JERNIH – Di tengah runtuhnya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, sebuah pemandangan luar biasa tertangkap kamera di pangkalan udara RAF Mildenhall, Inggris. Sebuah pesawat tanker raksasa, KC-135R Stratotanker dengan nomor seri 59-1444, mendarat dengan kondisi “babak belur” namun tetap perkasa.
Tubuh pesawat tua ini dipenuhi puluhan tambalan logam tidak beraturan—seperti plester raksasa yang menutupi luka-luka di sekujur badan, sayap, hingga ekor pesawat. Ini adalah bukti bisu dahsyatnya serangan rudal Iran yang menghantam pangkalan udara Prince Sultan di Arab Saudi beberapa waktu lalu.
Pesawat milik unit Ohio Air National Guard ini berhasil melakukan “self-deploy” atau terbang mandiri dari Timur Tengah ke Inggris berkat teknik Battle Damage Repair (BDR). BDR adalah prosedur perbaikan cepat di medan perang untuk mengembalikan kemampuan terbang minimal sebuah pesawat agar tidak menjadi “beban” atau target empuk musuh di pangkalan.
Alih-alih menunggu perbaikan besar di depo militer, tim teknis menyumbat lubang-lubang akibat serpihan rudal (shrapnel) agar sang tanker bisa segera mengudara dan pulang ke AS untuk perbaikan total.
Perjalanan pulang ini tidaklah mulus. Pada 10 April 2026, saat terbang di atas Laut Mediterania, pesawat ini sempat mengirimkan kode darurat global “Squawk 7700”. Ia terpaksa turun dari ketinggian dan mengalihkan pendaratan ke Bandara Chania di Yunani.
Para ahli menduga, tambalan darurat pada badan pesawat menyebabkan masalah pada tekanan kabin (pressurization). Namun, setelah drama di ketinggian tersebut, sang veteran akhirnya berhasil menyentuh landasan di Inggris dua hari kemudian.
‘Sitting Ducks’ di Prince Sultan
Insiden ini membuka fakta pahit bagi militer AS. KC-135R, yang merupakan pesawat pendukung non-siluman berukuran besar, ternyata menjadi “bebek lumpuh” (sitting ducks) saat berada di pangkalan garis depan seperti Prince Sultan.
Berjarak hanya 600 km dari pesisir Iran, pangkalan tersebut tidak memiliki hanggar beton yang diperkuat (hardened shelters) untuk pesawat sebesar KC-135. Akibatnya, saat hujan rudal dan drone Iran datang, pesawat-pesawat bernilai jutaan dolar ini hanya bisa “pasrah” terparkir di apron terbuka.
Kerusakan pada lima unit tanker KC-135R di Prince Sultan, ditambah tabrakan di udara di Irak, membuat armada pengisi bahan bakar AS menipis. Padahal, KC-135 adalah “pengganda kekuatan” (force multiplier) yang memungkinkan jet tempur dan pembom tetap berada di udara dalam waktu lama.
Krisis ini memaksa Pentagon melakukan langkah ekstrem: mengaktifkan kembali pesawat-pesawat tua dari “The Boneyard” (kuburan pesawat) di Davis-Monthan AFB untuk segera dibawa ke bengkel di Tinker AFB.
