Site icon Jernih.co

Masalah Iran Menjadi Kegagalan Strategis Terbesar Kedua Netanyahu Setelah 7 Oktober

Para demontrans membakar gambar Netanyahu di depan konsulat Israel di Instanbul pada 1 Maret 2026 (Foto: AP)

JERNIH – Kebijakan luar negeri dan militer Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kembali dihantam kritik destruktif dari dalam negerinya sendiri. Analis militer terkemuka dari media Israel Haaretz, Amos Harel, menyatakan bahwa runtuhnya kendali Israel atas isu Iran resmi tercatat sebagai kegagalan strategis terbesar kedua dalam sepanjang karier politik panjang Netanyahu.

Kegagalan fatal ini hanya bisa ditandingi oleh runtuhnya sistem pertahanan Israel dalam tragedi serangan 7 Oktober 2023 silam. Dalam analisis mendalamnya, Harel menyoroti dua kegagalan utama yang kini dihadapi Israel di bawah kepemimpinan Netanyahu.

Pertama, perang berkepanjangan di Gaza terbukti sama sekali tidak berhasil membubarkan gerakan perlawanan Hamas. Kedua adalah narasi “kemenangan mutlak Israel” (absolute Israeli victory) yang terus-menerus dijanjikan Netanyahu kepada publik kini terbukti hanya menjadi janji manis tanpa hasil nyata.

Harel menilai bahwa arah perkembangan politik luar negeri yang melibatkan Iran saat ini sangat tidak menguntungkan dari sudut pandang Tel Aviv. Setiap penyelesaian damai yang terjadi di bawah syarat-syarat saat ini dinilai sebagai hal yang sangat mengecewakan bagi Israel.

Faktor utamanya adalah perubahan haluan politik Gedung Putih. Presiden AS Donald Trump tampaknya sangat bertekad untuk segera mengakhiri perang dan mengurangi keterlibatan militer Amerika Serikat di Timur Tengah (disengagement).

Langkah Trump yang buru-buru mengunci kesepakatan dengan Iran ini otomatis menghancurkan ekspektasi serta proyeksi politik besar yang selama ini dibangun dan dipamerkan oleh Netanyahu ke publik Israel. Amos Harel memperingatkan bahwa keretakan politik dan operasional antara Netanyahu dan Trump diprediksi akan semakin melebar dalam waktu dekat, dan dampaknya tidak hanya terbatas pada masalah Iran, melainkan akan merembet ke lini pertempuran Lebanon.

Menyusul pengumuman Nota Kesepahaman (MoU) antara Washington dan Teheran, media-media domestik Israel serentak melaporkan adanya gelombang kekecewaan yang sangat meluas di kalangan publik dan militer.

Para pejabat tinggi Israel yang dikutip media lokal secara terbuka mengakui kemerosotan hubungan koridor Washington-Tel Aviv.  Juga muncul persepsi kuat di internal Israel bahwa Amerika Serikat di bawah Trump telah “menyerah dan tunduk pada tuntutan Iran terkait klausul Lebanon.”

Kritik paling pedas datang dari mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Barak. Ia tidak ragu menyebut kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran tersebut sebagai sesuatu yang “sangat amat buruk” bagi masa depan negaranya.

“Israel sekarang harus membayar mahal harga yang timbul akibat keangkuhan (arrogance) dan kebutaan (blindness) politik Netanyahu. Faktanya, saat ini Israel tidak berhasil mencapai satu pun dari tujuan perang yang dicanangkan sejak awal,” tegas Ehud Barak tanpa tedeng aling-aling.

Exit mobile version