Site icon Jernih.co

Ini Makna Magis Selebrasi Viral ‘Viking Row’ Tim Erling Haaland di Piala Dunia 2026

Foto: Instagram @Herrelandslaget

JERNIH — Timnas Norwegia benar-benar tahu cara merayakan kebangkitan mereka di panggung sepak bola dunia. Setelah sukses menyegel tiket fase gugur Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 28 tahun silam (terakhir pada 1998), Martin Odegaard dan kawan-kawan langsung mengguncang jagat maya lewat aksi selebrasi ikonik bertajuk “Viking Row”.

Momen magis itu meledak sesaat setelah peluit panjang ditiupkan dalam laga sengit kontra Senegal yang berakhir dengan kemenangan tipis Norwegia 3-2. Dipimpin oleh sang kapten Martin Odegaard dan monster gol Erling Haaland, seluruh penggawa Norwegia tiba-tiba duduk berbaris rapi di atas rumput lapangan. Secara serempak, mereka menggerakkan tubuh maju-mundur memperagakan gerakan mendayung kapal perang, tepat di hadapan ribuan suporter mereka yang bergemuruh di tribun.

Selebrasi “Viking Row” ini bukan sekadar koreografi spontan untuk konten media sosial. Menurut badan promosi pariwisata resmi Norwegia, Visit Norway, gerakan mendayung massal ini berakar kuat dari sejarah emas leluhur mereka, bangsa Viking.

Pada masa lampau, bangsa Viking mengarungi samudra, melakukan perdagangan, dan menjelajahi belahan dunia menggunakan kapal panjang legendaris mereka yang disebut longship. Kapal ini digerakkan oleh kayuhan dayung yang kompak, disiplin, dan bertenaga dari para awaknya.

Oleh karena itu, ketika Haaland cs memperagakan gerakan mendayung di lapangan hijau, mereka sedang merepresentasikan kapal longship Viking yang sedang melaju menerjang badai—sebuah simbol kolektif tentang kerja keras, kerja sama tim, dan ambisi untuk menaklukkan panggung dunia.

Seiring dengan performa impresif Norwegia yang belum terkalahkan di Piala Dunia 2026, selebrasi ini langsung bertransformasi menjadi fenomena budaya baru.

Demam mendayung massal ini tidak hanya terjadi di dalam stadion. Ribuan suporter beratribut merah-biru kedapatan melakukan aksi “Viking Row” di berbagai sudut kota di Amerika Serikat—mulai dari kawasan fan zone, jalanan protokol, hingga ruang publik terbuka—sambil menyanyikan yel-yel penyemangat bertema Skandinavia. Rekaman video aksi kolektif ini langsung banjir jutaan views di platform digital dan menuai decak kagum dari pencinta sepak bola global.

Fenomena “Viking Row” terasa kian emosional karena berkelindan dengan momentum pembuktian generasi emas Norwegia. Setelah absen hampir tiga dekade dari turnamen paling bergengsi di bumi, mereka kembali dengan status tim kuda hitam yang mematikan.

Di bawah komando duet maut Odegaard dan Haaland, skuat Skandinavia ini tampil mengamuk di fase grup. Di laga pertama membantai Irak dengan skor telak 4-1 kemudian di laga kedua menundukkan ketangguhan Senegal lewat drama 5 gol yang berakhir 3-2.

Dua kemenangan beruntun ini mengunci posisi Norwegia di babak 16 besar dengan poin sempurna. Bagi publik Norwegia, tiap kayuhan lengan mereka dalam selebrasi “Viking Row” adalah penegasan identitas: bahwa sang raksasa dari utara telah bangun dari tidur panjangnya, dan mereka siap mendayung kapal perang mereka sejauh mungkin di turnamen ini.

Exit mobile version