Site icon Jernih.co

Pentagon Sembunyikan Korban Serangan Iran, Puluhan Tentara AS Cedera di Yordania Tanpa Laporan Resmi

Pentagon terlihat dari pesawat yang lepas landas dari Bandara Nasional Ronald Reagan, Washington, di Arlington, Virginia. [Foto: Defense.gov]

JERNIH — Pemerintah Amerika Serikat kembali diterpa isu transparansi. Departemen Pertahanan AS (Pentagon) dilaporkan menyembunyikan data puluhan prajurit militer yang mengalami luka-luka akibat gelombang serangan rudal dan drone Iran di Yordania pekan lalu.

Laporan eksklusif The New York Times yang mengutip pejabat internal AS mengungkapkan bahwa pangkalan militer Amerika di Yordania dihantam setidaknya tiga kali oleh serangan udara Iran. Insiden tersebut melukai puluhan personel serta merusak sejumlah helikopter tempur, namun sama sekali tidak dirilis ke publik oleh Pentagon.

Serangan tersembunyi ini terjadi hanya beberapa hari sebelum serangan lanjutan Iran di Yordania yang menewaskan dua tentara AS dan menyebabkan satu prajurit lainnya hilang.

Meskipun Kematian dua prajurit tersebut sempat diumumkan resmi dan dijadikan alasan oleh Presiden Donald Trump untuk mengintensifkan kampanye pemboman terhadap Iran, Pentagon tetap menolak membeberkan lokasi pasti maupun rincian kronologi serangan tersebut.

Eskalasi pertempuran yang kembali memanas dalam sepekan terakhir telah mengonfirmasi tewasnya tiga prajurit AS. Selain dua prajurit di Yordania—yang diidentifikasi sebagai Tyler James Feehan (25) dan Isabella Gonzales (19)—prajurit ketiga tewas di Irak utara pada Sabtu lalu akibat ledakan amunisi drone Iran yang gagal meledak.

Di sisi lain, Tehran secara terbuka mengklaim bertanggung jawab atas rangkaian serangan terhadap berbagai fasilitas militer berfasilitas AS di Yordania, termasuk Pangkalan Udara Muwaffaq Salti dan Bandara Aqaba. Iran juga mengklaim menargetkan pusat komando AS di pangkalan Al-Tanf, Suriah.

Juru Bicara Pentagon, Sean Parnell, membantah tuduhan bahwa pihak militer sengaja menyembunyikan atau memanipulasi angka korban demi kepentingan politik.

Namun, data menunjukkan bahwa sejak perang meletus pada 28 Februari lalu—saat Israel dengan dukungan AS melancarkan kampanye militer terhadap Iran—sedikitnya 17 prajurit AS telah tewas dan 427 lainnya luka-luka.

Sejak runtuhnya gencatan senjata pekan lalu, Pentagon terkesan amat tertutup. Pihak militer AS menolak membeberkan sejauh mana pertempuran ini menguras stok rudal pencegat pertahanan udara mereka, maupun memberikan penilaian terbuka mengenai tingkat kerusakan kemampuan rudal Iran. Kebijakan “tutup mulut” ini kian memicu keraguan publik AS terhadap transparansi pengelolaan konflik di Timur Tengah.

Exit mobile version