JERNIH – Pengadilan Banding Paris membuka peluang bagi tokoh sayap kanan kontroversial, Marine Le Pen, untuk tetap maju dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) Prancis 2027 mendatang. Kendati demikian, politikus berusia 57 tahun tersebut harus menerima syarat yang tak biasa: berkampanye sembari mengenakan gelang pemantau elektronik (ankle tag) di kakinya.
Keputusan krusial yang diketok pada Selasa (7/7/2026) waktu setempat ini menjadi babak baru yang sangat dinamis dalam lanskap politik Prancis, mengingat Le Pen digadang-gadang sebagai salah satu kandidat terkuat untuk menggantikan Presiden Emmanuel Macron tahun depan.
Dalam amar putusannya, Pengadilan Banding Paris menyatakan Le Pen terbukti bersalah atas kasus penyalahgunaan dana publik terkait skandal lapangan kerja fiktif di Parlemen Eropa. Namun, hakim memilih melunakkan hukuman hak politiknya.
Pengadilan memangkas hukuman larangan menduduki jabatan publik menjadi 45 bulan dari yang sebelumnya vonis pengadilan tingkat pertama pada Maret tahun lalu selama lima tahun. Dari 45 bulan tersebut, sebanyak 30 bulan di antaranya ditangguhkan. Sementara 15 bulan sisanya diperkirakan akan dihitung mundur (backdated) sejak vonis pertama tahun lalu.
Dengan pemotongan masa tahanan dan hak politik ini, secara hukum pintu Le Pen untuk mencalonkan diri pada 2027 kini resmi terbuka kembali.
Meskipun lolos dari pembatalan pencalonan, Le Pen kini menghadapi dilema logistik dan citra yang berat. Sisa masa hukumannya harus dijalani sebagai tahanan rumah, yang artinya ia wajib mengenakan gelang pemantau elektronik ke mana pun ia pergi.
Kini, keputusan ada di tangan Le Pen untuk menilai apakah realistis bertarung di panggung pilpres dengan keterbatasan ruang gerak tersebut. “Ketika Anda menjadi seorang calon presiden, Anda harus sepenuhnya bebas untuk bergerak,” ujar Le Pen dalam sebuah wawancara televisi pekan lalu. “Saya tidak bisa bergantung pada izin seorang hakim hanya untuk sekadar menghadiri rapat umum kampanye.”
Jika kondisi penahanan ini dirasa terlalu menjerat dan mustahil untuk dipakai berkampanye, Le Pen sebelumnya menyatakan siap menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan kepada tangan kanannya yang masih berusia 30 tahun, Jordan Bardella, yang saat ini menjabat sebagai Pemimpin Partai National Rally (RN).
Mengutip Al Jazeera, hasil jajak pendapat (polling) terbaru menunjukkan bahwa baik Marine Le Pen maupun Jordan Bardella saat ini memiliki peluang yang sangat besar untuk memenangkan pemilu 2026/2027.
Le Pen dijadwalkan segera tampil dalam wawancara langsung di stasiun televisi utama Prancis, TF1, pada pukul 8 malam waktu setempat untuk mengumumkan secara resmi apakah dirinya akan tetap maju bertarung sebagai calon presiden atau memilih mundur dan digantikan oleh Bardella.
