JERNIH — Kejaksaan dan tim penyidik antirasuah Irak kembali membongkar fakta mencengangkan dalam pusaran skandal mega korupsi minyak yang sedang mengguncang negara tersebut. Otoritas keamanan Bagdad mengonfirmasi telah menemukan uang tunai tambahan sebesar 14 miliar dinar Irak (sekitar USD 10 juta atau Rp158 miliar) yang sengaja dikubur dan disembunyikan di dalam lubang drainase saluran air hujan (storm drain).
Penemuan fantastis pada Kamis kemarin ini merupakan babak baru dari pengembangan kasus korupsi yang menyeret mantan Wakil Menteri Minyak Bidang Urusan Pengilangan, Adnan al-Jumaili, yang telah mendekam di sel tahanan sejak sebulan lalu.
Dewan Yudisial Agung Irak memaparkan bahwa uang ratusan miliar di saluran air tersebut terlacak setelah tim penyidik menelusuri aliran dana hitam dari berbagai proyek fiktif dan penggelembungan anggaran yang diawasi langsung oleh al-Jumaili.
Penemuan di dalam selokan ini menyusul penggeledahan mengerikan di rumah pribadi al-Jumaili yang berlokasi di Tikrit awal pekan ini. Di rumah tersebut, petugas menemukan uang tunai sebesar 25 miliar dinar Irak dan USD 1 juta. Sementara 5 kilogram perhiasan emas murni disembunyikan secara rapi di dalam botol-botol plastik bekas air mineral.
Hingga hari ini, total aset yang berhasil disita dari jaringan al-Jumaili telah menembus angka fantastis, yakni 127 miliar dinar Irak, USD 24 milliar, serta puluhan aset bergerak berupa properti mewah, mobil sport, dan batangan emas.
Skandal ini kian memanas dan merembet ke lingkaran elite politik Irak. Pada Rabu lalu, pasukan keamanan secara dramatis menangkap Hussein Talib, Direktur Jenderal Perusahaan Distribusi Produk Minyak milik negara.
Ironisnya, Talib diciduk hanya hitungan jam sebelum dirinya dijadwalkan mengucapkan sumpah jabatan sebagai anggota parlemen (MP) baru menggantikan posisi kader dari Aliansi Pasukan Negara pimpinan Ammar al-Hakim. Talib langsung digiring ke ruang interogasi darurat sebelum sempat memakai lencana parlemennya.
Sumber internal intelijen Irak membocorkan bahwa saat ini sudah ada lebih dari 50 orang yang dijebloskan ke penjara terkait skandal ini. Jaringan gurita korupsi ini meliputi belasan anggota parlemen aktif, pejabat teras Kementerian Minyak Irak dan mantan penasihat khusus pemerintah.
Aksi bersih-bersih ini dilaporkan meluas setelah al-Jumaili “bernyanyi” di depan penyidik dan membongkar nama-nama pejabat serta cukong yang terlibat dalam kontrak korup bersamanya. Saat ini, kepolisian Irak bekerja sama dengan Interpol sedang memburu dua pengusaha kakap, Hassan al-Kurdi dan Mohammed al-Kurdi, yang dilaporkan telah kabur ke luar negeri sambil menyelundupkan uang negara sebesar USD 500 juta (sekitar Rp7,9 triliun).
Mantan anggota parlemen Irak, Yasser al-Husseini, menegaskan kepada media bahwa gelombang penangkapan massal ini baru permulaan dari kampanye pembersihan korupsi struktural yang mengakar di negaranya.
“Publik Irak berdiri penuh mendukung kampanye ini. Jika gerakan ini sampai goyah atau tebang pilih, pemerintah saat ini akan kehilangan kepercayaan total dari rakyat. Pembersihan ini harus berlanjut sampai semua bajingan koruptor diadili, tanpa peduli apa afiliasi politik mereka,” tegas al-Husseini.
