- Kecuali terubuk, sayuran eksotis di bawah ini akrab dengan sebagian besar penduduk Indonesia.
- Beberapa sayuran dikonsumsi dengan berbagai cara dan menjadi bagian aneka masakan.
JERNIH — Buka Google dan ketik kata ‘sayuran eksotis’ di mesin pencari dan klik. Sejumlah nama sayuran akan muncul. Sebagian besar, alias 90 persen relatif kita kenal, dan hanya satu yang mungkin agak asing bagi sebagian masyarakat kota besar seperti Jakarta, yaitu terubuk.
Di Indonesia Timur sayuran ini punya beberapa sebutan; tebu telor (Ambon), sayur trubu (Maluku), sayor lilin (Manado), dan bambiada (Talaud). Di masyarakat Jawa, sayuran ini dikenal dengan sebutan tebu endog. Di Jawa Barat, masyarakat Sunda punya banyak sebutan untuk yang mirip tebu ini, yaitu tiwu turubus, turubus, turubuk, dan tiwu endog.
Di Jakarta, penduduk asli Betawi tak mengenal terubuk. Penduduk etnis lain yang lahir dan besar di ibu kota pun mungkin tak mengenal sayuran ini. Ini terlihat dari tidak adanya terubuk di gerobak penjual sayur keliling, dan di warung-warung sayuran di dalam permukiman, serta tidak ada budi daya terubuk di lahan pertanian pinggir Jakarta.
Terubuk (Saccharum edule Hassk.) adalah tanaman dari keluarga tebu yang dimanfaaftkan bagian bunga sebagai sayur. Bentuk tanaman ini beruas-ruas dan berwarna hijau kemerahan dengan bunga berbentuk silindris menyerupai lilin, dengan memiliki tekstur lembut seperti telur ikan.
Sejumlah penelitian menunjukkan bunga terubuk kaya gizi dan mengandung protein (4–6%), kalsium, fosfor, vitamin C, dan serat pangan. Terubuk menjadi sumber nutrisi yang baik, rendah kalori dan kaya serat.
Sayuran eksotis yang akrab dengan penduduk Jakarta dan kota-kota besar di Pulau Jawa adalah kecipir (Psophocarpus tetragonolobus), leunca (Solanum nigrum), petai (Parkia speciosa), jengkol (Archidendron pauciflorum), kemangi (Ocimum basilicum L.), rebung, daun pepaya, dan oyong.
Banyak cara menikmati sayuran ini. Kecipir, misalnya, biasanya menjadi lalapan. Selain dikonsumsi sebagai lalapan, leunca sering digunakan sebagai campurn oncom. Namun, tidak semua orang menyukai leunca karena rasanya yang agak getir.
Petai mungkin yang paling populer. Sebagai lalapan, petai dikonsumsi dengan berbagai cara. Mulai dari dimakan dengan sambal dalam keadaan mentah, tak sedikit yang digoreng atau direbut tanpa dibuang kulitnya sebelum dikonsumsi. Petai juga berfungsi sebagai penyedap masakan tertentu, misal tumis udang, tumis teri, tumis kangkung, tumis cumi asin, dan lainnya. Namun, aromanya yang kuat tak jarang membuat sebagian orang kurang menyukainya.
Seperti petai, jengkol dikonsumsi dengan banyak cara. Jengkol muda dikonsumsi dalam keadaan mentah. Jengkol setengah tua dikonsumsi dengan lebih dulu digoreng. Namun cara paling umum mengkonsumsi sayuran ini adalah dimasak semur atau rendang. Sebagai sayuran populer di semua lapisan masyarakat, harga jengkol per kilogram terkadang sama atau lebih mahal dari harga daging sapi.
Semula, hanya ada dua cara mengkonsumsi kemangi. Pertama, sebagai lalapan. Kedua, sebagai campuran pepes ikan teri, kembung, dan lainnya. Untuk yang kedua, alasan para ibu-ibu adalah daun kemangi berfungsi sebagai penyedap rasa dan pewangi. Belakang, sebagai akibat inovasi kuliner, kemangi digunakan para ibu di masyarakat Betawi untuk pesmol ayam atau ikan.
Tradisi kuliner Asia, terutama Tiongkok, menempatkan rebung sebagai sayuran populer. Di Nusantara, masyarakat berbagai etnis mengkonsumsi rebung sebagai campuran berbagai makanan tradisional. Orang-orang Tionghoa di Semarang menggunakan rebung sebagai isi lumpia. Orang Jawa menjadikanya campuran sayur lodeh.
Di Bengkulu, rebung dimasak sebagai gulai dengan nama Gulai Rebung Asam. Di Kalimantan, rebung menjadi sayuran populer karena rasa yang gurih, renyah, dan aroma yang khas. Rebung mengandung protein, karbohidrat, lemak, kalsium, fosfor, zat besi, vitamin A, B1, B6, E, C, thiamin dan riboflavin. Rebung mungkin makanan Asia paling populer di dunia.
Meski terasa pahit, daun pepaya selalu diburu masyarakat yang mengerti manfaat sayuran ini. Banyak cara menikmati daun pepaya. Ada yang menjadikannya campuran urap, yang membuat rasa pahitnya tak menonjol saat dikunyah. Tak jarang masyarakat mencampurnya dengan gulai atau sayur santan. Dua olahan itu sering dipadukan dengan teri, udang rebon, ikan tongol, da terong, utuk menambah cita rasa.
Tahun 1980-an, ketika penduduk pinggiran Jakarta masih memiliki sisa tanah di sekitar rumah, tanaman oyong selalu ada. Maklum, sayuran ini mudah tumbuh dan tidak sulit merawatnya. Buah oyong yang bergelantungan, yang membuat siapa pun ingin segera memetiknya untuk disayur.
Oyong disayur bersama sohun atau soun, yaitu mi halus terbuat dari pati. Sohun berwarna bening, bertekstur kenyal, dengan permukaan licin. Irisan oyong muda dan sohun dimasak dengan bumbu sederhana tapi menghasilkan sayu lezat.
