Site icon Jernih.co

Pasukan Bersenjata Irak Memasuki Iran, Beri Dukungan Hadapi Ancaman Perang Darat AS

Para pelayat menghadiri upacara pemakaman anggota Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) yang tewas dalam serangan di Baghdad, di tengah perang AS-Israel melawan Iran, di Najaf, Irak, 14 Maret 2026 (Foto: Reuters)

Masuknya pasukan Irak ke Iran lewat Shalamcheh itu punya nilai simbolis yang kuat banget—dulu musuh, sekarang jadi kawan karib demi menghadapi AS.

JERNIH – Gelombang konvoi kendaraan dari kelompok Hashd al-Shaabi (PMF) asal Irak dilaporkan telah melintasi perbatasan menuju Iran sejak Sabtu (29/3/2026). Kedatangan mereka dikemas dalam misi “bantuan kemanusiaan,” namun pengamat melihat ini sebagai pesan dukungan militer yang kuat bagi Teheran di tengah ancaman serangan darat pasukan koalisi.

Konvoi yang terdiri dari puluhan truk pikap ini berangkat dari Basra, Irak Selatan, dan memasuki Iran melalui Shalamcheh—sebuah kota bersejarah yang menjadi medan tempur berdarah saat perang Irak-Iran tahun 1980-an.

Media pemerintah Iran, Al-Alam, menyebut ini sebagai “Kampanye Loyalitas” yang membawa 70 ton bahan makanan dan pasokan medis. Meski membawa bantuan, konvoi tersebut diisi oleh pria berpakaian militer dan ulama bersorban yang mengibarkan bendera Irak serta bendera Hizbullah Lebanon—dua pilar utama “Poros Perlawanan” pimpinan Teheran.

Kehadiran pejuang Irak ini terjadi saat Washington mulai secara terbuka membicarakan rencana infiltrasi darat ke wilayah Iran. AS dikabarkan mengincar pulau-pulau strategis di pesisir selatan Iran yang menjadi pusat pengolahan minyak dan gas, sekaligus kunci kendali atas Selat Hormuz.

Sementara Presiden Donald Trump di dalam pesawat kepresidenannya pada Senin menyatakan bahwa rezim di Teheran telah “hancur” dan ia sedang berurusan dengan struktur pemerintahan yang berbeda dari sebelumnya.

Di sisi lain, Iran terus memperketat keamanan internal di tengah pemutusan akses internet nasional yang telah berlangsung satu bulan. Pasukan Basij dan IRGC (Garda Revolusi) mendirikan blokade bersenjata berat di jalan-jalan Teheran untuk meredam perbedaan pendapat.

Pemerintah Iran juga meluncurkan kampanye “Pejuang Pembela Tanah Air” yang secara resmi mulai merekrut anak-anak di atas usia 12 tahun untuk aktivitas lapangan.

Selain ancaman dari Selatan, AS dan Israel sempat mempertimbangkan untuk menggunakan kelompok bersenjata Kurdi di Irak guna membuka front darat dari arah utara Iran. Namun, laporan Channel 12 Israel menyebut rencana ini mungkin tertunda akibat kebocoran informasi ke media.

Iran telah merespons ancaman ini secara agresif. Ali Akbar Ahmadian, pejabat senior Dewan Pertahanan Iran, memperingatkan bahwa Teheran akan membom “seluruh fasilitas” di wilayah Kurdi Irak jika para pejuang Kurdi berani melintasi perbatasan masuk ke Iran.

Exit mobile version