JERNIH – Gempuran rudal balistik Iran dalam “Operation Epic Fury” benar-benar membakar cadangan pertahanan udara Washington. Laporan terbaru dari lembaga pemikir terkemuka Amerika Serikat, Center for Strategic and International Studies (CSIS), mengungkapkan fakta mengkhawatirkan: stok rudal pencegat Patriot AS telah merosot drastis hingga 67 persen, sementara sistem THAAD terkuras hampir separuhnya.
Kondisi ini menempatkan militer AS pada posisi rentan. Jika perang dengan Iran terus berlanjut atau memanas, Washington bakal terpaksa “berjudi” dalam memilih rudal mana yang harus dicegat dan mana yang dibiarkan lolos.
Analisis yang disusun oleh pakar pertahanan CSIS, Mark F. Cancian dan Chris H. Park, membeberkan kalkulasi angka yang menggentarkan. Sebelum perang meletus pada 27 Februari, AS diperkirakan memiliki sekitar 2.330 rudal pencegat Patriot. Per 27 Juli, angka tersebut merosot tajam menjadi hanya kisaran 759 hingga 827 unit—turun antara 64,5% hingga 67,4%. Artinya, Washington kini hanya menyisakan sekitar 32,5% dari total amunisi awalnya.
Sementara persediaan rudal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) juga tergerus berat. Dari stok awal 452 unit sebelum perang, kini tinggal tersisa sekitar 234 hingga 278 unit—menyusut 38,5% hingga 48,2%.
Laporan CSIS menegaskan bahwa kapal perang Angkatan Laut AS yang dilengkapi Standard Missiles tidak bisa diandalkan sebagai pengganti baterai Patriot dan THAAD di darat karena posisinya yang terlalu jauh dari zona lindung utama.
Kelangkaan rudal pertahanan udara ini tak hanya berdampak pada front Timur Tengah, tetapi juga mengancam kesiapan tempur AS di kawasan Indo-Pasifik. Jika konflik dengan China meletus di Pasifik Barat, sistem Patriot dan THAAD merupakan benteng vital untuk melindungi pangkalan-pangkalan militer AS dari gempuran rudal Beijing.
Dengan stok yang terlanjur kerontang akibat Perang Iran dan pasokan yang terus mengalir ke Ukraina, AS kini berada dalam jepitan strategis.
Untuk menutupi lubang besar ini, pentagon sampai harus mengajukan alokasi amunisi darurat senilai USD 95 miliar dalam anggaran pertahanan TA 2027, ditambah dana perang suplemen sebesar USD 21 miliar.
Krisis pasokan ini memaksa Pentagon mengabaikan tradisi lama pembelian amunisi tahunan. Washington kini memburu kontrak jangka panjang multi-tahun demi memberi kepastian bagi raksasa manufaktur seperti Lockheed Martin untuk meningkatkan kapasitas pabrik mereka.
Pentagon dilaporkan tengah menyiapkan mega-kontrak senilai total USD 136 miliar, yang mencakup paket Rudal Patriot senilai USD 59 miliar untuk pengadaan amunisi dan peningkatan produksi. (Sebagai catatan, satu unit rudal Patriot terbaru berharga sekitar USD 4 juta dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diproduksi).
Untuk sistem THAAD, negosiasi awal senilai USD 35 miliar dalam kontrak berdurasi tujuh tahun. Sementara terkait kapal selam nuklir telah terjadi kesepakatan USD 76,6 miliar untuk 14 unit kapal selam hingga 2038.
Namun, rencana ambisius ini masih tertahan di meja Kongres yang belum menyetujui pendanaannya secara penuh. Selagi anggaran masih diperdebatkan di Capitol Hill, militer AS di lapangan harus bersiap menghadapi kenyataan pahit: bertahan di Timur Tengah dengan sisa-sisa amunisi yang kian menipis.
