JERNIH – Harapan, doa, dan mimpi anak-anak Palestina dari Jalur Gaza yang terkepung akhirnya berhasil mencapai titik tertinggi di bumi. Sebuah layang-layang yang dipenuhi pesan tertulis dan tanda tangan anak-anak Gaza sukses dibawa tim pendaki hingga ke puncak Gunung Everest.
Tim ekspedisi berhasil menapakkan kaki di puncak tertinggi dunia tersebut pada hari Kamis pukul 10.48 waktu setempat (05.03 GMT). Kabar emosional ini dikonfirmasi langsung melalui unggahan media sosial oleh Mostafa Salameh, pendaki senior berdarah Yordania-Palestina yang menjadi inisiator sekaligus konseptor utama misi kemanusiaan tersebut.
Meskipun Salameh sendiri tidak bisa ikut menapakkan kaki di titik puncak akibat mengalami frostbite (radang dingin) dan penyumbatan pembuluh darah di tangan kirinya saat berada di Base Camp 1, misinya tetap berhasil dituntaskan oleh tim yang ia bentuk.
Mengutip Al Jazeera, misi membawa layang-layang harapan ini dieksekusi oleh tim pendaki Sherpa Nepal yang dipimpin langsung oleh penjelajah sekaligus pembuat film asal Italia, Leonardo Avezzano. Salameh meluncurkan ekspedisi ekstrem ini bukan tanpa alasan.
Ia membidik dua target besar. Pertama, penggalangan donasi masif sebesar USD 10 juta (sekitar Rp160 miliar) yang akan disalurkan sepenuhnya untuk bantuan medis anak-anak di Jalur Gaza. Kedua, adalah melakukan kampanye global untuk menarik perhatian mata dunia internasional terhadap genosida dan penderitaan luar biasa yang harus dihadapi anak-anak Gaza akibat agresi militer Israel.
“Setelah berbulan-bulan melakukan persiapan, pengorbanan, pelatihan, ketakutan, harapan, doa, dan memikul beban pesan yang jauh lebih besar dari diri mereka sendiri… layang-layang yang membawa impian anak-anak Gaza kini terbang di atas titik tertinggi di bumi,” ujar Salameh dalam video emosionalnya di Instagram.
“Dari reruntuhan dan rasa sakit di Gaza… menuju atap dunia. Sebuah mimpi yang menolak untuk mati,” tulisnya pada takarir video tersebut.
Pertarungan Nyawa di Ketinggian 8.848 Meter
Mendaki Everest adalah salah satu taruhan nyawa terbesar karena kadar oksigen yang merosot drastis hingga menyisakan 15 persen saja di dekat puncak. Salameh memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada Leonardo Avezzano dan tim Sherpa yang setia mengawal misi berbahaya ini melewati Death Zone (zona kematian).
“Malam ini, di ketinggian 8.848 meter di zona kematian—di mana setiap langkah terasa seperti pertempuran antara hidup dan kelelahan ekstrem—Leonardo membawa layang-layang itu dengan keberanian, hati, dan tujuan yang jelas. Saya sangat bangga pada saudara saya, Leonardo, karena memercayai misi ini dan membawa suara, nama, harapan, serta impian anak-anak yang layak dilihat oleh dunia,” tambah Salameh.
Meski layang-layang telah berkibar di puncak, Salameh menegaskan bahwa “misi belum sepenuhnya selesai.” Target krusial berikutnya bagi Leonardo dan tim adalah berhasil turun kembali ke Base Camp dengan selamat, sembari memantau kondisi cuaca buruk untuk menentukan apakah mereka harus bertahan di Camp 4 atau langsung turun ke Camp 2.
Bagi Mostafa Salameh, aksi nekat ini terasa sangat personal. Pria berusia 56 tahun ini bukanlah pendaki amatir; ia adalah satu dari 20 orang di dunia yang berhasil menyelesaikan Explorer’s Slam—prestasi langka menaklukkan tujuh puncak tertinggi di tujuh benua serta mencapai Kutub Utara dan Kutub Selatan. Atas prestasinya menaklukkan Everest pertama kali pada 2008, ia bahkan dianugerahi gelar ksatria oleh Raja Abdullah II dari Yordania.
Meskipun ia telah berjanji kepada banyak orang terdekatnya untuk tidak pernah kembali ke Everest yang mematikan, Salameh melanggar janji itu demi Palestina. Pengalaman masa kecilnya sebagai pengungsi membuat hatinya hancur saat melihat langsung kondisi anak-anak korban perang Gaza yang ia temui di perbatasan Mesir.
“Ini sangat personal bagi saya. Aksi ini menyentuh sisi anak-anak dalam diri saya, karena saya tahu persis bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang tumbuh di kamp pengungsian. Risiko kematian di ketinggian 8.000 meter dengan oksigen 15 persen ini sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang harus ditanggung oleh warga Palestina di Gaza,” ungkap Salameh.
Salameh menutup pesannya dengan menyatakan bahwa keteguhan hati bangsa Palestina adalah inspirasi terbesarnya untuk terus mendaki. “Rumah mereka dihancurkan, dan mereka langsung mendirikan tenda tepat di atas reruntuhan itu untuk tetap bertahan di tanah mereka. Saya belajar pelajaran besar dari mereka: tentang martabat, tentang kebebasan. Saya belajar untuk menjadi pria yang jujur pada diri sendiri, bukan sekadar menjadi kuat,” pungkasnya seraya mengakhiri video dengan seruan lantang, “Free, Free Palestine!”
