Dunia kini menyaksikan pergeseran besar. Jika Trump tidak melunakkan ambisinya di Greenland, “Perceraian Transatlantik” ini akan mengubah peta keamanan dunia secara permanen, meninggalkan Eropa dalam ketidakpastian dan Amerika dalam isolasi strategis.
JERNIH – Bayangan tentang “NATO tanpa Amerika Serikat” kini bukan lagi sekadar teori di atas kertas, melainkan ancaman nyata yang membuat para pemimpin Eropa terjaga di malam hari. Ketegangan ini mencapai puncaknya setelah Presiden Donald Trump secara agresif mendorong agar Greenland, wilayah otonom milik Denmark, menjadi negara bagian ke-51 Amerika Serikat.
Pada 16 Januari 2026, Trump secara terbuka menyatakan bahwa Greenland sangat krusial bagi keamanan nasional AS, terutama terkait sistem pertahanan rudal Golden Dome. Namun, klaim ini ditolak mentah-mentah oleh 31 anggota NATO lainnya yang melihat ambisi ini sebagai upaya pencaplokan wilayah sesama anggota aliansi.
Pecahnya aliansi ini ditandai dengan langkah berani Prancis dan Jerman. Mengutip laporan Eurasian Times, untuk pertama kalinya dalam sejarah, pasukan Uni Eropa mendarat di Nuuk, Ibu Kota Greenland, bukan untuk berlatih bersama AS, melainkan untuk melindungi wilayah tersebut dari potensi agresi sesama anggota NATO—Amerika Serikat sendiri.
Prancis telah mengirimkan 15 prajurit infanteri gunung sebagai langkah awal. Presiden Emmanuel Macron menegaskan ini adalah bentuk perlindungan kedaulatan wilayah Eropa. Sementara Jerman menurunkan tim pengintai sebanyak 13 personel.
Kehadiran pasukan gabungan mengibarkan bendera Uni Eropa di tanah Greenland ini sebagai pernyataan tegas bahwa pulau Arktik tersebut adalah bagian dari garis merah Eropa. Polandia bahkan memperingatkan bahwa jika AS terus menekan Denmark soal Greenland, hal ini akan menjadi “akhir dari aliansi NATO”.
Jika NATO benar-benar pecah dan AS menarik diri, pertanyaannya adalah: Mampukah Eropa bertahan sendiri? Laporan terbaru dari International Institute for Strategic Studies (IISS) yang bertajuk “Defending Europe Without the United States” mengungkapkan fakta pahit.
Selama ini, AS menanggung sekitar 65% dari total belanja militer NATO. Untuk menggantikan kapabilitas tempur AS, Eropa harus menyiapkan dana sebesar USD 1 Triliun (sekitar Rp15.600 triliun).
Angka ini diperlukan untuk pengadaan alutsista baru dalam jangka waktu 25 tahun ke depan. Eropa harus meningkatkan belanja militer mereka kembali ke level Perang Dingin, yakni di atas 3% dari PDB masing-masing negara.
Masalah utama Eropa bukan hanya uang, melainkan ketergantungan teknologi yang sudah mengakar selama 76 tahun. Tanpa dukungan AS, Eropa akan menghadapi tantangan fatal. Dibidang intelijen dan komando, AS memegang kendali mayoritas radar AWACS dan satelit pengintai. Tanpa ini, Eropa akan “bertempur dalam kebutaan”.
Sementara dari sisi logistik, kapabilitas pengisian bahan bakar di udara dan angkutan strategis hampir sepenuhnya bergantung pada aset Amerika. Titik terlemahnya adalah deterensi nuklir. Koleksi nuklir Prancis dan Inggris (sekitar 515 hulu ledak) jauh tertinggal dibandingkan Rusia yang memiliki lebih dari 5.000 hulu ledak—setara dengan total arsenal AS.
Amerika Juga Akan Merugi
“Perceraian” ini bukanlah kemenangan bagi pihak manapun. Jika AS meninggalkan NATO, mereka akan kehilangan akses pangkalan. AS tidak lagi bisa menggunakan 31 pangkalan militer permanen di Eropa, termasuk Ramstein di Jerman yang menjadi urat nadi operasi AS di Timur Tengah dan Afrika.
Sementara dari sisi ekspor senjata, penjualan peralatan militer AS ke Eropa melonjak drastis dari rata-rata USD 11 miliar (2017-2021) menjadi USD 68 miliar pada 2024. Jika Eropa mengejar otonomi strategis, industri pertahanan AS akan kehilangan pasar triliunan rupiah.
Meski para pemimpin Eropa sudah mulai bergerak—termasuk meminjam 150 miliar euro untuk produksi pertahanan—proses transisi menuju “NATO Eropa” akan memakan waktu setidaknya satu dekade.
Dunia kini menyaksikan pergeseran besar. Jika Trump tidak melunakkan ambisinya di Greenland, “Perceraian Transatlantik” ini akan mengubah peta keamanan dunia secara permanen, meninggalkan Eropa dalam ketidakpastian dan Amerika dalam isolasi strategis.
