Site icon Jernih.co

Rakyat AS Mulai Jengah, Survei Ungkap 61 Persen Warga Sebut Serangan ke Iran Adalah Kesalahan Besar

Foto: Getty

JERNIH – Mayoritas rakyat Amerika Serikat mulai berbalik arah menentang kebijakan militer pemerintahannya sendiri. Sebuah jajak pendapat terbaru menunjukkan bahwa sebagian besar warga AS kini percaya bahwa keputusan untuk melakukan aksi militer terhadap Iran adalah sebuah kesalahan besar, seiring dengan memburuknya ekonomi global dan lonjakan biaya hidup di dalam negeri.

Berdasarkan jajak pendapat Washington Post-ABC-Ipsos yang dirilis Jumat (1/5/2026), sebanyak 61 persen responden menyatakan penggunaan kekuatan militer terhadap Iran adalah langkah yang salah. Hanya 36 persen yang masih mendukung keputusan tersebut.

Rendahnya dukungan publik ini dipicu oleh dampak nyata perang terhadap harga kebutuhan pokok dan energi di Amerika. Perang yang dimulai sejak akhir Februari 2026 oleh AS dan Israel ini telah menyebabkan harga bahan bakar global melonjak tajam.

Data survei mengungkap perubahan perilaku drastis warga AS. Sebanyak 44 persen responden mengaku terpaksa mengurangi aktivitas mengemudi karena harga bensin yang mahal. 42 persen responden terpaksa memangkas biaya pengeluaran rumah tangga.

Bagi warga dengan penghasilan di bawah $50.000 (sekitar Rp800 juta) per tahun, tekanan ini jauh lebih berat, di mana hampir 60 persen dari mereka mulai melakukan pengetatan anggaran secara ekstrem.

Situasi ini membuat tingkat kepuasan (approval rating) Presiden Donald Trump merosot ke titik terendah. Para pemilih merasa frustrasi dengan masalah ekonomi dan biaya hidup yang tak terkendali.

Banyak warga yang menilai perang ini bertolak belakang dengan janji kampanye Trump untuk menjauhkan AS dari “perang luar negeri yang tidak perlu.” Sekitar 46 persen responden menyatakan keputusan menyerang Iran tidak konsisten dengan posisi yang diambil Trump saat mencalonkan diri sebagai presiden.

Meskipun jumlah korban jiwa di pihak militer AS relatif rendah dibandingkan konflik sebelumnya, jajak pendapat ini menemukan bahwa perang di Iran saat ini sama tidak populernya dengan Perang Irak pada periode kekerasan puncaknya di tahun 2006, serta Perang Vietnam pada awal 1970-an.

Ketika ditanya mengenai keberhasilan operasi militer sejauh ini, 39 persen menilai operasi tersebut gagal, 19 persen menilai sukses dan 41 persen menyatakan masih terlalu dini untuk menyimpulkan.

Meski secara nasional tidak populer, dukungan terhadap perang ini tetap kokoh di internal Partai Republik (pendukung Trump). Hampir 80 persen pendukung Republik setuju bahwa menyerang Iran adalah keputusan yang benar, meski mereka terbagi rata dalam menilai apakah operasi tersebut sudah berhasil atau belum.

Exit mobile version