Site icon Jernih.co

Pembunuhan Anak-anak Palestina oleh Militer dan Pemukim Ilegal Israel Mengalami Lonjakan Signifikan

JERNIH — Badan Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) mengeluarkan peringatan darurat mengenai “harga tak ternilai” yang harus dibayar oleh anak-anak Palestina akibat eskalasi operasi militer dan kekerasan pemukim ilegal Israel.

Dalam pernyataan resminya pada kemarin, UNICEF menyebut pembunuhan, penahanan, dan trauma yang dialami anak-anak di Jalur Gaza serta Tepi Barat yang diduduki telah melonjak ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

UNICEF menegaskan bahwa kehancuran di Gaza dan militerisasi di Tepi Barat bukanlah insiden terisolasi, melainkan sebuah kegagalan sistematis dalam melindungi anak-anak di zona konflik bersenjata, ditandai dengan pola penggunaan kekuatan mematikan yang berlebihan di area padat penduduk sipil.

“Anak-anak Palestina memiliki hak perlindungan yang sama dengan anak-anak lain di dunia dalam situasi konflik. Namun, mereka terus-menerus dihadapkan pada pengeboman, tembakan peluru tajam, serangan pemukim ilegal, hingga penggerebekan berulang di rumah dan sekolah mereka,” tulis pernyataan resmi UNICEF.

Pernyataan keras UNICEF ini dirilis menyusul tragedi memilukan yang menimpa Sam Abu Haikal, bayi Palestina berusia tujuh bulan. Bayi mungil tersebut tewas seketika setelah kepalanya ditembak oleh tentara Israel yang melepaskan tembakan ke arah mobil keluarganya di selatan Hebron, Tepi Barat, pada Jumat pekan lalu.

Insiden berdarah ini menjadi gambaran nyata betapa mengerikannya ancaman yang dihadapi anak-anak Palestina saat ini dari pasukan Israel—di mana mereka bahkan tidak lagi aman meski berada di dalam dekapan hangat orang tua mereka sendiri.

Ratusan Nyawa Anak Melayang Akibat Peluru Tajam

Sejak pecahnya perang pada Oktober 2023 hingga pertengahan tahun 2026, situasi di Tepi Barat yang diduduki terus memburuk akibat penggerebekan hampir setiap hari oleh militer Israel yang dikombinasikan dengan aksi anarkis pemukim ilegal.

Pasukan Israel dan pemukim ilegal telah membunuh sedikitnya 1.080 warga Palestina di Tepi Barat, termasuk di antaranya puluhan anak-anak (berdasarkan data Kementerian Kesehatan Palestina). Lonjakan penggunaan peluru tajam dan serangan brutal pemukim ekstremis ini sengaja digenjot dengan memanfaatkan pengalihan isu dari perang besar yang sedang berlangsung di Jalur Gaza.

Sementara itu, kondisi di Jalur Gaza jauh lebih mengerikan. UNICEF berulang kali menjuluki wilayah kantong Palestina tersebut sebagai “graveyard for children” atau kuburan bagi anak-anak.

Indikator Krisis Anak-Anak GazaData Dampak Kerusakan (Update Hingga 2026)
Korban Jiwa Anak-AnakHingga September 2025 saja, sedikitnya 20.000 anak Gaza dipastikan tewas, dan angka ini terus merangkak naik secara signifikan di tahun 2026 akibat pengeboman tanpa henti.
Krisis SosialRatusan ribu anak kini menyandang status yatim piatu, kehilangan keluarga, dan terlantar di kamp pengungsian yang tidak layak.
Ancaman Pasca-BomRuntuhnya total sistem kesehatan, pasokan air bersih, dan sanitasi kini mengancam nyawa anak-anak yang selamat melalui penyebaran penyakit menular dan kelaparan akut (malnutrisi ekstrim) akibat blokade ketat Israel.

UNICEF mendesak dengan sangat kepada seluruh pihak terlibat, serta negara-negara sekutu yang terus memasok persenjataan ke Israel, untuk segera menegakkan kewajiban mereka di bawah hukum humaniter internasional dan hak asasi manusia. Badan PBB ini menuntut penghentian segera atas seluruh serangan ilegal terhadap warga sipil dan mendesak adanya akuntabilitas hukum serta pengadilan internasional atas setiap pelanggaran berat tersebut.

Exit mobile version