Site icon Jernih.co

Misteri Perekonomian Gaza, Pusat Perbelanjaan Baru Berdiri di Tengah Kehancuran

Foto: Getty

Secara teoritis, kehancuran infrastruktur dan jatuhnya pendapatan seharusnya menghentikan total aktivitas konsumsi. Namun, Gaza menunjukkan pola berbeda melalui apa yang disebut sebagai “Shock Economy” (Ekonomi Kejutan).

JERNIH – Di antara tumpukan beton yang hancur dan jalanan yang masih menyisakan kawah bekas rudal, sebuah pemandangan ganjil muncul menantang logika. Sebuah kompleks perbelanjaan baru saja diresmikan di Kota Gaza. Fasad kacanya berkilauan, lampu-lampu warna-warni berpijar kontras dengan langit malam yang kelam, dan musik mengalun lembut dari koridor-koridornya yang bersih.

Di luar gedung, tenda-tenda pengungsian berdiri di atas debu. Di dalam gedung, dekorasi elektrik bergantungan di langit-langit tinggi, menyambut pengunjung yang datang untuk sekadar berfoto atau melihat-lihat etalase. Pemandangan ini bak fatamorgana di tengah wilayah yang oleh PBB disebut tengah mengalami “kehancuran total”.

Mengapa di tengah kelangkaan sumber daya dan harga material bangunan yang selangit, pusat-pusat komersial mewah justru bermunculan?

Bagi Nael Hamdan, seorang pedagang di wilayah Sheikh Radwan, membuka kembali toko kuenya bukan sekadar urusan mencari untung. Ia menghabiskan lebih dari US$7.000 (sekitar Rp110 juta)—angka yang sangat fantastis di tengah krisis—hanya untuk renovasi dan dekorasi.

“Meskipun jumlahnya besar dan memangkas margin laba, sangat penting bagi toko ini untuk terlihat rapi dan menarik,” ujar Hamdan kepada Al-Araby Al-Jadeed.

Menurutnya, investasi pada penampilan bukan lagi kemewahan, melainkan kebutuhan psikologis. “Orang-orang butuh ruang yang indah untuk merasa bahwa hidup perlahan kembali, bahwa Gaza belum mati. Ini adalah pesan bahwa kami masih mampu bertahan.”

Optimisme di Balik Tenda Pengungsian

Sentimen serupa dirasakan warga sipil seperti Yasmin Dahlan. Setelah rumahnya hancur dan ia terpaksa tinggal di tenda darurat, berdirinya restoran dan pusat perbelanjaan baru memberinya setitik harapan.

“Saat tentara Israel mengevakuasi Gaza Utara, kami merasa wilayah ini sudah habis,” kenang Yasmin. “Tapi pemandangan toko yang buka memberitahu kami bahwa ada orang-orang yang bersikeras untuk tetap tinggal. Ini memberi kami harapan bahwa roda kehidupan akan berputar kembali.”

Pakar ekonomi Mohammed Barbakh menyebut fenomena di Gaza sebagai bagian dari “Peculiar Economies” atau ekonomi aneh—sebuah kondisi yang tidak bisa dijelaskan dengan teori ekonomi klasik.

Secara teoritis, kehancuran infrastruktur dan jatuhnya pendapatan seharusnya menghentikan total aktivitas konsumsi. Namun, Gaza menunjukkan pola berbeda melalui apa yang disebut sebagai “Shock Economy” (Ekonomi Kejutan).

Beberapa karakteristik unik dari fenomena ini meliputi individu yang mengalami trauma hebat cenderung berbelanja atau mengunjungi tempat-tempat “normal” sebagai bentuk pelarian dan upaya merebut kembali kendali atas hidup mereka.

Selain itu terjadi redistribusi kekayaan yang ekstrem. Di saat tabungan mayoritas warga menguap, muncul kelompok kecil yang meraih laba luar biasa dari kelangkaan barang dan jasa di lingkungan berisiko tinggi.

Fenomena ini juga menunjukkan ketergantungan terhadap remitansi. Meski produksi lokal lumpuh, aliran bantuan kemanusiaan dan kiriman uang dari luar negeri tetap memicu daya beli terbatas di sektor konsumsi.

Meskipun mal-mal baru memberikan harapan visual, data makroekonomi Gaza tetap menunjukkan potret yang mengerikan. Laporan dari Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) mengungkapkan ekonomi Gaza merosot tajam sebesar 83% pada 2024, disusul penurunan 7,8% pada 2025.

PDB per kapita Gaza anjlok ke level tahun 2003, yang berarti Gaza kehilangan dua dekade pembangunan ekonomi. Sementara output per kapita hanya berkisar US$161 per tahun—salah satu yang terendah di planet ini.

Di tengah keruntuhan ini, upaya pemulihan mandiri terus bermunculan. Baru-baru ini, Kamar Dagang Gaza membuka pameran industri makanan lokal bertajuk “Our Production is Life” (Produksi Kami adalah Kehidupan).

Pameran ini menampilkan usaha kecil dan menengah milik keluarga yang berhasil bertahan di tengah perang. Tala Nashwan dari bagian hubungan masyarakat Kamar Dagang tersebut menegaskan bahwa dua tahun penghancuran tidak mampu memadamkan semangat pengusaha lokal.

Munculnya pusat komersial di Gaza mungkin tidak mencerminkan pemulihan ekonomi secara utuh. Namun, gedung-gedung dengan fasad kaca itu berdiri sebagai monumen perlawanan psikologis—sebuah pernyataan keras bahwa di atas puing-puing sekalipun, martabat dan keinginan untuk hidup normal tidak bisa diruntuhkan.

Exit mobile version