JERNIH — Dunia internasional hari ini berada di ambang perang terbuka setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara mengejutkan mengumumkan bahwa kesepakatan gencatan senjata dengan Iran telah resmi berakhir (over). Pengumuman fatal ini disampaikan Trump di sela-sela KTT NATO yang berlangsung di Turki pada Rabu (8/7/2026), tepat saat militer kedua negara terlibat baku hantam udara yang masif.
Trump dengan tegas menutup pintu diplomasi dan menyatakan tidak ada gunanya lagi bernegosiasi dengan Teheran setelah serangkaian aksi saling serang dalam beberapa waktu terakhir. AS mengklaim langkah ini diambil bersamaan dengan keputusan sepihak Washington untuk kembali memberlakukan sanksi penuh terhadap minyak Iran.
Situasi di lapangan bergerak sangat cepat sejak Rabu dini hari. Komando Pusat AS (CENTCOM) meluncurkan gelombang “serangan kuat” yang menghantam sejumlah titik strategis di wilayah pesisir Provinsi Hormozgan dan Khuzestan, Iran.
Media lokal Iran melaporkan rentetan ledakan besar mengguncang beberapa wilayah. Enam ledakan dahsyat terdengar di pinggiran desa luar Qeshm, melumpuhkan fasilitas pesisir. Tujuh hantaman rudal juga menghancurkan dermaga komersial dan pelabuhan perikanan di desa Tahrovi, menyebabkan sejumlah warga sipil terluka parah akibat serpihan ledakan (shrapnel). Serangan udara AS juga membakar habis dermaga dan puluhan kapal nelayan setempat di Bandar Abbas.
Iran tidak tinggal diam. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) langsung meluncurkan operasi balasan kilat berskala besar. Menggunakan kombinasi unit penyerang udara dan laut, IRGC mengklaim telah menggempur 85 titik militer utama milik AS di kawasan Teluk.
Operasi rudal dan drone gabungan Iran tersebut berhasil menghantam Pelabuhan Salman, wilayah Angkatan Laut Kelima AS di Bahrain, serta Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait. Dalam kekacauan tersebut, sistem pertahanan udara Iran juga dilaporkan berhasil menembak jatuh satu unit pesawat tanpa awak (drone) canggih Amerika jenis MQ-9 Reaper yang mencoba menginterupsi jalannya serangan balasan.
Alih-alih meredakan situasi, Trump justru melempar bom diplomatik baru saat menggelar konferensi pers bersama Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. Trump meluapkan kekesalannya kepada sekutu-sekutu transatlantiknya di NATO yang dinilai tidak berguna dan enggan membantu AS menghadapi Iran, yang ia sebut sebagai negara sponsor teror nomor satu di dunia.
Sentimen lama Trump soal ambisinya mencaplok Greenland dari Denmark kembali mencuat ke permukaan. Trump mengklaim bahwa Greenland seharusnya berada di bawah kendali AS, bukan Denmark, karena wilayah strategis itu kini sudah mulai dikepung oleh kapal-kapal militer Rusia dan China.
Trump bahkan mengancam akan menarik seluruh tentara AS keluar dari Eropa jika para sekutu NATO terus menolak bekerja sama. Menurutnya, Eropa saat ini sudah jauh berbeda dibanding 20 tahun lalu, dan AS tidak sudi lagi membuang ratusan miliar dolar demi melindungi negara-negara yang tidak mau balik mendukung Washington.
Di antara seluruh sekutu NATO, Spanyol menerima hantaman paling keras dari retorika Trump di Ankara. Trump secara terbuka melabeli Spanyol sebagai “mitra yang buruk” di dalam pakta pertahanan NATO dan menyebut negara Eropa tersebut sebagai tujuan yang sia-sia (wasted cause).
Sebagai tindakan nyata, Trump menyatakan telah memerintahkan Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, untuk mengambil langkah ekstrem: memutus seluruh hubungan perdagangan dengan Spanyol.
“Kami tidak ingin melakukan bisnis atau perdagangan apa pun lagi dengan Spanyol. Mengapa kita harus menghabiskan uang ratusan miliar dolar untuk mereka, sementara mereka tidak pernah ada saat kita membutuhkan mereka?” tegas Trump di hadapan para jurnalis di Ankara.
