JERNIH – Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata dengan Iran telah berakhir (OVER). Menyikapi situasi darurat ini, para mediator regional langsung bergerak cepat; delegasi tingkat tinggi Qatar mendarat di Teheran pada Jumat malam, sementara Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, terbang ke Oman pada Sabtu (11/7/2026) hari ini.
Konfrontasi ini kembali membara setelah aksi saling serang pekan ini merobek Nota Kesepahaman (MoU) yang disepakati pertengahan Juni lalu, memicu kekhawatiran kembalinya perang skala penuh yang pertama kali pecah pada akhir Februari 2026 lewat serangan masif AS-Israel.
Melalui platform media sosialnya, Truth Social, Donald Trump mengonfirmasi bahwa Teheran sebenarnya meminta agar jalur komunikasi tetap dibuka. Namun, Trump membalasnya dengan pesan tanpa kompromi.
“Republik Islam Iran telah meminta kami untuk melanjutkan ‘pembicaraan’. Kami setuju untuk melakukannya, tetapi Amerika Serikat telah menyatakan kepada mereka secara tegas bahwa Gencatan Senjata telah BERAKHIR!” tulis Trump.
Tak lama berselang, Trump menaikkan tensi ancamannya secara ekstrem. Ia bersumpah akan “menghancurkan total” (completely decimate) Iran jika negara tersebut terbukti mencoba melakukan rencana pembunuhan terhadap dirinya.
Di balik perang kata-kata tersebut, akar konflik utama di meja perundingan tetap tertuju pada kontrol Selat Hormuz. Iran yang menutup jalur komersial global ini sejak awal perang, bersikeras menetapkan tarif masuk dan memegang kendali penuh atas kapal yang melintas. Sebaliknya, Washington menegaskan Hormuz adalah perairan internasional bebas biaya.
Berdasarkan bocoran dokumen dari Axios dan Politico, Washington dilaporkan telah memberikan ultimatum keras kepada Teheran dengan tenggat waktu hingga hari Sabtu ini untuk menghentikan seluruh serangan terhadap kapal komersial yang transit di Hormuz dan mengakui secara resmi bahwa jalur pelayaran internasional tersebut telah dibuka kembali.
Ketegangan minggu ini sendiri dipicu setelah Iran dituduh menembak tiga kapal tanker yang diklaim menyimpang dari rute resmi. Imbasnya, Pentagon meluncurkan serangan udara brutal yang menghantam 90 target di seluruh Iran, menewaskan 17 orang dan melukai 115 lainnya berdasarkan rilis Kementerian Kesehatan Teheran pada Sabtu ini. Serangan itu juga memicu aksi balasan Iran ke beberapa negara Teluk sekutu AS yang menampung pangkalan militer Amerika.
Dari Muscat, Menlu Iran Abbas Araghchi melemparkan serangan balik diplomatik. Ia menegaskan bahwa Teheran selalu menepati janji, berbeda dengan Departemen Keuangan AS yang secara sepihak mencabut pelonggaran sanksi minyak Iran yang baru diumumkan Juni lalu—padahal izin tersebut harusnya berlaku hingga 21 Agustus.
Berdasarkan Poin 9 dokumen MoU, AS dilarang keras menjatuhkan sanksi baru atau menambah pasukan di kawasan selama proses negosiasi final berjalan. “Pelanggaran itu menyusul kesalahan langkah lainnya oleh AS. Fakta lapangannya: kepatuhan itu harus bersifat timbal balik (mutual compliance),” tegas Araghchi di Oman.
Meskipun Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif telah menelepon Presiden Iran Masoud Pezeshkian untuk meminta agar “perdamaian yang diraih dengan susah payah” ini dijaga, Kepala Negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, justru melempar nada menantang melalui kantor berita ISNA.
“Mengakhiri perang adalah prioritas dunia, tetapi semua orang harus tahu bahwa konfrontasi ini tidak akan pernah berakhir dengan menyerahnya Iran. Kami sepenuhnya siap mempertahankan diri,” cetus Ghalibaf tegas.
