Site icon Jernih.co

Trump Tegur Keras Netanyahu di KTT G7: Jangan Hancurkan Gedung Apartemen Hanya untuk Mencari Satu Orang

Donald Trump dan Benjamin Netanyahu berjabat tangan di Museum Israel di Yerusalem pada 2017. (Foto: Ronen Zvulun/Reuters)

JERNIH — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyampaikan kritik publik yang sangat jarang terjadi terhadap taktik militer Israel di Lebanon. Trump menegaskan bahwa jet tempur Israel tidak boleh membom seluruh bangunan apartemen tempat tinggal warga sipil hanya dengan alasan memburu milisi Hizbullah.

Pernyataan menohok itu disampaikan Trump di sela-sela KTT G7 di Evian, Prancis, pada Selasa (16/06/2026). Trump menilai jumlah korban jiwa warga sipil sudah terlalu banyak dan mendesak Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk bertindak lebih bertanggung jawab.

“Anda tidak harus menghancurkan sebuah gedung apartemen setiap kali Anda mencari seseorang. Ada banyak orang di dalam gedung-gedung itu, dan mereka semua bukanlah Hizbullah!” tegas Trump blak-blakan di depan para pemimpin dunia.

Teguran terbuka ini mencerminkan puncak frustrasi Washington terhadap Netanyahu. Trump menilai rentetan serangan udara Israel di Beirut sengaja digulirkan untuk menyabotase Nota Kesepahaman (MoU) damai AS-Iran yang dijadwalkan akan ditandatangani pada hari Jumat ini. Trump bahkan menyebut operasi militer Israel di Lebanon sudah berjalan “jauh lebih lama dari yang diperlukan.”

Meskipun mengklaim masih memiliki “hubungan yang hebat” dengan Netanyahu, Trump langsung mengeluarkan pernyataan super keras untuk mengingatkan Tel Aviv siapa penyokong utama mereka selama ini.

“Tanpa kita, tanpa Amerika Serikat, tidak akan ada Israel. Dan tanpa saya, tidak akan ada Israel! Karena tidak ada presiden lain yang bersedia melakukan apa yang telah saya lakukan untuk mereka,” deklarasi Trump dengan pongah.

Berdasarkan draf dokumen kesepakatan AS-Iran yang bocor ke CNN, perjanjian tersebut menuntut “penghentian perang secara segera dan permanen di semua lini, termasuk Lebanon,” serta mengikat semua pihak untuk menahan diri dari konflik bersenjata selama negosiasi jangka panjang berjalan.

Israel Melawan

Reaksi keras Trump langsung memicu perlawanan sengit dari kabinet sayap kanan Israel. Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, dengan tegas menolak mentah-mentah tuntutan AS untuk menarik pasukan dari Lebanon Selatan, baik sebelum hari Jumat maupun setelahnya.

“Israel tidak akan tunduk pada dikte pihak luar! Kampanye militer di Lebanon akan terus berlanjut tanpa kompromi, dan tidak akan ada penarikan mundur pasukan dari Lebanon Selatan, tidak pada hari Jumat, dan tidak juga setelah hari Jumat,” ujar Smotrich secara menantang saat diwawancarai Channel 14 Israel.

Sikap pembangkangan ini senada dengan pernyataan PM Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Israel Katz yang sebelumnya juga bersumpah akan mempertahankan pendudukan militer mereka di Lebanon Selatan, Jalur Gaza, dan Suriah tanpa batasan waktu.

Media-media Israel menggambarkan situasi ini sebagai “keretakan historis” (major rupture) dalam hubungan Washington-Tel Aviv, di mana Israel merasa dikhianati dan dipinggirkan oleh keputusan sepihak AS yang memilih berdamai dengan Iran.

Kontras dengan seruan damai Trump, militer Israel justru terus mengganas di lapangan. Pada hari Selasa (16/6/2026), serangan udara beruntun melanda wilayah Lebanon Selatan. Sebuah drone Israel menghantam dua mobil di kota Mayfadoun (distrik Nabatieh). Tak lama kemudian, mobil ketiga dihantam di wilayah Choukine. Rentetan serangan ke tiga mobil ini menewaskan sedikitnya 4 orang.

Serangan udara dan tembakan artileri berat juga dilaporkan menghantam wilayah Nabatieh al-Fawqa, Ansariyeh (distrik Sidon), Kfar Tebnit, hingga perbukitan Ali al-Taher.

Berdasarkan data resmi Kementerian Kesehatan Lebanon per Juni 2026) tercatat 3.826 jiwa gugur akibat agresi militer Israel sejak 2 Maret lalu.  Sementara 11.851 orang mengalami luka-luka akibat hantaman bom dan artileri.

Exit mobile version