Site icon Jernih.co

Prabowo Ambil Langkah Berisiko, Dukung Dewan Perdamaian Trump di Tengah Penolakan UE dan China

Foto: AP

Indonesia memimpin barisan bersama tujuh kekuatan Muslim lainnya—Turki, Mesir, Yordania, Pakistan, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA). Bergabungnya Jakarta dalam dewan ini membawa misi ideologis yang tegas.

JERNIH – Panggung World Economic Forum (WEF) 2026 menjadi saksi bisu pergeseran peta geopolitik Timur Tengah. Di bawah sorotan lampu Congress Hall, Davos, Kamis (22/1/2026), Presiden RI Prabowo Subianto resmi menandatangani piagam “Board of Peace” atau Dewan Perdamaian Gaza, sebuah entitas internasional baru yang diinisiasi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Momen ini mengukuhkan posisi Indonesia sebagai pilar utama dalam aliansi lintas benua yang bertekad mengakhiri tragedi kemanusiaan di Palestina melalui jalur diplomasi yang lebih pragmatis.

Presiden Prabowo mencuri perhatian dunia saat duduk di barisan paling depan, tepat di sebelah kiri Donald Trump. Di sisi kanan Trump, tampak Perdana Menteri Hungaria, Viktor Orbán. Mengenakan setelan jas abu-abu dengan kopiah hitam yang ikonik, Prabowo menunjukkan karisma identitas nasional di tengah para pemimpin dunia.

Suasana cair menyelimuti prosesi penandatanganan. Trump sempat melontarkan kelakar yang memancing tawa Prabowo dan Orbán, disusul dengan jabat tangan erat dan tepukan hangat di punggung Presiden RI usai dokumen diteken—sebuah gestur yang menyiratkan hubungan personal yang sangat kuat antara Jakarta dan Washington.

Indonesia memimpin barisan bersama tujuh kekuatan Muslim lainnya—Turki, Mesir, Yordania, Pakistan, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA). Bergabungnya Jakarta dalam dewan ini membawa misi ideologis yang tegas.

Seperti gencatan senjata permanen untuk menghentikan pertumpahan darah secara total, menjadi pengawas mobilisasi sumber daya internasional bagi rakyat Gaza serta memastikan transisi Gaza tetap bermuara pada Two-State Solution atau Solusi Dua Negara yang berdaulat sesuai hukum internasional.

“Ini kesempatan bersejarah. Benar-benar peluang nyata untuk mencapai perdamaian di Gaza. Indonesia siap ikut serta habis-habisan untuk memastikan penderitaan rakyat Gaza berakhir,” tegas Prabowo di hadapan awak media internasional.

Dalam peluncuran tersebut, tim dari Amerika Serikat memaparkan rencana rekonstruksi yang revolusioner. Dewan Perdamaian Gaza tidak hanya fokus pada stabilitas keamanan, tetapi juga memproyeksikan Gaza sebagai pusat bisnis baru dengan transformasi ekonomi untuk menghapus kemiskinan. Juga Pembukaan akses ekonomi bagi warga Palestina serta bantuan kemanusiaan tanpa hambatan dengan membuka sumbat logistik yang selama ini mencekik kawasan tersebut.

Meskipun didukung lebih dari 20 negara—termasuk Maroko, Bahrain, hingga Argentina—inisiatif Trump ini tidak berjalan mulus bagi semua pihak. Sebagian besar negara Uni Eropa/UE (seperti Prancis) dan China secara tegas menolak bergabung. Mereka memilih tetap berada di bawah payung PBB dan khawatir dewan baru ini akan menggerus peran sentral organisasi dunia tersebut.

Namun, bagi Presiden Prabowo, urgensi menyelamatkan nyawa di Gaza melampaui perdebatan prosedural di markas PBB. Langkah berani ini menandai posisi tawar Indonesia yang kian kuat; tidak hanya sebagai penonton, tetapi sebagai arsitek perdamaian dunia.

Exit mobile version