JERNIH – Jajaran komando militer Iran menegaskan terus meningkatkan kesiapsiagaan operasional serta mempercepat perbaikan sistem pertahanan yang terdampak konflik belakangan ini. Juru Bicara Angkatan Darat Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Akrami Nia, menyatakan penempatan alutsista baru memungkinkan penataan ulang kekuatan militer sesuai kebutuhan fase pertempuran saat ini.
Di saat yang sama, Wakil Komandan Koordinasi Angkatan Udara Iran, Brigadir Jenderal Massoud Jafari, menyoroti keberadaan militer Amerika Serikat (AS) di kawasan Timur Tengah. Ia menegaskan bahwa pangkalan-pangkalan militer AS memiliki satu fungsi utama, yakni sebagai titik tolak serangan terhadap Iran.
Jafari menunjuk ekspansi pangkalan udara Al Udeid di Qatar sebagai bukti nyata bahwa pembangunan fasilitas tersebut sejak awal tidak pernah ditujukan untuk membendung negara mana pun selain Iran.
Meski Al Udeid dilindungi sistem pertahanan udara yang sangat rapat, Jafari mengklaim pilot jet tempur Sukhoi Su-24 Iran tetap berhasil menerobos dan melakukan serangan ke pangkalan tersebut. Jafari mengungkapkan bahwa para pilot Angkatan Udara Iran telah dilatih secara khusus untuk menjalankan misi tempur tanpa mengandalkan Global Positioning System (GPS) maupun navigasi inersia. Dalam skenario pertempuran tanpa sinyal navigasi modern, para pilot sepenuhnya bergantung pada peta manual dan instrumen penerbangan dasar.
Di sisi diplomasi, Presiden AS Donald Trump sempat menyampaikan nada optimistis bahwa pembicaraan dengan Teheran “berjalan baik”, meski sehari sebelumnya sempat mengancam akan meluncurkan serangan dahsyat jika Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, mengonfirmasi bahwa Teheran dan Oman hampir menyepakati pemahaman bersama mengenai pengaturan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, yang mencakup peta jalur masuk-keluar kapal, kedaulatan pesisir, hingga pusat koordinasi bersama. Namun, pihak Iran menegaskan pemblokiran baru akan dibuka penuh jika Washington memenuhi sejumlah syarat mutlak.
Laporan kantor berita Rusia RIA Novosti mengutip pejabat senior Pakistan mengonfirmasi bahwa Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dijadwalkan tiba di Islamabad untuk melanjutkan peran mediasi Pakistan antara Teheran dan Washington di tengah eskalasi konflik yang masih berlangsung.
