Site icon Jernih.co

Rudal Iran Hancurkan Markas Armada ke-5 AS di Bahrain, Kerugian Tembus Rp6,5 Triliun!

JERNIH – Sebuah investigasi bombastis yang dirilis oleh media terkemuka Amerika Serikat, The Wall Street Journal (WSJ), membongkar fakta mengejutkan yang selama ini ditutupi rapat oleh Pentagon.

Rangkaian serangan rudal dan drone yang dilancarkan Iran sepanjang akhir Februari hingga Juni 2026 dilaporkan telah meluluhlantakkan Pangkalan Angkatan Laut AS (Naval Support Activity/NSA) di Bahrain. Kerugian infrastruktur di pangkalan tersebut diperkirakan menembus angka USD 400 juta atau setara dengan Rp6,5 triliun.

Berdasarkan analisis citra satelit, rekaman video media sosial, serta wawancara eksklusif dengan personel militer aktif dan veteran AS, WSJ mengungkapkan bahwa Markas Besar Komando Armada Kelima (Fifth Fleet) AS—yang bertanggung jawab penuh atas operasi militer di Asia Barat dan Afrika Utara—kini dalam kondisi hancur total dan tidak bisa digunakan lagi (unusable).

Serangan presisi Teheran dilaporkan menghantam tiga titik vital di NSA Bahrain, meliputi zona operasi kapal di dermaga, sektor administrasi utama, hingga kompleks pergudangan logistik.

Beberapa fasilitas penting yang terkonfirmasi hancur lebur antara lain Markas Komando Armada ke-5 AS yang bisa menelan biaya konstruksi hampir setengah dari total kerugian (sekitar USD 200 juta).

Kompleks Gugus Tugas 59 (Task Force 59) yang merupakan unit elite bertenaga AI milik AS yang mengontrol armada drone mata-mata juga menjadi sasaran rudal Iran. Fasilitas ini rata dengan tanah bersama gudang-gudang logistik milik Banz Group Bahrain yang disewa militer AS.

Dua unit terminal satelit super canggih senilai USD 40 juta (Rp650 miliar) juga hancur di awal serangan, memutus jalur komando logistik udara. Demikian pula barak militer berkapasitas 450 personel, pusat pelatihan keamanan laut, tangki air bersih, kafetaria, hingga gudang darurat armada ambulans.

Investigasi WSJ juga menyebutkan bahwa Bahrain bukan satu-satunya korban. Di periode yang sama, sedikitnya 20 situs militer dan diplomatik AS di seluruh Timur Tengah turut menjadi sasaran amukan rudal Iran.

Akal-akalan Pentagon Tutupi Borok Perang

Hingga berita ini diturunkan, Pentagon masih enggan membuka data kerusakan ini kepada publik. Berdasarkan data Kementerian Perang AS, estimasi kerugian Rp6,5 triliun tersebut baru menghitung biaya rekonstruksi bangunan saja, belum termasuk ongkos pembersihan puing-puing sisa ledakan.

Lembaga kajian Center for Strategic and International Studies (CSIS) memproyeksikan total biaya perang AS di kawasan ini telah membengkak mendekati USD 40 miliar (sekitar Rp654 triliun), di mana USD 2,2 hingga USD 5,1 miliar di antaranya murni akibat kerusakan pangkalan. Angka ini jauh melampaui klaim sepihak Pentagon yang hanya menyebut angka USD 29 kilobar. Kontroler Pentagon, Jay Hurst, bahkan mengakui pihaknya sama sekali tidak memasukkan variabel kerusakan pangkalan dalam laporan resmi mereka.

WSJ juga menemukan fakta bahwa pada April 2026 lalu, Washington sengaja menekan perusahaan penyedia citra satelit komersial untuk membatasi akses visual ke pangkalan Bahrain guna menyembunyikan skala kehancuran dari mata dunia.

Bahkan, ketika didesak oleh kongres terkait total kerugian, Menteri Perang AS Pete Hegseth justru mengelak dengan melemparkan retorika bahwa ongkos ini jauh lebih murah ketimbang membiarkan Iran memiliki senjata nuklir.

Implikasi dari hancurnya pangkalan di Bahrain ini memaksa Washington memikirkan ulang seluruh cetak biru penempatan militernya di Timur Tengah. NSA Bahrain yang dibangun lebih dari 50 tahun lalu diakui tidak lagi memiliki sistem pertahanan yang mumpuni untuk menahan gempuran teknologi rudal balistik presisi dan kamikaze drone milik Iran saat ini.

Cetak biru restrukturisasi besar-besaran kini tengah digodok. Beberapa opsi darurat yang sedang dipertimbangkan militer AS antara lain merombak total arsitektur pertahanan pangkalan Bahrain serta mengurangi drastis jumlah personel dan jet tempur di Kuwait serta Arab Saudi.

Militer AS juga memindahkan pusat komando dan kendali (Command and Control) ke bawah tanah (bungker bunker kokoh) dan menggeser koordinat operasi lebih jauh ke arah Barat agar berada di luar jangkauan tembak rudal Iran.

Menariknya, dokumen internal tersebut menyebut Israel sebagai kandidat terkuat wadah pangkalan baru AS. Sepanjang perang berlangsung, Israel tercatat telah menampung puluhan jet tempur dan pesawat tanker pengisi bahan bakar milik militer Amerika Serikat.

Meski didera kehancuran masif, para pensiunan komandan Angkatan Laut AS memprediksi Washington tidak akan sepenuhnya angkat kaki dari Bahrain demi menjaga stabilitas politik luar negeri dengan sekutu lama mereka di Teluk Arab tersebut.

Exit mobile version