Site icon Jernih.co

Terungkap Strategi Keji Israel Menciptakan Bencana Kelaparan di Gaza

Ribuan warga Gaza tewas saat mencoba mengakses makanan, sebagian besar ditembak oleh penembak jitu Israel, yang lainnya tertimpa truk (Foto: Getty)

Laporan menyebutkan, sejak Mei 2025, lebih dari 1.300 orang tewas saat mencoba mendapatkan bantuan, ditembak oleh pasukan Israel dan kontraktor yang menggunakan amunisi tajam.

JERNIH – Sebuah laporan investigasi mengejutkan dari kelompok riset Forensic Architecture (FA) membongkar strategi militer Israel dalam menciptakan bencana kelaparan di Gaza. Dengan analisis spasial dan data terbuka, laporan ini menyimpulkan bahwa Israel sengaja menggunakan bantuan kemanusiaan sebagai senjata untuk mencapai tujuan militer dan politiknya.

Alih-alih menyalurkan bantuan, Israel memaksakan sistem distribusi yang mematikan. Warga Palestina harus menempuh perjalanan jauh dan berbahaya menuju pusat-pusat distribusi yang dikelola militer di zona tempur. Mirisnya, mereka justru ditembaki saat berusaha mendapatkan bantuan.

Laporan FA, mengutip Al Jazeera, kemarin mendokumentasikan serangkaian tindakan brutal seperti serangan berulang terhadap warga sipil yang mengantre bantuan serta penghancuran infrastruktur pangan, termasuk gudang makanan. Selain itu juga penjarahan bantuan oleh geng-geng yang didukung Israel.

Dari 400 Menjadi 4 Titik Bantuan Maut

Laporan ini mengungkap bahwa Israel telah membongkar sistem bantuan sipil yang dikelola PBB dan LSM. Sistem lama yang memiliki sekitar 400 titik distribusi di seluruh Gaza diganti dengan empat “mega-situs” yang dikontrol militer dan dijaga ketat kontraktor bersenjata.

Sejak akhir Mei, bantuan yang masuk sangat terbatas dan hanya didistribusikan melalui empat lokasi ini, yang semuanya berada di dalam zona tempur aktif. Akses ke sana sangat berbahaya dan penuh tantangan. Jadwal buka tidak menentu, sehingga stasiun bantuan seringkali hanya buka sebentar, kadang hanya beberapa menit, tanpa pemberitahuan sebelumnya. Warga juga harus mengantre melalui koridor sempit berpagar yang mirip jalur ternak.

Laporan menyebutkan, sejak Mei 2025, lebih dari 1.300 orang tewas saat mencoba mendapatkan bantuan, ditembak pasukan Israel dan kontraktor yang menggunakan amunisi tajam. Sementara ransuman yang diberikan kering dan tidak layak. Bantuan yang diberikan hanya berupa makanan kering minimal, tanpa air, sayuran, buah-buahan, atau protein yang esensial.

Menurut laporan FA, strategi ini memiliki tujuan ganda yakni membuat bantuan sulit dijangkau dan mematikan serta memaksa warga Palestina berpindah ke selatan. Penempatan empat titik bantuan di dekat perbatasan selatan mendorong warga untuk mengungsi, sejalan dengan rencana Israel untuk memindahkan penduduk Gaza.

Laporan ini juga menemukan adanya serangan terorganisir terhadap pekerja bantuan dan infrastruktur. Antara Maret hingga Agustus 2025, terjadi 64 insiden serangan terhadap warga sipil yang mencari bantuan. Juga ada 23 insiden penyerangan terhadap infrastruktur bantuan, termasuk dapur umum dan toko roti serta 9 insiden penyerangan terhadap polisi dan pekerja bantuan.

Famine (Bencana Kelaparan) akhirnya resmi dideklarasikan di Gaza utara pada 22 Agustus 2025. Menurut Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, setidaknya 303 orang telah meninggal karena kelaparan, 117 di antaranya adalah anak-anak. Lebih dari sepertiga korban tewas akibat kelaparan adalah anak-anak, yang tubuh dan otaknya sangat rentan terhadap malnutrisi.

Laporan ini menegaskan bahwa strategi Israel telah menghancurkan tatanan sosial di Gaza, memicu kekacauan, dan membiarkan warga sipil menghadapi pilihan yang mengerikan yakni risiko kematian untuk mendapatkan makanan atau mati kelaparan.

Exit mobile version