Akhir Sebuah Pengembaraan, Namaste Nimsdai Purja!

Di keheningan salju Broad Peak yang membeku, langkah sang pengembara akhirnya terhenti. Gunung yang dicintainya telah memanggilnya pulang ke keabadian.
WWW.JERNIH.CO – Dinginnya angin Pegunungan Karakoram di Pakistan membawa bisikan duka yang teramat dalam bagi dunia pendakian. Puncak Broad Peak, raksasa berdiri gagah setinggi 8.051 meter di atas permukaan laut, kini menjadi tempat peraduan terakhir bagi seorang legenda.
Nirmal “Nimsdai” Purja, pendaki keturunan Nepal-Inggris yang pernah membuktikan kepada dunia bahwa tidak ada hal yang mustahil, telah menyelesaikan pengembaraannya di bumi. Longsoran salju dahsyat pada hari Kamis menyapu langkahnya, menghentikan detak jantung sang penakluk langit di usia 43 tahun.
Kabar duka ini dikonfirmasi dengan “kesedihan yang amat mendalam dan kehancuran hati” oleh Elite Expeditions, perusahaan yang didirikannya. Dalam tragedi yang sama, 10 nyawa melayang—terdiri dari enam pendaki asal Nepal dan empat pendaki asing. Jasad tiga pendaki telah ditemukan, yakni Mallory Geis dari Amerika Serikat, Nadhira Ahmed Abdullah Al Harthy dari Oman, dan Pur Bahadur Gurung dari Nepal. Sang kakak, Kamal Purja, menyampaikan pesan perpisahan yang menyayat hati; “Dengan hati paling berat saya bagikan berita duka ini. Walau hati kami hancur, kami sangat bangga padamu. Warisanmu akan hidup selamanya. Kami akan merindukanmu setiap hari, adikku.”
Pendakian ke Broad Peak sebenarnya tidak ada dalam rencana awal Nimsdai. Dalam unggahan terakhirnya di platform X pada hari Senin (27 Juli 2026), ia mengungkapkan bahwa niat awalnya hanyalah mendaki Gasherbrum II (G2). Namun, sebuah bisikan takdir memanggilnya. Jika ia mampu menaklukkan Broad Peak, ia hanya menyisakan satu puncak lagi untuk mengukir sejarah sebagai manusia pertama yang menaklukkan seluruh 14 puncak gunung eight-thousanders (di atas 8.000 meter) sebanyak dua kali, tanpa oksigen tambahan.
“Ini tidak direncanakan,” tulis Nimsdai dengan kerendahan hati yang syahdu. “Namun kesempatan tidak berteriak: mereka berbisik kepada mereka yang bekerja dalam diam. Broad Peak, aku tidak meminta apa pun selain jalur yang aman untuk naik dan turun. Aku tidak pernah menganggap remeh gunung mana pun.”
Broad Peak, yang pertama kali ditaklukkan oleh ekspedisi Austria pada tahun 1957, dikenal sebagai salah satu jalur paling mematikan. Jalur ini telah menelan puluhan nyawa, termasuk tragedi kelam pada 2013 yang menewaskan sedikitnya enam pendaki.
Kali ini, bisikan alam di puncak itu tidak membawanya pulang ke rumahnya di Hampshire, Inggris—ke pelukan istri dan putri kecilnya yang baru berusia tiga tahun. Alam memanggilnya untuk tinggal selamanya.
Lahir di Nepal dan sempat mengabdi selama 16 tahun di militer Inggris—10 tahun di antaranya di pasukan khusus (Pasukan Khusus Gurkha)—Nimsdai adalah lambang keberanian sejati. Pada tahun 2019, ia memukau dunia saat berhasil mendaki 14 puncak tertinggi di dunia hanya dalam waktu 189 hari (enam bulan lebih sedikit), mematahkan rekor dunia sebelumnya dengan selisih lebih dari tujuh tahun. Dikenal secara global lewat dokumenter populer Netflix, “14 Peaks: Nothing Is Impossible”, ia pernah berpesan, “Ini adalah enam bulan yang menguras tenaga namun melembutkan hati. Saya berharap telah membuktikan bahwa apa pun itu mungkin jika ada tekad, keyakinan diri, dan positivitas.”
Duka atas kepergiannya bergema di seluruh penjuru dunia. Pangeran Wales menyatakan rasa sedih yang mendalam atas gugurnya pahlawan penerima penghargaan MBE dari Ratu Elizabeth II tersebut. Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah, menegaskan bahwa “sejarah keberanian, dedikasi, dan kontribusi mereka akan selalu menjadi inspirasi.” Senada dengan itu, Sekretaris Pertahanan Inggris, Wes Streeting, mengenang Nimsdai sebagai sosok inspiratif yang mengabdi dengan gemilang.
Kini, di antara hamparan salju abadi dan keheningan Karakoram, langkah kaki sang penjelajah telah terhenti. Nimsdai Purja tidak lagi memanjat untuk menggapai langit—ia telah menjadi bagian dari langit itu sendiri. (*)

