Krisis kemanusiaan di Israel kini tidak hanya terjadi akibat dentuman rudal, tapi juga dari dalam bunker-bunker perlindungan mereka sendiri. Rumah sakit bawah tanah yang seharusnya menjadi zona aman, kini dilaporkan berubah menjadi “bom waktu” penyebaran penyakit menular akibat sanitasi yang buruk dan kelebihan muatan.
JERNIH – Ribuan warga Israel yang tengah menjalani perawatan maupun berlindung dari perang melawan Iran kini menghadapi ancaman baru yang tak kasat mata. Laporan media lokal menyebutkan bahwa rumah sakit bawah tanah di seluruh penjuru negeri sedang mengalami krisis sanitasi akut dan kepadatan penduduk yang ekstrem.
Para dokter yang bertugas menggambarkan situasi di fasilitas bawah tanah tersebut sebagai kondisi yang katastropis dan kacau. Menurut laporan Haaretz, aturan dasar higienitas di rumah sakit darurat ini praktis telah lumpuh. Banyak dari fasilitas ini sebenarnya adalah area parkir mobil yang dikonversi secara mendadak menjadi ruang perawatan.
Kondisinya memprihatinkan. Hanya tersedia dua unit pancuran air (shower) untuk melayani puluhan pasien. Jarak antara toilet dan tempat tidur pasien sangat dekat, meningkatkan risiko kontaminasi. Tenaga medis terpaksa menggunakan meja dan kursi lipat sebagai pengganti peralatan standar rumah sakit karena kekurangan tempat tidur.
Kementerian Kesehatan Israel mengonfirmasi satu kasus Tuberkulosis Paru pada seorang pasien yang menghabiskan enam hari di bunker rumah sakit. Ironisnya, sekitar 750 orang di dalam fasilitas tersebut, serta 1.900 staf medis dan pengunjung, kini terancam terpapar infeksi tersebut.
Selain tuberkulosis, pakar infeksi memperingatkan potensi ledakan wabah Campak. Penanganan campak di ruang bawah tanah yang tertutup sangat sulit karena memerlukan pelacakan kontak yang intensif dan isolasi ketat—hal yang hampir mustahil dilakukan di tengah kepadatan bunker saat ini.
Pusat medis seperti Maayanei Hayeshua di Bnei Brak, sebelah timur Tel Aviv, menjadi salah satu titik yang paling terdampak. Wilayah ini baru saja dihantam rentetan rudal Iran pada Senin lalu yang melukai sedikitnya 14 orang.
Situasi ini menciptakan lingkaran setan: warga masuk ke bawah tanah untuk menghindari rudal, namun justru terjebak dalam risiko infeksi penyakit mematikan akibat lingkungan yang tidak sehat.
Sejak operasi gabungan AS-Israel dimulai pada 28 Februari 2026, serangan udara terjadi hampir setiap hari. Meskipun angka kematian di pihak Iran jauh lebih tinggi (diperkirakan mencapai 3.492 jiwa), serangan balasan rudal Iran ke wilayah Israel telah menewaskan sedikitnya 19 orang dan memaksa ribuan lainnya hidup di bawah tanah dalam kondisi yang tidak manusiawi.
