Site icon Jernih.co

Sinyal Pemulihan Jalur Energi Dunia, Lalu Lintas Tanker di Selat Hormuz Mulai Bangkit

JERNIH – Aktivitas pelayaran kapal tanker komoditas di Selat Hormuz—salah satu jalur urat nadi energi paling strategis di dunia—mulai merangkak naik sepanjang pekan lalu. Laporan ini memberikan angin segar bagi pasar energi global setelah lalu lintas di selat tersebut sempat anjlok ke titik terendah akibat pecahnya perang di Timur Tengah.

Berdasarkan data terbaru dari perusahaan pelacak maritim Kpler per Senin (18/5/2026), tercatat sebanyak 55 kapal komoditas berhasil melintasi selat tersebut dalam periode 11 hingga 17 Mei 2026. Angka ini kembali mendekati rata-rata mingguan sejak konflik bersenjata meletus.

Peningkatan menjadi 55 kapal ini menandai lonjakan yang sangat tajam jika dibandingkan dengan pekan sebelumnya. Pada pekan pertama Mei, hanya ada 19 kapal yang nekat melintas dan tercatat sebagai rekor terburuk. Angka 19 kapal tersebut merupakan rekor terendah sejak serangan pertama Amerika Serikat-Israel ke Iran pada 28 Februari lalu, yang seketika melumpuhkan jalur pelayaran internasional.

Meskipun melonjak, performa pekan lalu sebenarnya masih berada di koridor rata-rata masa perang. Sejak 1 Maret, Kpler mencatat total 663 kapal komoditas transit di Selat Hormuz, atau rata-rata 55 kapal per minggu.

Televisi negara Iran melaporkan bahwa Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) kini mulai melonggarkan ruang transit dan mengizinkan lebih banyak kapal untuk melintas, setelah sebelumnya mengonfirmasi telah meloloskan “lebih dari 30 kapal” dalam sehari.

Dari total 55 kapal yang berhasil menembus Selat Hormuz pekan lalu, sekitar separuhnya merupakan kapal tanker yang membawa komoditas cair (minyak mentah dan turunannya). Berikut rincian data dari Kpler:

Di masa damai, Selat Hormuz mengelola hampir seperlima dari total pengiriman minyak dan LNG global, serta komoditas penting lainnya seperti pupuk.

Aturan Main Baru Iran

Iran secara terbuka menegaskan bahwa situasi di Selat Hormuz “tidak akan pernah kembali ke status sebelum perang”. Otoritas Teheran resmi mengumumkan pembentukan badan baru yang bertugas mengawasi selat dan menarik tarif (pajak transit) bagi kapal-kapal yang melintasi wilayah tersebut.

Selain urusan tarif, lampu hijau untuk melintas sangat bergantung pada kewarganegaraan atau afiliasi kapal terhadap blok barat. Iran secara tegas menyatakan bahwa negara-negara yang mematuhi sanksi AS terhadap Republik Islam Iran akan menghadapi kesulitan besar untuk bisa melintasi selat. Sebaliknya, China dan India menjadi negara non-Teluk yang paling sering tercatat sebagai tujuan atau titik keberangkatan kapal komoditas yang lolos.

Pekan lalu, tercatat ada 3 kapal komoditas yang terikat langsung dengan China (baik dari bendera, kepemilikan, maupun kargo) serta 2 kapal tambahan berbendera Hong Kong yang berhasil menuju Oman dan UEA. Di sisi lain, data Kpler menunjukkan sangat sedikit kapal yang mencantumkan negara-negara Barat sebagai destinasi akhir mereka.

Kontrol ketat dan absolut Iran atas Selat Hormuz ini kini menjadi salah satu poin paling krusial sekaligus batu sandungan terbesar dalam negosiasi yang mandek antara Tehran dan Amerika Serikat.

Washington mendesak pembukaan jalur internasional secara bebas tanpa syarat, sementara Iran menjadikannya alat posisi tawar (leverage) politik tertinggi agar AS mencabut blokade ekonomi dan sanksi minyak mereka terlebih dahulu sebelum kesepakatan damai disetujui.

Exit mobile version