Konsep false flag bukanlah barang baru. Sejarah mencatat Kaisar Nero diduga membakar Roma pada 64 M demi menyalahkan komunitas Kristen. Di era modern, kita mengenal Operation Northwoods (1962) di mana CIA berencana meneror warga AS sendiri demi alasan menyerang Kuba.
JERNIH – Dalam dunia intelijen, sebuah serangan tidak selalu dilakukan oleh pihak yang memegang senjatanya. Fenomena ini dikenal sebagai False Flag Operation atau Operasi Bendera Palsu—sebuah taktik kuno yang kini menjadi senjata mematikan dalam perang hibrida antara Iran melawan aliansi AS-Israel.
Memasuki minggu ketiga konflik besar tahun 2026, Teheran mulai melancarkan serangan diplomatik dengan klaim mengejutkan. Mereka menuduh Mossad memiliki jaringan gudang senjata rahasia di dalam wilayah Iran untuk melancarkan serangan terhadap tetangga-tetangga regional, lalu mengambinghitamkan Iran.
Konsep false flag bukanlah barang baru. Sejarah mencatat Kaisar Nero diduga membakar Roma pada 64 M demi menyalahkan komunitas Kristen. Di era modern, kita mengenal Operation Northwoods (1962) di mana CIA berencana meneror warga AS sendiri demi alasan menyerang Kuba, hingga Operation Susannah (1954) saat agen Israel mengebom pusat budaya Barat di Mesir untuk merusak hubungan Kairo-Washington.
Kini, pola serupa diduga muncul kembali. Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, memperingatkan adanya “tipu daya Zionis” yang bertujuan mengisolasi Teheran dari tetangga Arabnya dan menyeret Inggris serta Prancis ke dalam kancah peperangan.
Iran secara kategoris membantah terlibat dalam serangan drone ke fasilitas minyak Aramco di Arab Saudi dan Kedutaan Besar AS di Riyadh pekan lalu. Pejabat Kemenlu Iran menyebut serangan tersebut dirancang untuk merusak hubungan Teheran-Riyadh yang sedang membaik.
Paling mencengangkan, sumber intelijen Iran mengklaim bahwa Mossad menggunakan jaringan agen yang tertanam sangat dalam (deeply embedded) di dalam Iran untuk meluncurkan drone dari wilayah Iran sendiri. “Kami sedang melacak gudang-gudang logistik dan drone milik Mossad di dalam negeri kami,” ungkap sumber tersebut kepada Middle East Eye.
Kejanggalan lain terjadi pada 4 Maret, saat sebuah rudal balistik diduga milik Iran memasuki ruang udara Turki—salah satu dari sedikit negara regional yang punya hubungan baik dengan Teheran. Teheran langsung membantah dan mengajukan investigasi bersama, mempertanyakan: Apa untungnya bagi Iran menyerang kawan dan memberi alasan bagi NATO untuk ikut berperang?
Misteri Diego Garcia: Melampaui Batas Fisik?
Salah satu poin paling kontroversial adalah klaim serangan rudal Iran ke pangkalan militer AS-Inggris di Pulau Diego Garcia, Samudera Hindia. Secara teknis, ini hampir mustahil. Diego Garcia berjarak 4.000 km dari Iran sementara kapasitasrudal terjauh Iran, Khorramshahr-4, hanya menjangkau 2.000 km.
Jika Iran benar-benar pelakunya, berarti seluruh Eropa Barat kini berada dalam jangkauan rudal mereka. Namun, Teheran menyebut klaim ini adalah false flag Israel untuk menekan kabinet Inggris—yang saat itu sedang bimbang—agar mengizinkan pangkalan militernya digunakan AS untuk menggempur Iran. Bahkan Sekjen NATO, Mark Rutte, menolak mengonfirmasi bahwa proyektil tersebut adalah rudal antarbenua milik Iran.
Bukti pendukung klaim Teheran muncul dari analisis Open Source Intelligence (OSINT). Dalam ledakan di Sitra, Bahrain, pada 9 Maret, CENTCOM AS langsung menyalahkan drone Iran. Namun, peneliti dari Middlebury Institute of International Studies menyimpulkan dengan keyakinan tinggi bahwa ledakan itu disebabkan oleh rudal Patriot milik AS sendiri yang diluncurkan dari baterai berjarak 7 km dari lokasi kejadian.
Meski ada bukti-bukti teknis yang meragukan serangan Iran, dunia internasional tetap skeptis terhadap klaim Teheran. Sulit untuk memisahkan fakta dari disinformasi. Apakah Israel benar-benar mengoperasikan “gudang rahasia” di dalam Iran demi provokasi? Ataukah Iran sengaja menggunakan narasi false flag untuk mencuci tangan atas serangan yang mereka lakukan sendiri guna menekan harga minyak dunia?
Satu hal yang pasti: Dalam perang hibrida 2026, opini publik adalah medan tempur yang sama pentingnya dengan ladang minyak di Teluk Persia.
Garis Waktu Insiden ‘Misterius’ (Maret 2026):
- 4 Maret: Rudal jatuh di Turki; Iran bantah, ajak investigasi bersama.
- 5 Maret: Drone hantam Bandara Baku, Azerbaijan; Teheran tuduh Israel ingin merusak hubungan tetangga.
- 9 Maret: Ledakan di Bahrain; Analisis OSINT tunjukkan itu kemungkinan rudal Patriot AS.
- Pekan Ini: Isu serangan Diego Garcia; NATO ragukan klaim Israel soal keterlibatan Iran.
