JERNIH – Ketegangan geopolitik global mencapai titik didih baru pada Jumat (24/04/2026). Di saat Selat Hormuz masih lumpuh akibat kebuntuan Amerika Serikat-Iran, Somalia kini mengancam akan memblokir pelayaran Israel di Selat Bab al-Mandab. Pengumuman ini menciptakan skenario “penjepitan” dua jalur maritim vital yang menghubungkan Samudra Hindia, Laut Merah, dan Terusan Suez.
Pemerintah Somalia melalui Duta Besarnya untuk Ethiopia dan Uni Afrika, Abdullah Warfa, mengumumkan larangan bagi kapal-kapal Israel melewati Teluk Aden hingga pintu masuk Selat Bab al-Mandab. Langkah provokatif ini diambil sebagai respons atas keputusan Israel menunjuk duta besar untuk wilayah Somaliland—wilayah yang memisahkan diri dari Somalia namun tidak diakui secara internasional.
Meskipun kekuatan militer konvensional Somalia relatif lemah, pengamat mencatat bahwa Mogadishu bisa menjadi faktor pengubah permainan melalui penggunaan drone murah namun mematikan. Ekonom Yaman, Rashid al-Haddad, menilai Somalia tidak butuh kapal perang besar untuk mengganggu pelayaran.
“Senjata murah seperti drone dapat menimbulkan kerusakan senilai jutaan dolar. Jika AS atau Israel membalas, aliansi antara pemerintah Somalia dan kelompok Houthi di Yaman adalah ancaman nyata yang tidak bisa dikesampingkan,” ujar Al-Haddad.
Perintah ‘Tembak dan Bunuh’ di Selat Hormuz
Sementara itu, di sisi timur, Presiden AS Donald Trump meningkatkan retorikanya ke level tertinggi. Trump menyatakan telah memerintahkan militer AS untuk melakukan tindakan “tembak dan bunuh” (shoot and kill) terhadap kapal-kapal kecil Iran yang mencoba mengganggu atau memasang ranjau di Selat Hormuz.
“Selat ini tetap terkunci rapat hingga Iran mau membuat kesepakatan,” tegas Trump. Perintah ini keluar di tengah upaya AS mempertahankan kendali atas koridor pelayaran yang biasanya menampung 20% suplai minyak dunia tersebut.
Menanggapi klaim Trump mengenai adanya keretakan kepemimpinan di Teheran, Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf merilis pernyataan serempak. Mereka menegaskan bahwa tidak ada faksi “garis keras” atau “moderat” di Iran saat ini.
“Kita semua adalah warga Iran dan revolusioner,” tulis mereka. Sejak terbunuhnya Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei pada awal perang (28 Februari), Teheran berusaha menunjukkan wajah persatuan nasional yang solid di hadapan tekanan militer AS.
Dampak dari kebuntuan ini dirasakan langsung oleh industri pelayaran. Raksasa peti kemas Hapag-Lloyd melaporkan bahwa meskipun satu kapalnya berhasil melintas, empat kapal lainnya masih terjebak di Teluk Persia dengan sekitar 100 awak kapal di dalamnya.
Pihak perusahaan memastikan pasokan makanan dan air bagi para awak masih mencukupi, namun ketidakpastian kapan mereka bisa keluar dari “perangkap” Hormuz terus membayangi seiring belum adanya kesepakatan diplomatik antara Washington dan Teheran.
