Dominasi 63% penguasaan bola ternyata tidak cukup bagi Liverpool untuk menaklukkan Tottenham di kandang sendiri. Mengapa rotasi pemain yang dilakukan Slot dianggap berisiko?
WWW.JERNIH.CO – Pertandingan antara Liverpool melawan Tottenham Hotspur yang berlangsung di Anfield pada Minggu, 15 Maret 2026, menjadi drama pekan ke-30 Premier League yang menyisakan kepedihan bagi publik tuan rumah. Meski sempat unggul sejak babak pertama, skuad asuhan Arne Slot harus rela berbagi satu poin setelah laga berakhir dengan skor imbang 1-1.
Hasil ini tidak hanya membuyarkan pesta di Merseyside, tetapi juga menghambat ambisi The Reds untuk merangsek ke posisi empat besar klasemen sementara.
Sejak peluit pertama dibunyikan, Liverpool langsung mengambil inisiatif serangan. Keunggulan yang dinanti hadir di menit ke-18 melalui aksi Dominik Szoboszlai. Pemain asal Hungaria tersebut mengeksekusi tendangan bebas dari jarak sekitar 20 meter dengan akurasi tinggi yang gagal dihalau sempurna oleh kiper Spurs, Guglielmo Vicario.
Setelah gol tersebut, Anfield bergemuruh dan Liverpool tampak memegang kendali penuh. Cody Gakpo nyaris menggandakan keunggulan, namun tendangan kerasnya hanya membentur tiang gawang. Namun, dominasi penguasaan bola yang mencapai 63% ternyata tidak cukup bagi Liverpool untuk mengunci kemenangan.

Di penghujung laga, tepatnya menit ke-90, petaka datang. Berawal dari umpan Randal Kolo Muani, Richarlison yang berdiri bebas di kotak penalti sukses menyontek bola ke gawang Alisson Becker. Skor 1-1 bertahan hingga laga usai.
Kegagalan Liverpool mengamankan kemenangan berakar pada dua hal utama: ketidakmampuan menyelesaikan peluang (finishing) dan hilangnya konsentrasi di menit akhir. Liverpool melepaskan 17 tembakan, namun hanya 4 yang tepat sasaran. Arne Slot melakukan rotasi besar-besaran dengan mencadangkan Mohamed Salah dan Hugo Ekitike demi menjaga kebugaran untuk laga Liga Champions melawan Galatasaray di tengah pekan. Strategi ini terbukti berisiko karena lini depan yang diisi pemain muda seperti Rio Ngumoha tampak kurang tajam dalam mengeksekusi peluang di sepertiga akhir lapangan.
Kelemahan The Reds terletak pada rotasi yang berisiko. Keputusan Slot mengistirahatkan pemain kunci membuat alur serangan Liverpool kehilangan “insting pembunuh” di babak kedua.
Gol Richarlison lahir karena koordinasi pertahanan yang buruk. Andy Robertson tertangkap salah posisi saat mengantisipasi bola panjang, sementara Virgil van Dijk gagal menutup ruang gerak Kolo Muani sebelum memberikan asis.
Liverpool tampak terlalu santai setelah unggul satu gol, membiarkan Spurs perlahan membangun kepercayaan diri lewat serangan balik.
Sementara meski datang dengan tren buruk (lima kekalahan beruntun), Tottenham di bawah asuhan Igor Tudor menunjukkan organisasi pertahanan yang sangat disiplin. Duet bek tengah mereka juga tangguh. Radu Dragusin dan Kevin Danso tampil luar biasa dalam mematahkan umpan-umpan silang Liverpool.
Spurs tidak butuh banyak peluang. Mereka hanya menunggu momentum tepat ketika lini tengah Liverpool mulai kelelahan untuk meluncurkan serangan cepat melalui kecepatan Mathys Tel dan ketajaman Richarlison.
Gelar Player of the Match pada laga ini layak disematkan kepada Richarlison. Penyerang asal Brasil ini kembali menjadi momok bagi publik Anfield. Sepanjang laga, ia terus menekan lini pertahanan Liverpool dan mencatatkan empat peluang emas sebelum akhirnya mencetak gol penyeimbang yang krusial.
Pergerakan tanpa bolanya sangat merepotkan, dan gol di menit ke-90 tersebut menjadi bukti nyata mentalitas pantang menyerah yang ia bawa untuk menyelamatkan Spurs dari jurang degradasi.
“Kami mengontrol 80 menit pertandingan dengan sangat baik. Namun, di liga ini, jika Anda tidak mencetak gol kedua untuk ‘membunuh’ pertandingan, Anda selalu memberi lawan harapan. Kami menciptakan cukup peluang untuk unggul 2-0 atau 3-0, tapi kami tidak cukup klinis di depan gawang,” jelas Slot panjang lebar.
Bagi Liverpool, hasil ini adalah pelajaran pahit bahwa di Liga Inggris, keunggulan satu gol tidak pernah cukup aman hingga peluit panjang berbunyi.(*)
BACA JUGA: Galatasaray VS Liverpool: Mario Lemina Bungkam The Reds