- Mikel Arteta lebih suka menggunakan pendekatan David Moyes, bukan Pep Guardiola, dalam membangun tim.
- Ia melapas tujuh bintang di musim pertama melatih Arsenal, untuk menciptakan keharmonisan di luar dan dalam lapangan.
JERNIH — Satu dekade lalu, setelah menerima tawaran melatih Manchester City, Pep Guardiola segera menghubungi Mikel Arteta dan menawarkannya posisi asisten pelatih. Sepanjang musim ini keduanya menjadi rival, dan Arteta mengalahkan Guardiola dalam perebutan gelar Liga Inggris.
“Saya akan selalu berterima kasih kepada Guardiola. Tanpa dia, saya tidak akan berada di sini,” kata Arteta, setelah Manchester City — tim asuhan Pep Guardiola — susah payah memaksa AFC Bournemouth bermain 1-1 di Stadion Vitaly.
Hasil itu membuat Arsenal memimpin klasemen dengan selisih empat angka atas Manchester City, dan tak perlu berkeringat mengejar tiga angka pada laga terakhir melawan Crystal Palace, Minggu 24 Mei, di Selhurst Park Stadium.
“Sebagai pemain dan pelatih, Guardiola telah menjadi inspirasi bagi saya,” lanjut Arteta seperti dikutip Aljazeera. “Dialah orang yang memutuskan untuk bertaruh pada saya, dengan menempatkan saya sebagai asisten pelatih.”
Saat masih menjadi pemain, Arteta dan Guardiola berkarier di Barcelona. Arteta tak pernah mencapai level yang diharapkan selama di Barcelona. Guardiola membentuk diri sebagai bintang di lini belakang.
Arteta mencoba peruntungan di Liga Prancis dengan memperkuat Paris St Germain, lalu pindah ke Skotlanda dan memperkaut Glasgow Rangers. Di kedua klub itu, Arteta tak betah dan memutusan pergi.
Ia menemuan tempat bermain nyaman di Goodison Park bersama Everton. Arteta tidak hanya bermain selama enam tahun, tapi juga belajar membangun tim bersama pelatih David Moyes. Dari Everton, Arteta pindah ke Arsenal tahun 2011, yang saat itu masih ditangani Arsene Wenger.
“Saya belajar mendapatkan karakter yang tepat dalam tim untuk membangun apa yang saya inginkan,” kata Arteta soal David Moyes.
Setelah tiga tahun sebagai asisten pelatih Manchester City, Arteta memberanikan diri melamar pekerjaan sebagai pelatih Arsenal. Dalam pertemuan pertamanya dengan petinggi Arsenal, Arteta mempresentasikan rencana lima fase untuk membawa klub kembali memperebutkan posisi puncak di Liga Premier dan di Eropa.
Ia menunjukkan pengaruhnya ketika melepas tujuh pemain bintang, termasuk Pierre-Emerick Aubameyang dan Mesut Ozil, karena menginginkan keharmonisan skuad.
Pada musim pertamanya, Arsenal finis di urutan kedelapan, finis liga terburuk mereka dalam 25 tahun, dan gagal memperbaikinya pada musim 2020/2021 akibat COVID-19.
Setahun kemudian, mereka menyia-nyiakan kesempatan lolos ke Liga Champions akibat penurunan performa di akhir musim yang membuat mereka finish di urutan kelima.
Meskipun mencetak kemajuan besar dengan tiga kali berturutan finis di posisi kedua di klasemen Liga Primer, kemampuan Arteta membawa Arsenal meraih juara tetap dipertanyakan.
Arteta tidak mengikuti pendekatan Guardiola dalam membangun tim. Ia sering dikritik terlalu konservatif, dan lebih suka menggunakan pendekatan David Moyes untuk membangun tim.
Musim ini, banyak yang percaya Arsenal tidak akan juara setelah menderita empat kekalahan beruntun di semua kompetisi domestik. Arsenal terlempar di Piala FA dan Piala Liga, dan membuat Manchesetr City kembali bersaing di papan atas Liga Primer.
Manchester City juga tidak sedang baik-baik saja, banyak kehilangan bola, yang berakibat kehilangan angka. Di sisi lain, Arteta kerap bisa memperbaiki keadaan meski susah payah meraih kemenangan dengan satu gol. Ini terliha di dua laga terakhir merlawan West Ham United dan Burnley.
Kini, Arsenal berharap menjadi juara baru Liga Champions — sesuatu pernah diimpikan Arsene Wenger. Itu bukan tidak mungkin.
