Site icon Jernih.co

Militer AS Terjepit di Hormuz, 22 Ribu Personel Terdampar dan Kapal Tanker Takut Melintas

JERNIH – Laporan terbaru dari media Israel, Maariv, mengungkapkan kondisi memprihatinkan yang dihadapi militer Amerika Serikat di Teluk. Mengutip mantan pejabat senior Shin Bet dan Mossad, Eyal Tsir Cohen, Amerika Serikat disebut sedang menghadapi “kebuntuan taktis” yang sangat pelik.

Sebanyak kurang lebih 22.000 personel angkatan laut AS, termasuk para pelaut, dilaporkan saat ini dalam kondisi terdampar di kawasan Teluk akibat penutupan jalur maritim oleh Iran.

Menurut Cohen, langkah AS menciptakan “gelembung keamanan” di sisi barat daya Teluk—tanpa memasuki wilayah Iran—hanya merupakan upaya defensif yang putus asa untuk memecah kebuntuan. Ia menilai peluang keberhasilan negosiasi saat ini sangat rendah, bahkan hampir nol.

“Tekanan yang ada saat ini tidak memungkinkan pencapaian tujuan utama, yaitu masalah nuklir. Proposal 14 poin yang diajukan Iran akhir pekan lalu itu lelucon. Tidak ada yang mampu mengambil keputusan dalam negosiasi ini,” tegas Cohen.

Kabar mengejutkan juga datang dari lapangan. Pejabat militer Israel mengungkapkan bahwa kapal-kapal tanker besar menolak untuk melintasi Selat Hormuz, meskipun pihak Angkatan Laut AS telah berusaha meyakinkan mereka dengan jaminan perlindungan.

Alasan penolakan tersebut karena jalur alternatif di sepanjang pesisir Oman yang diusulkan AS dinilai sangat berbahaya karena terlalu sempit dan dipenuhi terumbu karang dangkal bagi tanker minyak raksasa. Selain itu, Komando Pusat AS (CENTCOM) dinilai tidak memiliki jumlah kapal maupun kemampuan yang cukup untuk benar-benar melindungi konvoi tanker dari serangan Iran.

Meskipun Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dan Jenderal Dan Caine mengeklaim telah menyiapkan kekuatan besar terdiri dari 15 kapal perang dan 100 pesawat untuk menjaga selat, pihak Israel tetap skeptis.

Media Israel, Channel 12, melaporkan bahwa kekuatan tersebut dipandang “terbatas” dan tidak akan sanggup melindungi konvoi kapal dalam skala besar secara terus-menerus.

Untuk pertama kalinya, Ketua Kepala Staf Gabungan AS mengonfirmasi bahwa Iran telah menyerang pasukan AS lebih dari 10 kali sejak gencatan senjata diberlakukan. Serangan tersebut meliputi tembakan senjata api ke arah kapal perang AS dan dua kapal komersial yang dikawal tim keamanan militer Amerika.

Exit mobile version