sektor kesehatan Lebanon yang hampir kolaps. Palang Merah Lebanon telah mengerahkan 100 ambulans, namun banyaknya korban membuat proses evakuasi terhambat.
Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, mengecam keras tindakan Israel yang dianggapnya sama sekali tidak mengindahkan hukum kemanusiaan internasional. Sejak 2 Maret, serangan Israel telah membunuh lebih dari 1.530 orang di Lebanon, termasuk 100 wanita dan 130 anak-anak.
Di tengah kecaman dunia, Benjamin Netanyahu tetap pada pendiriannya bahwa Lebanon dikecualikan dari gencatan senjata. Ia menegaskan Israel akan terus memukul Hizbullah dan siap kembali berperang dengan Iran “kapan saja.”
“Kami terus menghantam Hizbullah. Jari kami tetap di pelatuk,” ujar Netanyahu, mengonfirmasi bahwa pertempuran di Lebanon masih jauh dari kata usai.
