- Buah musiman melahirkan istilah ‘musim buah’. Misal, musim durian, rambutan, mangga dan lainnya.
- Namun, istilah ‘musim buah’ hilang dari belakang kepala kita, karena ada upaya berbagai jenis buah tersedia sepanjang tahun.
JERNIH — Anekdot lama di kalangan anak-anak kampung di pinggir Jakarta menyebutkan bahwa negara paling banyak musim adalah Indonesia. Sebab, Indonesia tak hanya memiliki musim panas dan hujan, tapi juga musim durian, musim rambutan, musim mangga, dan semua buah yang panen pada bulan tertentu.
Musim durian dan rambutan mungkin yang paling terasa. Pedagang durian musim muncul seperti jamur di musim hujan, di pasar, dan di pinggir jalan di tempat keramaian. Durian datang dari wilayah-wilayah terdekat di Jakarat, seperti kawasan Banten, atau dari kota-kota lain di Jawa. Saat itu belum ada yang namanya duren Medan.
Di tahun 1980-an, musim rambutan mungkin yang paling menarik. Pedagang rambutan, menggunakan sepeda ontel dan beronjong di belakang, bertebaran di setiap sudut keramaian kota; siang dan malam. Pedagang rambutan berkeliling ke permukiman.
Rambutan di Jakarta tidak datang dari jauh, tapi dari kampung-kampung masyarakat Betawi di pinggiran kota. Tempat rambutan paling jauh mungkin Tangerang dan Bogor. Di puncak musim, rambutan bergelantungan di jalan-jalan kampung pinggiran Jakarta. Saat itulah pedagang buah berdatangan, membeli rambutan yang masih berada di pohon, mengemas, dan menjualnya.
Berbagai Buah Musiman
Durian dan rambutan hanya dua dari banyak buah musiman di Indonesia. Lainnya adalah nangka, sawo, manggis, duku, salak, pepaya, mangga, dan jeruk bali. Menariknya, masyarakat kampung pinggir Jakarta hampir tidak pernah menyebut musim sawo, nangka, pepaya, dan jeruk bali.
Tanaman sawo relatif langka, alias tidak mudah ditemui di sekitar pinggir Jakarta. Nangka mudah ditemui, tapi buah satu ini dikonsumsi dengan cara lain, yaitu disayur. Artinya, nangka tidak hanya dikonsumsi saat matang, tapi dibuat sayur saat masih muda.
Pepaya bukan tanaman yang dibudi-dayakan penduduk. Tanaman lunak ini bisa muncul di mana pun karena burung menebarkan bijinya lewat kotoran. Pepaya juga dikonsumsi dengan dua cara; sebagai sayuran atau dimakan saat masak. Maka, tidak ada yang namanya musim pepaya.
Terkadang kita sulit membedakan antara duku dan kokosan. Duku ditanam masyarakat pinggir Jakarta, terutama Tangerang dan Bogor, tapi tidak menghasilkan buah yang bagus. Kokosan cenderung lebih asam, dan tidak banyak disukai masyarakat. Kokosan terkadang dijual di pasar, tapi bukan buah favorit.
Sampai 1970-an, orang masih mengenal salak Condet, alias salah dari Kampung Condet di Jakarta Timur. Kini, tidak ada lagi salak condet, setelah hampir seluruh tanah masyarakat Betawi di Condet Batu Ampar terdistribusi ke anak cucu, berpindah tangan ke pendatang, atau dibangun rumah kontrakan.
Akibatnya, mereka yang lahir di tahun 1980-an tak pernah mengenal musim salak. Bahkan, salak yang mereka nikmati bukan berasal dari Condet, tapi jauh dari Yogyakarta, yaitu salak pondoh. Salak juga tidak tumbuh di sembarang tempat. Kalau pun tumbuh, tidak ada jaminan salak itu akan menghasilkan buah.
Terakhir, jeluk bali. Buah ini cenderung tak banyak dikonsumsi masyarakat. Sulit menemukan buah ini di kebun-kebun penduduk pinggiran Jakarta era 70 dan 80-an. Jeruk bali seolah datang dari jauh, mungkin dari Bogor atau Tangerang, atau lebih jauh lagi. Masyarakat tak mengenal musim jeruk bali, dan buah satu ini membludak di pasar-pasar dan pinggir jalan.
Seperti jeluk bali, manggis bukan tanaman buah masyarakat pinggir Jakarta. Kalau ada masyarakat yang menanam manggis, jumlahnya tak banyak dan tidak ada jaminan buah yang dihasilkan berkualitas bagus dan bernilai ekonomi tinggi. Manggis tampaknya dibawa jauh dari luar Jakarta, terutama Banten dan Bogor.
Di luar buah-buah itu, ada beberapa buah lagi yang membludak pada bulan-bulan tertentu, yaitu kecapi, gandaria, dan jamblang. Ketiganya buahan eksotis, mudah ditanam, tapi tak bernilai ekonomi tinggi. Kecapi relatif populer di kalangan anak-anak, tapi tak bisa dimakan. Hanya dikulum bagian biji dan dibuang.
Gandaria bisa kita temui di pasar-pasar saat sedang musim. Membludak sedemikian rupa, murah, tapi jarang dikonsumsi karena rasa asam yang menyengat. Sedangkan jamblang, mudah tumbuh di pinggir kali, atau di tempat basah lainnya. Rasa yang terkadang sepet dan sedikit manis, membuat buah ini tidak bernilai ekonomi tinggi.
Buah-buahan dan Musimnya
Masyarakat pinggir Batavia tahun 70-an mungkin yang paling tahu kapan buah ini dan itu, misalnya, mengalami musim panen. Setelah terjadi perubahan fungsi lahan, dan generasi berganti, masyarakat saa ini cenderung tak tahu lagi musim buah tertentu. Kecuali, mereka yang berjualan buah-buahan.
Awal tahun adalah musim banyak buah-buahan. Durian, manggis, rambutan, alpukat, sawo, kedongdong, dan salak, akan melimpah di pasar. Tentu saja jika penduduk kampung di pinggir kota masih memiliki tanah untuk menanam pohon buah-buahan ini.
Pada bulan Februari, kita bisa menemukan jambu biji, jeruk nipis, duku, dan jeruk bali, melimpah. Belimbing dan jambu air, yang muncul sejak pertengahan Januari, masih terus panen. Berikutnya, bulan Maret, masa panen manggir, rambutan, alpukat, dan sawo, berakhir. nangka, pepaya, pisang, dan sirsak, mulai membanjiri pasar.
Mei mungkin masa paceklik buah. Namun, buah-buahan pada bulan-bulan sebelumnya masih banyak. Sirsak dan pepaya, misalnya, masih bisa diburu di pasar dengan harga relatif murah karena suplai yang masih stabil. Situasi ini berlanjut sampai Juli. Kalau pun jambur air dan mangga masig ada, harganya tak murah lagi. Pun, tak ada jaminan kualitasnya masih baik.
Bulah-bulan berikut kita akan menyaksikan sejumlah buah-buahan membanjiri pasar. Namun, terdapat kecenderungan petani buah ingin cepat mendapat hasil. Mereka memetik buah yang sebetulnya belum waktunya. Akibatnya, sering konsumen kecewa dengan kualitas buah yang dibeli di pasar dan di pinggir jalan.
