Site icon Jernih.co

Pasang Badan untuk Infantino, Trump: Mengganti Presiden FIFA Adalah Kesalahan Besar

Trump memegang bola sepak dengan Gianni Infantino di Ruang Oval, pada 7 Maret 2025

JERNIH – Presiden Amerika Serikat Donald Trump melayangkan pembelaan terbuka kepada Presiden FIFA, Gianni Infantino, yang kini tengah dihantam gelombang desakan mundur. Kritik keras mengarah kepada Infantino setelah bocornya rencana privatisasi parsial Piala Dunia kepada investor swasta pada 28 Juli lalu.

Langkah ini menjadi kali pertama Trump pasang badan untuk pemimpin tertinggi sepak bola dunia tersebut sejak skandal investasi swasta mencuat ke publik. Pernyataan Trump muncul di tengah memanasnya tekanan dari tiga konfederasi besar—UEFA (Eropa), CONCACAF (Amerika Utara, Tengah, dan Karibia), serta AFC (Asia). Ketiganya menandatangani surat terbuka bersama yang menuding Infantino telah merusak kepercayaan publik dan komunitas sepak bola global melalui “perbuatan licik”.

Kendati demikian, Trump—yang sempat dianugerahi “FIFA Peace Prize” oleh Infantino pada upacara pengundian Piala Dunia tahun lalu—secara tegas menyatakan dukungannya. “FIFA akan membuat kesalahan yang sangat besar jika, atas alasan apa pun, mereka bahkan mempertimbangkan untuk mengganti Presiden Gianni Infantino,” tulis Trump melalui platform akun media sosial miliknya, Truth Social.

Trump memuji kinerja pria berusia 56 tahun tersebut dan menilai bahwa di bawah kepemimpinannya, FIFA berhasil menyelenggarakan Piala Dunia paling sukses dalam sejarah. “Jika dia pergi, FIFA tidak akan pernah sesukses atau seuntung ini lagi!” tambah Trump, yang turut hadir mendampingi Infantino pada laga final Piala Dunia bulan lalu.

Langkah Trump ini menempatkannya pada posisi berseberangan dengan federasi sepak bola negaranya sendiri, US Soccer, yang justru memilih bergabung dengan barisan oposisi yang menuntut pertanggungjawaban Infantino.

Gelombang perlawanan terhadap Infantino bermula ketika rencana untuk memasukkan investasi swasta ke dalam kompetisi utama FIFA—termasuk Piala Dunia—terbongkar. Walau Infantino akhirnya menarik kembali proposal tersebut akibat kritik tajam, gejolak di internal organisasi tidak lantas mereda.

UEFA, CONCACAF, dan AFC merilis pernyataan keras yang mengkritik kepemimpinan otoriter sang Presiden FIFA. “Kepemimpinan dalam sepak bola bukanlah barang kepemilikan pribadi. Ini bukan tentang menggenggam—atau menuntut—kekuasaan untuk dipertahankan. Ketika kepercayaan dirusak oleh kecurangan, dan ketika seorang individu menempatkan dirinya di atas kolektif yang memberinya wewenang, maka kewajiban itu telah diabaikan,” tegas pernyataan bersama ketiga konfederasi tersebut.

UEFA sebelumnya bahkan mengancam akan melakukan boikot terhadap seluruh turnamen FIFA, termasuk Piala Dunia, jika rencana privatisasi tersebut tetap dilanjutkan. UEFA mengecam proposal itu sebagai “kesepakatan belakang layar yang kumal dan tidak transparan.”

Krisis ini secara mendasar mengubah peta politik jelang Kongres FIFA pada Maret 2027 mendatang, yang agenda utamanya adalah pemilihan Presiden FIFA untuk masa jabatan keempat sekaligus terakhir. Batas akhir pendaftaran calon Presiden FIFA ditetapkan pada 18 November.

Sebelum skandal ini mencuat, Infantino yang telah menjabat selama 10 tahun diprediksi bakal melenggang tanpa oposisi berarti. Namun kini, Presiden CONCACAF, Victor Montagliani, mencuat sebagai figur potensial yang siap menantang Infantino.

Tiga konfederasi penentang menepis hasil rapat darurat Direksi FIFA di Maroko pekan lalu yang mengklaim memberikan “dukungan penuh” kepada Infantino. Mereka menilai pertemuan terbatas tersebut merupakan pola lama yang menutup pintu transparansi.

“Pertumbuhan sepak bola selama dekade terakhir adalah hal nyata, tetapi kemajuan itu bukanlah hasil kerja satu orang semata. Itu adalah buah kerja sama FIFA, Konfederasi, Asosiasi Anggota, dan ribuan orang yang mendedikasikan hidupnya untuk olahraga ini,” bunyi surat terbuka tersebut.

“Di bawah kepemimpinan Infantino, ada keheningan di mana seharusnya ada akuntabilitas, dan ada jarak di mana seharusnya ada keterbukaan. Itulah mengapa kami mengambil sikap ini: demi tugas kami terhadap olahraga yang kami layani. Kekuatan sepak bola selalu terletak pada persatuannya.”

Exit mobile version