Ketika pergerakan sinyal GPS di Gunung Broad Peak sempat memberi harapan akan adanya keajaiban, alam pada akhirnya menyampaikan kepastian yang memilukan. Inilah rekaman detik-detik terhempasnya tim pendaki Nirmal Purja.
WWW.JERNIH.CO – Di pegunungan tertinggi di bumi, garis antara harapan dan kenyataan sering kali dipisahkan oleh tipisnya ketidakpastian sinyal teknologi. Ketika denyut pelacak GPS memberi asa di tengah sapuan longsor salju, alam pada akhirnya menyampaikan kepastian yang memilukan.
Dinamika pencarian pascamusibah longsor salju (avalanche) di Gunung Broad Peak sempat menyita perhatian komunitas pendaki internasional. Di tengah cuaca ekstrem dan medan yang mematikan, data pelacak GPS milik pendaki legendaris Nirmal “Nims” Purja menjadi petunjuk vital dalam mengurai detik-detik terjadinya bencana hingga menentukan arah operasi penyelamatan.
Berdasarkan analisis log telemetri sebelum insiden, perangkat GPS merekam alur pendakian yang sangat jelas. Terhitung ada 10 titik data berurutan yang mencatat pergerakan tim menanjak dari ketinggian 20.000 kaki (sekitar 6.096 meter) hingga berhasil melintasi koridor atas di kisaran 24.000 kaki (sekitar 7.315 meter). Lihat garis hijau.

Namun, ketika hempasan es dan salju skala besar menghantam jalur tersebut, pola pergerakan berubah seketika. Sinyal GPS mencatat pergeseran drastis, terseret turun secara mendadak sejauh hampir 4.500 kaki hingga terhenti di sektor 19.500 kaki (sekitar 5.943 meter). Titik henti ini menggambarkan betapa dahsyatnya daya dorong material avalanche yang menyapu bersih jalur pendakian beserta para pendakinya. Lihat garis merah.
Laporan pemantauan lapangan per 31 Juli 2026 sempat membawa gelombang harapan baru ketika alat pelacak milik Nirmal Purja dilaporkan kembali menunjukkan pergerakan tipis sekitar 10 meter dalam beberapa jam. Bagi keluarga dan publik internasional, sinyal ini sempat ditafsirkan sebagai pertanda kemungkinan adanya korban yang selamat dan berusaha bertahan hidup.
Namun, para pakar penyelamat gunung tinggi (SAR) dari awal telah memperingatkan agar tidak terburu-buru mengambil kesimpulan gembira. Pergerakan semu pada perangkat GPS di zona ekstrem tersebut kerap dipicu oleh fluktuasi sinyal satelit akibat pantulan dinding tebing es dan celah curam, pergeseran alami es dan puing longsoran yang membawa perangkat di dalamnya, serta disrupsi teknis akibat temperatur ekstrem sub-zero yang memicu glitch data.
Hingga tanggal 3 Agustus 2026, proses pemantauan dan evakuasi telah memasuki babak akhir dengan kabar duka yang pasti. Pada 1 Agustus 2026, agensi Elite Exped bersama Alpine Club of Pakistan (ACP) secara resmi mengonfirmasi bahwa seluruh 10 anggota tim pendaki dipastikan meninggal dunia, di mana pergerakan GPS yang sempat terdeteksi sebelumnya ditegaskan mutlak sebagai disfungsi teknis (glitch) dan pergeseran salju.
Dalam operasi darat yang melelahkan pada Minggu, 2 Agustus 2026, tim penyelamat yang bergerak sejak pukul 04.00 pagi berhasil mencapai lokasi jenazah Nirmal Purja di ketinggian 5.700 meter (18.700 kaki). Jenazah Nims Purja bersama tiga rekan pendaki lainnya berhasil dipindahkan dan dibawa turun menuju Camp 1 sebelum dievakuasi lebih lanjut ke sektor Concordia.
Sejumlah anggota ekspedisi lainnya yang berhasil dievakuasi ke Camp 1, Skardu, hingga Islamabad meliputi Pur Bahadur Gurung “Yukta”, Gyalu Sherpa, Kili Pemba Sherpa “Kilu”, Nima Sherpa, Wang Zhong asal Tiongkok, Nadhira Ahmed Abdullah Al Harthy asal Oman yang jenazahnya diterbangkan ke Islamabad, serta Mallory Geis asal Amerika Serikat.
Sementara itu, pendaki Nawang Thinduk Sherpa terkonfirmasi melalui pemantauan udara (drone) berada di lokasi yang sangat tinggi dan ekstrem, sehingga demi keselamatan tim penyelamat, pengambilan jenazahnya resmi dihentikan. Di sisi lain, tim pencari darat masih terus melakukan penyisiran di area puing longsoran untuk menemukan Sohail Sakhi asal Pakistan.
Operasi evakuasi darat yang teratur ini berhasil terlaksana berkat kepemimpinan para pendaki senior seperti Mingma Gyalje Sherpa (Mingma G), Dawa Sherpa, dan Sirbaz Khan, serta dukungan penuh helikopter militer Pakistan.
Sebagai bentuk penghormatan terakhir dan solidaritas yang mendalam, tim-tim ekspedisi yang berada di Gunung K2 yang berdampingan dengan Broad Peak memutuskan untuk menghentikan sementara upaya pembukaan jalur puncak mereka demi memfokuskan bantuan pada proses evakuasi ini. Komunitas pendaki dunia kini berduka, mengenang keberanian dan dedikasi Nirmal Purja beserta timnya yang telah mengukir sejarah panjang dalam dunia pendakian gunung tinggi.(*)
BACA JUGA: Akhir Sebuah Pengembaraan, Namaste Nimsdai Purja!